Muktamar selalu punya bakat membuat orang sibuk menghitung nama. Siapa dekat dengan kiai mana, siapa punya wilayah, siapa menguasai cabang, siapa sedang tersenyum kepada siapa, dan siapa mendadak rajin menghadiri acara yang tahun lalu mungkin tidak pernah dilirik.
Menjelang Muktamar Ke-35, kesibukan semacam itu kembali muncul. Tidak ada yang aneh dari perhitungan tersebut. Politik organisasi memang bergerak melalui dukungan, jaringan, dan tawar-menawar. Kesibukan mengikuti pertandingan hanya membuat satu hal mudah terlewat, yakni siapa saja yang sejak awal berhasil masuk gelanggang.
Nama calon ketua umum PBNU tidak jatuh dari langit. Seseorang tidak bangun pagi, minum kopi, lalu menemukan dirinya disebut layak memimpin organisasi dengan jaringan sosial sebesar Nahdlatul Ulama. Sebelum sebuah nama muncul, ada proses panjang yang membuat sebagian orang menjadi mungkin dan sebagian lain tetap tidak terlihat. Reputasi keagamaan, jaringan pesantren, pengalaman struktural, kedekatan dengan kiai, hubungan politik, sumber daya, dan visibilitas nasional bekerja bertahun-tahun sebelum muktamar membuka arena pencalonan. Kotak suara datang belakangan. Penyaringan elite berlangsung jauh sebelumnya.
Di sinilah soal regenerasi menjadi lebih rumit daripada umur kandidat. NU jelas tidak kekurangan kader. Pesantren melahirkan santri dan pengasuh baru. Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, Muslimat, perguruan tinggi, lembaga profesi, cabang, dan wilayah terus menghasilkan orang dengan pengalaman organisasi. Jumlahnya bahkan terlalu banyak untuk disebut satu per satu. Anehnya, semakin dekat ke puncak PBNU, pilihan terasa semakin menyempit. Regenerasi berlangsung luas di tingkat bawah, sementara nama yang dianggap realistis untuk memasuki kepemimpinan nasional berputar di lingkaran yang jauh lebih kecil.
Jalan pertama menuju lingkaran itu berasal dari pesantren dan otoritas keagamaan. NU bukan perusahaan yang memilih pemimpin dari daftar pengalaman kerja paling panjang. Pengakuan kiai, hubungan pesantren, sanad keilmuan, keluarga, alumni, dan reputasi pengabdian mempunyai bobot politik organisasi. Modal keagamaan memberi seseorang legitimasi yang tidak bisa digantikan oleh kecakapan administratif. Pada saat bersamaan, jaringan pesantren tidak tersebar secara merata. Sebagian kader lahir dekat dengan pusat otoritas tersebut, sebagian lain harus membangun hubungan selama bertahun-tahun sebelum namanya memperoleh bobot yang sama.
Jalan kedua berasal dari struktur. Jabatan menghasilkan pertemuan, pertemuan menghasilkan kenalan, kenalan menghasilkan kepercayaan, lalu kepercayaan membuka jabatan berikutnya. Mekanismenya sederhana, bahkan terlalu manusiawi. Pengurus cabang mengenal wilayah, wilayah mengenal pusat, pusat mengenal orang-orang yang berkali-kali muncul dalam rapat, konferensi, dan muktamar. Modal struktural kemudian berkembang secara kumulatif. Seseorang yang sudah berada di dalam memperoleh lebih banyak kesempatan untuk memperluas jaringan, sementara orang di luar lingkaran memerlukan waktu lebih panjang hanya untuk mencapai tingkat pengenalan yang sama.
Politik dan negara menyediakan jalan ketiga. Jabatan publik, hubungan dengan partai, kementerian, pejabat, atau lingkaran kekuasaan membawa akses, visibilitas, kemampuan bernegosiasi, dan jaringan. Tidak otomatis orang yang dekat dengan negara akan memenangkan kontestasi di NU. Sejarah organisasi ini terlalu rumit untuk diringkas menjadi hubungan sederhana antara kedekatan politik dan kemenangan elektoral. Meski begitu, modal politik tetap mempunyai nilai. Menganggapnya tidak berpengaruh sama naifnya dengan membayangkan muktamar sebagai pertemuan orang alim yang kebetulan membawa kartu suara.
Jalan keempat tumbuh melalui visibilitas. Media, kampus, organisasi masyarakat sipil, jaringan internasional, dan ruang digital menentukan siapa yang dikenal melampaui basis lokal. Kader dapat mempunyai rekam kerja panjang di daerah tetapi tetap berada di pinggiran percakapan nasional apabila tidak mempunyai saluran untuk mengubah reputasi lokal menjadi pengakuan yang lebih luas. Sebaliknya, figur dengan akses media dapat memperoleh reputasi nasional yang jauh lebih besar daripada basis organisasinya. Politik reputasi lalu bekerja berdampingan dengan politik struktur dan politik pesantren.
Empat modal tersebut jarang berdiri sendiri. Jaringan pesantren membuka pintu struktur. Jabatan struktural memperluas hubungan politik. Hubungan politik menambah visibilitas. Visibilitas memperkuat posisi untuk memperoleh jabatan berikutnya. Prosesnya menyerupai bola salju, hanya saja tidak semua orang memulainya dari bukit yang sama. Dari sinilah reproduksi elite bekerja. Wajah dapat berganti, umur dapat lebih muda, koalisi dapat berubah, sementara jalur menuju puncak tetap bergantung pada kemampuan mengakumulasi jenis modal yang relatif serupa.
Regenerasi lalu mudah terlihat lebih besar daripada perubahan yang sebenarnya terjadi. Ketua umum berusia lebih muda belum tentu menandakan terbukanya jalur kepemimpinan. Seseorang bisa muda secara biologis dan sangat tua secara jalur kekuasaan. Tokoh baru dapat membawa nama berbeda tetapi berasal dari jaringan sosial, struktur, dan akses politik yang sama dengan generasi sebelumnya. Pergantian individu dengan demikian tidak selalu identik dengan perubahan pola rekrutmen elite.
Hambatan tersebut juga tidak dialami secara seragam. Kader perempuan, tokoh dari luar Jawa, profesional NU, atau penggerak cabang yang jauh dari pusat dapat mempunyai rekam kerja panjang tanpa memiliki kombinasi jaringan yang sama dengan figur nasional. Mereka hadir sebagai tenaga organisasi, pengisi forum, penggerak program, pengurus lembaga, atau pemimpin komunitas. Keberadaan tersebut tidak otomatis berubah menjadi posisi dalam bursa kepemimpinan nasional. Jarak antara bekerja untuk organisasi dan dianggap layak memimpin organisasi tetap cukup lebar.
Muktamar sendiri tidak menciptakan seluruh pola tersebut. Forum lima tahunan justru memperlihatkan hasil akhir dari proses seleksi yang berlangsung sebelumnya. Saat pemegang suara memasuki arena, sebagian besar penyaringan telah selesai. Nama yang tidak memiliki jaringan cukup tidak perlu dikalahkan karena tidak pernah menjadi calon serius. Kader yang tidak dikenal pusat juga tidak masuk perhitungan elektoral. Kompetisi tetap dapat berlangsung ramai meskipun peserta kompetisinya berasal dari kelompok yang sebelumnya telah melewati proses seleksi sosial dan organisasi yang panjang.
Keadaan itu menjelaskan mengapa muktamar dapat menghadirkan banyak nama tanpa otomatis menghasilkan pembukaan elite. Banyak calon hanya menunjukkan adanya kompetisi di antara mereka yang sudah mempunyai modal untuk mencalonkan diri. Pergantian figur menunjukkan sirkulasi, bukan selalu perubahan dalam mekanisme produksi elite. Dua hal tersebut sering terlihat sama dari luar karena sama-sama menghasilkan wajah baru.
Muktamar Ke-35 dengan demikian memperlihatkan lebih dari sekadar persaingan kandidat. Forum tersebut menjadi titik tempat berbagai jalur produksi elite NU bertemu. Pesantren, struktur, politik, dan visibilitas nasional terkonsentrasi dalam sejumlah nama yang dianggap realistis untuk dipilih. Pemegang suara kemudian menentukan pemenang dari kelompok yang telah terbentuk melalui proses tersebut.
Pertanyaan paling menarik menjelang Muktamar Ke-35 bukan hanya siapa yang mampu mengalahkan siapa. Pertanyaan sebelumnya jauh lebih menentukan, yakni siapa yang berhasil menjadi seseorang yang masuk akal untuk dipilih. Kotak suara menentukan pemenang. Proses reproduksi elite menentukan siapa yang sejak awal boleh menjadi kandidat serius.
Virdika Rizky Utama
Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura




Comments are closed.