Sampah alat penangkapan ikan (API) merupakan ancaman laut Indonesia, selain sampah plastik. Sampah yang dikenal dengan sebutan Abandoned, Lost, or otherwise Discarded Fishing Gear atau Alat Tangkap yang Ditinggalkan, Hilang, atau Dibuang (ALDFG) ini, dinilai sudah membahayakan ekosistem laut. Hanif Arzaq, Indonesia Plastics Project Coordinator dari Environmental Justice Foundation (EJF) Indonesia, menyebut pengelolaan sampah yang disebut ghost gear itu menjadi tantangan berat. “ Bukan hanya karena pengelolaannya yang belum ideal, namun juga pelaku usaha perikanan didominasi nelayan skala kecil dan tradisional,” jelasnya, Jumat (7/8/26). Merujuk data KKP pada 2024, nelayan kecil jumlahnya mencapai 90 persen atau sekitar 2,91 juta orang. Sementara, nelayan kategori bukan skala kecil sekitar 323 ribu orang. Bank Dunia sudah menetapkan gilnet nomor satu dan purse seine nomor dua sebagai API yang berbahaya dan bisa menjadi ALDFG. Indonesia pemakai gilnet sangat besar. Nelayan kecil dan tradisional biasa menggunakannya untuk menangkap rajungan yang memiliki karakteristik cangkang yang sangat keras. “Potensi menjadi sampah ALDFG juga semakin tinggi.” Nelayan tradisional Aceh tunduk pada aturan adat laut yang dipimpin Panglima Laot. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Jaring insang Gilnet yang digunakan nelayan kecil dan tradisional di Indonesia bentuknya berupa jaring insang dan cocok untuk kapal kecil di bawah 5 gros ton (GT). Cara kerjanya, ikan berenang masuk ke mata jaring dan tertahan/terjerat di bagian insang atau tubuhnya. Gilnet biasanya ditebar manual dari kapal, dengan ukuran menyesuaikan target ikan. Jaring dibentangkan memanjang seperti dinding vertikal, dengan bagian atas mengapung, sedangkan bagian bawah diberi pemberat sehingga berdiri tegak. Biasanya, targetnya rajungan dan tongkol. “Untuk…This article was originally published on Mongabay
Sampah Alat Tangkap Ikan Bahayakan Ekosistem Laut Indonesia
Sampah Alat Tangkap Ikan Bahayakan Ekosistem Laut Indonesia





Comments are closed.