Pavel Ivanovich Chichikov, lelaki setengah baya, berkelana dari satu kota ke kota lain di Rusia. Suatu hari, ia singgah di sebuah kota di Provinsi N. Ia datang dengan kereta yang lazim dipakai kaum terhormat kelas menengah.
Chichikov berpenampilan rapi. Ia punya kemampuan berbicara dengan sangat baik. Tak butuh waktu lama baginya untuk menjalin perkenalan dengan orang-orang penting di kota itu, dari pejabat hingga tuan tanah. Sebegitu memikatnya pembawaan Chichikov, banyak di antara keluarga elite mengundangnya bertandang ke rumah. Dari undangan ke undangan, Chichikov pun keluar-masuk kediaman para pembesar dan orang kaya di kota tersebut.
Perjalanan Chichikov jelas bukan perjalanan liburan. Ini adalah perjalanan penting yang rumit, dan agak aneh didengar. Ia datang membawa misi yang tentunya punya dampak serius dalam hidupnya, yaitu membeli jiwa orang-orang mati.
Kunjungan pertamanya adalah bertamu ke rumah Malinov, seorang tuan tanah yang memiliki banyak petani-budak. Setelah menikmati penghormatan dan jamuan dari tuan rumah, Chichikov bertanya berapa banyak petani-budak milik Malinov yang sudah mati. Chichikov menawar kepada tuan rumah untuk membeli mayat-mayat tersebut, sebuah tawaran yang sangat membingungkan dan menakutkan. Untuk apa membeli budak yang telah mati?
Setelah dipikir masak, Malinov akhirnya mengangguk setuju. Ia menjual para budaknya yang telah mati dengan senang hati. Selama ini, nama-nama itu justru menjadi beban: meski tak lagi bernyawa, mereka tetap tercatat dalam daftar pajak hingga sensus berikutnya tiba.
Tawaran Chichikov datang seperti jalan keluar. Dengan transaksi itu, Malinov terbebas dari kewajiban membayar pajak atas budak-budak yang tak lagi bisa mengayunkan cangkul di perkebunannya. Di mata Malinov, Chichikov bukan sekadar pembeli aneh, melainkan pahlawan yang menyingkirkan pajak sialan dari pundaknya.
Pola serupa terus berulang. Chichikov berkunjung dari satu tuan tanah ke tuan tanah lain. Berbekal penampilan sebagai pensiunan pejabat tinggi sekaligus tuan tanah terhormat, dia berhasil membeli jiwa-jiwa mati dari para pemilik perkebunan luas yang tanahnya membentang di pinggiran kota.
Setelah mengantongi cukup banyak jiwa mati, Chichikov kembali ke kota untuk mengurus satu hal yang tak kalah penting: legalitas. Ia mendekati wali kota, merayu dengan penampilan meyakinkan, tutur kata manis, dan—seperti bisa ditebak—sedikit pelicin. Urusan pun beres. Transaksi dilegalkan, nama-nama budak yang sudah lama dikubur itu dipindahkan ke administrasi provinsi lain. Di atas kertas, semuanya sah.
Di kota N, Chichikov mendadak menjadi bintang. Siapa yang tidak ingin dekat dengan sosok pejabat tinggi sekaligus tuan tanah seperti Chichikov? Semua orang menyukai dan menghormatinya. Semua orang ingin dekat dengannya.
Namun, ketenaran Chichikov perlahan terkikis. Muncul desas-desus tentang sosok Chichikov dan budak-budak matinya. Spekulasi tentangnya menguar seperti bangkai. Beberapa mengatakan dia adalah pembohong yang menggunakan jiwa-jiwa orang mati sebagai kedok; yang lain berpikir dia mungkin seorang petugas dari kantor gubernur jenderal; yang lain menebak dia adalah seorang kapten legendaris yang menyamar; yang lain menduganya sebagai mata-mata.
Dari sosok terhormat yang selalu dipuja dan diharapkan, Chichikov berubah menjadi pesakitan. Dirinya menjadi pusat kecurigaan. Kehadirannya bahkan ditolak oleh para pelayan yang berjaga di depan pintu. Akhirnya, Chichikov menyadari bahwa akan lebih baik baginya untuk segera pergi.
Lantas siapa sebenarnya Chichikov? Ia bukan pejabat tinggi, juga bukan tuan tanah. Dia hanyalah laki-laki miskin, mantan juru tulis, yang yatim tanpa warisan. Dia belajar dari para bangsawan bagaimana memanipulasi birokrasi untuk mendapatkan keuntungan. Dari seorang pejabat, Chichikov mengetahui celah yang menggiurkan—jiwa budak yang sudah mati masih bisa digadaikan selama namanya belum dihapus dari sensus. Budaknya memang sudah tiada, tetapi status hukumnya masih hidup.
Dari situlah rencana Chichikov lahir. Eksperimen pertamanya ia lakukan dengan membeli budak-budak mati milik seorang jenderal. Sang Jenderal girang bukan main. Ia mendapat cuan besar hanya dengan menukar mayat-mayat.
Chichikov melangkah lebih jauh. Ia belajar memalsukan dokumen warisan, menyerap kelicikan pengacara yang piawai mengubur perkara hukum di balik skandal pribadi. Ia tahu betul: birokrasi yang rapuh, ditambah mental pejabat yang korup adalah ladang subur bagi tipu daya.
Bagi orang kebanyakan, membeli jiwa-jiwa mati mungkin tak lebih dari praktik tumbal pesugihan, yang harapannya dapat menarik kekayaan dari sumber gaib. Namun kecerdasan dan kecerdikan Chichikov tidak di kelas itu. Baginya jiwa-jiwa mati adalah tangga sosial dan kunci membuka gudang harta karun.
Dengan dokumen sah atas ratusan jiwa yang di atas kertas masih hidup, Chichikov bisa tampil sebagai tuan tanah. Semakin banyak budak yang dimiliki, semakin tinggi pula derajat sosial. Rencananya sederhana sekaligus licik: menjadikan jiwa-jiwa mati itu sebagai jaminan untuk mengajukan pinjaman besar kepada pemerintah. Di mata negara, ia adalah pemilik tanah kaya raya. Setelah uang di tangan, ia berniat membawa kabur kekayaan, dan meraih keamanan finansial serta status sosial yang sejak lama diimpikannya.
***
Kisah Pavel Ivanovich Chichikov menjadi poros utama yang disajikan Nikolai Gogol dalam novel berjudul Dead Souls (Jiwa-Jiwa Mati). Novel satir ini terbit pertama kali pada 1842. Karya ini kerap disebut sebagai salah satu wakil karya sastra Rusia abad ke-19, yang lahir dari rahim situasi sosial-politik kerajaan yang penuh kontradiksi.
Tak perlu penjelasan panjang lebar untuk memahami kritik apa yang hendak disampaikan Gogol. Saya sendiri sangat terpesona dengan ide novel ini. Lebih tepatnya, terpesona dan heran. Terpesona karena Gogol berhasil memotret kelicikan orang pintar dalam memanipulasi kelemahan birokrasi dan pejabat yang korup. Ide membeli jiwa orang mati untuk mendapatkan keuntungan adalah sesuatu yang nyaris tak terpikirkan. Heran karena novel ini seakan ditulis untuk kita saat ini, bahwa tidak jarang data dalam dokumen bisa lebih penting dari kenyataan di lapangan.
Ahmad Inung
Sekretaris Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Agama RI.





Comments are closed.