Mubadalah.id – Tulisan ini merupakan hasil refleksi yang saya lakukan selama 8 tahun mengampu mata kuliah Sejarah Peradaban Islam. Sepanjang saya membaca referensi buku-buku sejarah, nama laki laki sangat mendominasi daripada perempuan. Baik dalam hal pemimpinan, tokoh intelektual, taktik perang, maupun negosiator politi.
Khawatir referensi saya yang ternyata terbatas, di tiap sub bab pembahasan, saya menyisipkan tokoh perempuan di setiap periode sejarah. Saya berharap, mahasiswa mampu menemukan referensi yang memuat informasi tersebut.
Menariknya, pada masa awal Islam, perempuan cukup banyak tercatat riwayatnya. Dalam generasi sahabat Nabi, misalnya, terdapat ratusan bahkan lebih dari seribu perempuan yang tersebut dalam berbagai sumber. Di era tersebut, perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah Islam. Khadijah binti Khuwailid, misalnya, adalah pendukung utama dakwah Islam di masa awal. Aisyah binti Abu Bakar terkenal sebagai ulama besar dan perawi hadis. Namun, jumlah ini menurun drastis pada generasi berikutnya.
Beberapa nama sempat muncul di abad pertengahan seperti Syajarat ad-Durr yang pernah memimpin Mesir. Dalam dunia spiritual, nama Rabi’ah al-Adawiyah menjadi ikon penting dalam tradisi tasawuf. Namun nama tokoh yang disebutkan mayoritas bersifat repetisi.
Banyak penulis yang mengangkatnya, namun dengan menampilkan tokoh yang sama. Dan setiap memasuki diskusi tentang abad pertengahan, mayoritas mahasiswa menanyakan “referensinya apa bu?”. Pertanyaan yang saya sendiri masih berusaha menemukan jawabannya, karena saya secara pribadi juga mengalami kesulitan dalam menemukan referensi.
Androcentrism dalam penulisan Historiografi
Hasil refleksi di atas, membawa saya kedalam satu kesimpulan bahwa masalahnya bukan pada kurangnya peran tokoh perempuan dalam sejarah, tetapi pada bagaimana cara sejarah tertulis. Ada kecenderungan yang kita sebut sebagai androcentrism dalam penulisan historiografi, yaitu sudut pandang yang menempatkan laki-laki sebagai pusat cerita. Akibatnya, hal-hal yang kita anggap penting dalam sejarah seperti politik, kekuasaan, perang, dan ekonomi menjadi ranah maskulin di mana sejak lama laki-laki yang mendominasi.
Sementara itu, aktivitas perempuan yang sering kali berada di ranah domestik, seperti mengurus keluarga, mendidik anak, atau mengelola rumah tangga, dianggap “an historis”. Meskipun peran tersebut berkontribusi besar dalam membentuk masyarakat, namun bukan bagian dari kategori peristiwa besar sehingga terasa kurang penting untuk tercatat. Akibatnya, pengalaman perempuan terabaikan dalam peristiwa sejarah.
Menurut Didin Saepudin dalam artikel yang berjudul Women inj Islamic Historiography and History, absennya tokoh perempuan dalam sejarah Islam penyebabnya karena adanya kesalahpahaman mendasar tentang dunia perempuan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan perempuan dianggap sebagai urusan privat, sedangkan ilmu pengetahuan dan aktivitas politik adalah urusan publik dan mutlak kita maknai sebagai wilayah laki-laki.
Cara pandang ini berpengaruh besar terhadap proses penulisan sejarah. Para sejarawan cenderung mencari sumber dari dokumen-dokumen publik, seperti arsip pemerintahan, catatan politik, atau laporan ekonomi yang mayoritas lebih banyak merekam aktivitas laki-laki.
Bukan Tidak Ada, Hanya Tidak Ditulis
Sebagaimana sudah saya sampaikan di awal pembuka tulisan, bahwa masalah lain yang tidak kalah penting adalah keterbatasan sumber. Dalam banyak dokumen sejarah klasik, perempuan sering kali tidak tersebutkan secara jelas.
Mereka hanya muncul sebagai pelengkap laki-laki seperti istri dari Fulan, anak dari Fulan, atau bahkan sekadar disebut seorang perempuan. Hal ini membuat sulit bagi sejarawan untuk merekonstruksi peran dan kehidupan perempuan secara utuh. Tanpa data yang memadai, perempuan akhirnya terpinggirkan dalam narasi sejarah.
Dalam tradisi Islam sendiri sebenarnya terdapat genre penulisan biografi ulama yang terkenal sebagai tarajim. Melalui karya ini, kita bisa mengetahui latar belakang, pendidikan, hingga karya para tokoh. Namun sekali lagi, sebagian besar tokoh yang tercatat adalah laki-laki. Informasi tentang perempuan jauh lebih sedikit. Di beberapa wilayah, seperti Indonesia, tradisi penulisan semacam ini bahkan tidak berkembang secara kuat, sehingga semakin mempersempit peluang untuk melacak jejak perempuan dalam sejarah.
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa perempuan tidak pernah benar-benar absen dari sejarah. Mereka hadir, berkontribusi, dan bahkan memimpin di wilayah privat khususnya dalam pembentukan keluarga. Hanya saja, kisah mereka tidak selalu tertulis atau tersorot.
Perempuan dan Peradaban
Dengan demikian, keterbatasan historiografi perempuan dalam tradisi Islam lebih penyebabnya karena bias dalam cara pandang, keterbatasan sumber, serta fokus sejarah pada dunia publik yang mayoritas laki-laki. Bukan karena perempuan tidak berperan, melainkan karena peran mereka tidak dianggap penting untuk tercatat.
Oleh karena itu, hari ini dan tentunya di masa mendatang, kita harapkan semakin banyak peneliti yang mampu menulis ulang sejarah dengan perspektif yang lebih inklusif. Upaya ini penting agar sejarah tidak hanya menceritakan setengah dari kenyataan, tetapi menghadirkan gambaran yang lebih utuh bahwa perempuan juga merupakan bagian penting dari perjalanan peradaban. []





Comments are closed.