Fri,14 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Kearifan Masyarakat Dayak Pitap Menjaga Hutan Meratus

Kearifan Masyarakat Dayak Pitap Menjaga Hutan Meratus

kearifan-masyarakat-dayak-pitap-menjaga-hutan-meratus
Kearifan Masyarakat Dayak Pitap Menjaga Hutan Meratus
service

Bagi masyarakat Dayak Pitap di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, berladang bukan sekadar cara mendapatkan makanan. Kegiatan ini merupakan tradisi yang menghubungkan manusia dengan alam, Tuhan, dan leluhur. Karena itu, setiap tahap berladang memiliki aturan dan ritual tersendiri. Padi menempati posisi penting. Bagi Dayak Pitap, padi dianggap sakral dan dipercaya sebagai karunia Sang Pencipta untuk kemakmuran manusia. Hampir setiap keluarga menjalankan tradisi behuma atau berladang. Mereka yang tidak dapat melakukannya karena alasan tertentu harus menjalankan ritual adat. Sebelum membuka ladang, masyarakat terlebih dahulu mencari lahan yang dianggap subur. Sebagian rumput dibersihkan, kemudian dibuat sangkar dari pohon mahang dan akar kayu. Dalam prosesi batirau, seorang balian atau tokoh spiritual mengambil segumpal tanah dari lokasi tersebut. Tanah dibacakan mantra, dibawa pulang, lalu diletakkan di bawah bantal. Mimpi yang muncul dipercaya menjadi petunjuk apakah tempat tersebut baik untuk dijadikan ladang. Jika mendapat pertanda buruk, masyarakat akan mencari lokasi lain. Setelah lokasi ditentukan, dimulailah betabas, betilah, dan betabang: membersihkan tumbuhan, menebang bambu, dan menebang pohon. Ketiganya tidak dilakukan bersamaan. Setelah itu, kayu dibiarkan selama puluhan hari sebelum dibakar dalam proses menyelukut. Pembakaran memiliki aturan. Masyarakat memperhatikan cuaca dan arah angin, membuat sekat bakar, serta menjaga api bersama-sama agar tidak merembet. Jika api sampai membakar lahan orang lain, pelakunya harus membayar sanksi adat. Abu hasil pembakaran kemudian digunakan sebagai pupuk alami. Tahap berikutnya adalah manugal, yaitu menanam padi secara gotong royong. Laki-laki membuat lubang menggunakan kayu berujung lancip, sementara perempuan memasukkan benih. Prosesi ini disertai sesajen dan pembacaan mantra oleh balian. Ketika padi mulai bertunas dan…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.