Bea Cukai Tanjung Perak, Surabaya dan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur (Jatim) menyita 3,4 ton merkuri senilai Rp17,5 miliar, Jumat (24/7/26). Merkuri ini akan mereka bawa ke Burkina Faso, Afrika Barat. Dalam aksinya, pelaku menyembunyikan cairan kimia itu di antara tumpukan karton keramik. “Hasil analisis intelijen dan ada ketidaksesuaian antara dokumen dengan bobot kontainer,” kata Agus Cahyono, Kepala Bea Cukai Tanjung Perak, Senin (10/8/26). Kecurigaan petugas makin kuat setelah dipindai dengan x ray, terdeteksi ada botol di antara tumpukan karton keramik. Pelaku menggunakan modus concealment, yakni, menyembunyikan merkuri cair di dalam botol plastik dan jeriken di sela-sela palet keramik. Kemudian mereka lapisi aluminium foil agar sulit terdeteksi mesin pemindai. Dari pemeriksaan terhadap isi kontainer berkapasitas 20 feet itu, petugas temukan ketidaksesuaian antara dokumen ekspor dengan isi kontainer. Dokumen ekspor menyatakan, muatan berupa 900 karton keramik dengan berat 11.000 kilogram. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan 826 karton. Selain itu, petugas juga temukan 251 botol plastik dan 71 jeriken berisi cairan berwarna perak (silver) yang tersembunyi di dalam palet keramik dengan berlapis aluminium foil. Bea Cukai mengecek cairan di dalam botol dan jeriken ke Balai Laboratorium Bea Cukai Surabaya. Hasilnya, cairan itu ternyata merkuri. Berdasarkan dokumen ekspor, barang akan pelaku kirim ke Burkina Faso, salah satu negara penghasil emas. Kuat dugaan, merkuri jadi sebagai bahan pendukung aktivitas pertambangan emas di negara yang menempatkan sektor pertambangan sebagai penyumbang utama nilai ekspor nasional itu. Merkuri yang dikemas dalam botol bekas air kemasan. Foto: Bea Cukai Tanjung Perak, Surabaya. Rusman Hadi, Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai…This article was originally published on Mongabay
Kasus Penyelundupan Merkuri Lewat Tanjung Perak ke Afrika, Usut sampai ke Akarnya
Kasus Penyelundupan Merkuri Lewat Tanjung Perak ke Afrika, Usut sampai ke Akarnya





Comments are closed.