Mubadalah.id – Beberapa waktu lalu saya berkesempatan berdiskusi dengan siswa-siswi tingkat SMP dan SMA dalam forum anak tentang boundary setting atau menetapkan batas diri. Awalnya saya mengira tema ini akan terasa jauh bagi mereka. Namun ketika ruang percakapan dibuka, banyak dari mereka justru ingin berbagi pengalaman.
Sebagian bercerita tentang teman yang sering meminjam barang tetapi lambat mengembalikannya. Ada pula yang merasa tidak nyaman karena sering diminta membantu tugas teman, sementara ia sendiri sedang kewalahan. Hampir semua cerita itu bermuara pada satu hal yang sama, yaitu kesulitan mengatakan tidak.
Mereka takut dianggap tidak setia kawan, takut dijauhi, atau khawatir temannya tersinggung. Akhirnya, banyak dari mereka memilih mengatakan “iya”, meskipun di dalam hati sebenarnya merasa tidak nyaman.
Pengalaman tersebut bukan hanya milik para remaja. Banyak orang dewasa pun mengalaminya. Termasuk saya sendiri.
Ketika Kebaikan Berubah Menjadi Kelelahan
Sejak kecil kita sering diajarkan untuk menjadi orang baik dengan membantu teman, peduli kepada orang lain, dan tidak mengecewakan siapa pun. Nilai-nilai ini tentu penting. Ia membentuk empati dan kepedulian sosial dalam diri kita.
Namun dalam praktiknya, keinginan untuk selalu terlihat baik kadang membuat kita mengabaikan perasaan sendiri. Kita terlalu sibuk memastikan orang lain nyaman, sampai lupa bertanya apakah diri kita sendiri juga merasa nyaman.
Pada titik tertentu, kebaikan yang diberikan tanpa batas dapat berubah menjadi kelelahan. Kita terlalu sering mengatakan “iya”, bahkan ketika hati sebenarnya merasa keberatan.
Di sinilah pentingnya memahami boundaries atau batas diri. Batas diri bukanlah tembok yang memisahkan kita dari orang lain. Ia justru merupakan cara sehat untuk menjaga keseimbangan antara menghargai orang lain dan menghargai diri sendiri. Tanpa batas yang jelas, seseorang bisa dengan mudah kehilangan energi emosionalnya. Ia memberi terlalu banyak ruang bagi orang lain, tetapi hampir tidak menyisakan ruang bagi dirinya sendiri.
Boundaries Bukan Tanda Egois
Salah satu alasan mengapa banyak orang sulit membuat batas diri adalah karena rasa bersalah. Mengatakan “tidak” sering dianggap sebagai sikap egois atau tidak peduli pada orang lain. Padahal sebenarnya, batas diri justru merupakan bentuk kejujuran terhadap diri sendiri. Kita mengakui bahwa waktu, tenaga, dan kapasitas kita terbatas. Kita tidak selalu bisa memenuhi semua harapan orang lain.
Dalam banyak situasi sosial, terutama di lingkungan yang sangat menjunjung nilai kebersamaan, menolak permintaan orang lain sering dipersepsikan sebagai tindakan yang tidak ramah. Sejak kecil, orang tua dan lingkungan mengajarkan untuk menjaga perasaan orang lain, menghormati teman, atau membantu siapa pun yang membutuhkan. Nilai-nilai ini tentu baik dan penting bagi kehidupan bersama. Namun tanpa sadar, nilai tersebut kadang membuat seseorang menekan perasaan tidak nyaman yang sebenarnya ia rasakan.
Akibatnya, kita bisa saja terus mengatakan “iya” meskipun sedang lelah, tidak punya waktu, atau bahkan merasa keberatan. Penolakan terhadap keinginan sendiri ini mungkin tampak kecil, tetapi jika terjadi berulang-ulang, ia dapat menumpuk menjadi kelelahan emosional.
Di titik inilah batas diri menjadi penting. Ia membantu seseorang mengenali mana permintaan yang masih bisa ia penuhi dan mana yang perlu ia tolak dengan cara yang baik. Dengan demikian, keputusan untuk membantu orang lain lahir dari kesadaran, bukan dari tekanan sosial atau rasa tidak enak.
Menetapkan batas juga memungkinkan seseorang hadir secara lebih utuh dalam relasi. Ketika kita tidak merasa terpaksa atau lelah, kita bisa berinteraksi dengan orang lain secara lebih jujur dan tulus. Akhirnya, relasi yang kita bangun lebih berdasarkan pada rasa saling pengertian.
Karena itu, mengatakan tidak sesekali bukanlah tanda berkurangnya kepedulian. Justru sebaliknya, ia bisa menjadi cara untuk menjaga agar kepedulian itu tetap sehat dan berkelanjutan. Ketika seseorang mampu menyampaikan apa yang ia rasakan dan butuhkan, hubungan yang terbangun pun menjadi lebih terbuka, lebih jujur, dan lebih saling menghargai.
Perspektif Mubadalah: Relasi yang Saling Menjaga
Dalam konteks relasi sosial yang lebih luas, kita bisa membaca persoalan batas diri ini melalui perspektif mubadalah, yaitu cara pandang yang menekankan kesalingan dan keadilan dalam hubungan antar manusia.
Dalam perspektif ini, kita harus membangun relasi ideal atas dasar kesalingan. Tidak ada pihak yang terus memberi sementara pihak lain hanya menerima. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling menjaga, saling memahami, dan saling menghargai batas masing-masing. Karena itu, menjaga batas diri sebenarnya juga merupakan bagian dari menjaga relasi yang adil.
Jika seseorang terus mengorbankan dirinya demi kenyamanan orang lain, relasi tersebut berpotensi menjadi tidak seimbang. Dalam jangka panjang, hal ini justru bisa menimbulkan kelelahan, bahkan kekecewaan.
Sebaliknya, ketika setiap orang belajar menghargai batas diri, baik batas dirinya sendiri maupun batas orang lain, relasi menjadi lebih setara. Kita tidak lagi memaksakan kebaikan, tetapi menghadirkan kebaikan yang lahir dari kesadaran dan kerelaan.
Belajar Mendengarkan Diri Sendiri
Maka, mengatakan tidak bukan berarti kita berhenti menjadi orang baik. Kita hanya sedang belajar menjadi baik dengan cara yang lebih sehat. Tentu saja proses ini tidak selalu mudah. Bahkan orang dewasa pun perlu untuk melatih keterampilan ini.
Karena itu, ketika mengingat kembali percakapan dengan para siswa dalam diskusi tersebut, saya justru merasa bahwa pelajaran ini bukan hanya untuk mereka. Ia juga menjadi pengingat bagi diri saya sendiri. Bahwa menjaga batas diri adalah bagian dari belajar mengenali dan menghargai perasaan kita sendiri.
Mungkin para remaja itu masih akan menghadapi situasi yang membuat mereka merasa tidak enak untuk menolak permintaan teman. Saya pun mungkin masih akan berada dalam situasi yang sama. Namun setidaknya kita bisa mulai belajar, sedikit demi sedikit, untuk lebih jujur pada diri sendiri.
Karena pada akhirnya, menjadi baik kepada orang lain seharusnya tidak membuat kita kehilangan kebaikan kepada diri sendiri. []





Comments are closed.