Sun,26 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Khutbah Jumat: 6 Peringatan Al-Qur’an dalam Bermedsos

Khutbah Jumat: 6 Peringatan Al-Qur’an dalam Bermedsos

khutbah-jumat:-6-peringatan-al-qur’an-dalam-bermedsos
Khutbah Jumat: 6 Peringatan Al-Qur’an dalam Bermedsos
service

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الدَّاعِي إِلَى طَاعَتِهِ، وَالْمُوَفِّقُ لِهِدَايَتِهِ، الَّذِي أَمَرَ عِبَادَهُ بِعِبَادَتِهِ، وَبَيَّنَ لَهُمْ أَحْكَامَ شَرِيعَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ اعْتِقَادًا لِرُبُوبِيَّتِهِ، وَإِذْعَانًا لِجَلَالِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصَمَدِيَّتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُصْطَفَى مِنْ خَلِيقَتِهِ، وَالْمُخْتَارُ الْمُجْتَبَى مِنْ بَرِيَّتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ الْمُبَلِّغِ عَنْ رِسَالَةِ الرَّحْمٰنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ: وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْنٍۙ ۝١٠ هَمَّازٍ مَّشَّاۤءٍ ۢ بِنَمِيْمٍۙ ۝١١ مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ ۝١٢ عُتُلٍّ ۢ بَعْدَ ذٰلِكَ زَنِيْمٍۙ ۝١٣

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah sholat Jumat rahimakumullah, 

Mengawali khutbah Jumat pada kali ini, mari kita semua terus memperkuat ketakwaan dan keimanan kepada Allah sebagai modal menghadapi perkembangan dan perubahan dunia yang semakin cepat ini.

Kita merasakan bersama bahwa saat ini kita hidup pada zaman yang sangat berbeda dengan zaman para ulama terdahulu. Jika dulu kita hanya hidup di satu dunia, yakni dunia nyata, saat ini kita hidup di dua dunia yakni dunia nyata dan dunia maya.

Dunia maya menjadi fenomena sendiri dalam peradaban modern. Melalui kecanggihan teknologi internet, media sosial dan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, semua dilakukan dengan mudah, khususnya dalam berkomunikasi dan mencari informasi.

Jika dulu berita disampaikan dari mulut ke mulut, sekarang berita sampai kepada kita hanya dalam hitungan detik. Dulu seseorang harus berjalan dari kampung ke kampung untuk menyebarkan kabar. Hari ini, cukup satu jari menekan tombol share, ribuan bahkan jutaan orang bisa menerima informasi.

Lalu pertanyaannya, apakah semua konten yang kita sebarkan bernilai pahala? Atau justru menjadi dosa yang terus mengalir? Terkait hal ini, Allah SWT telah memberikan peringatan yang sangat relevan dengan kondisi zaman sekarang.

Dalam Surat Al-Qalam ayat 10 sampai 13 Allah berfirman:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْنٍۙ ۝١٠ هَمَّازٍ مَّشَّاۤءٍ ۢ بِنَمِيْمٍۙ ۝١١ مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ ۝١٢ عُتُلٍّ ۢ بَعْدَ ذٰلِكَ زَنِيْمٍۙ ۝١٣

Artinya: “Dan janganlah engkau ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang suka mencela, yang ke sana kemari menyebarkan fitnah, yang menghalangi kebaikan, yang melampaui batas lagi bergelimang dosa, yang kasar tabiatnya dan terkenal kejahatannya.

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah sholat Jumat rahimakumullah, 

Ayat ini memang turun pada masa Rasulullah SAW. Namun pesan yang terkandung di dalamnya sangat relevan dan cocok dengan kehidupan kita di era media sosial saat ini. Melalui ayat ini kita diingatkan untuk menghindari 6 hal.

Pertama, jangan mudah percaya kepada orang yang pandai bersumpah.

Allah menyebut hallāf, yaitu orang yang sedikit-sedikit bersumpah. Fakta di era modern saat ini, kita sering membaca tulisan seperti, “Demi Allah ini benar!“, “Saya jamin ini fakta!“. Di medsos kita bisa dengan mudah menemukan orang bersumpah tentang kebenaran informasi namun sebenarnya itu merupakan kebohongan bahkan penipuan.

Padahal, dalam Islam, ukuran kebenaran bukanlah seberapa meyakinkan seseorang berbicara, tetapi apakah ada bukti dan apakah informasi itu benar. Orang jujur tidak perlu terlalu banyak bersumpah. Sebaliknya, orang yang berdusta sering menggunakan sumpah untuk menutupi kebohongannya.

Kedua, jangan menjadi orang yang suka mencela.

Allah menyebut hammāz, yaitu orang yang gemar menghina dan merendahkan orang lain. Hari ini, media sosial banyak dipenuhi komentar kasar dan jauh dari tata krama. Yang muda tidak menghormati yang tua dan yang tua tidak bisa menjadi contoh baik bagi yang muda.

Ada yang menghina fisik orang lain, menghina pekerjaan, menghina keluarga, bahkan menghina ulama dan tokoh masyarakat. Yang lebih memprihatinkan, semua itu dianggap hiburan, dijadikan cara untuk viral, dan motif-motif lain yang tidak benar.

Padahal Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Kehormatan seorang mukmin jauh lebih mulia daripada sekadar mendapatkan banyak like, view, atau pengikut. Rasulullah bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ

Artinya: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti.” (HR. Muslim).

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah sholat Jumat rahimakumullah, 

Ketiga, jangan menjadi penyebar fitnah.

Inilah bagian yang paling penting. Allah menyebut masysyā’in binamīm, yaitu orang yang berjalan ke sana kemari membawa fitnah dan adu domba. Kalau dahulu orang harus berjalan kaki menyebarkan fitnah, sekarang cukup menggunakan HP. Satu video dipotong. Satu foto diedit. Satu berita belum jelas sumbernya. Lalu langsung dibagikan.

Akibatnya, orang saling membenci. Keluarga bertengkar. Tetangga bermusuhan. Bahkan kerukunan umat bisa terganggu. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قال : كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا، أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ (رواه مسلم) 

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw beliau bersabda, “Cukuplah seseorang (dianggap) berdusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Hadits ini luar biasa. Artinya, belum tentu kita membuat berita bohong. Tetapi kalau kita asal meneruskan semua berita yang datang kepada kita tanpa tabayun, kita sudah termasuk dalam ancaman hadits tersebut. Karena itu, sebelum menekan tombol bagi atau share, bertanyalah kepada diri sendiri:

Apakah ini benar?” “Apakah ini bermanfaat?” atau “Apakah kalau saya diam justru lebih baik?”. Dan pertanyaan-pertanyaan lain agar kita bisa benar-benar bisa menahan diri.

Keempat, jangan menghalangi kebaikan.

Ada orang yang setiap kali melihat kegiatan baik, komentarnya selalu negatif. Ada pengajian, dicibir. Ada orang sedekah, dibilang pamer dan pencitraan. Ada pembangunan masjid, dicari-cari kesalahannya. Ada dakwah, malah dihina. Padahal Allah menyebut perilaku seperti ini sebagai mannā’il lil-khair, yaitu menghalangi manusia dari kebaikan.

Seorang mukmin seharusnya mendukung kebaikan. Kalau tidak mampu membantu, minimal tidak menghambat kebaikan.

Kelima, jangan melampaui batas.

Media sosial sering membuat seseorang merasa bebas berbicara. Merasa tidak ada yang melihat. Padahal Allah melihat. Setiap komentar yang kita tulis akan dicatat. Setiap unggahan akan dimintai pertanggungjawaban. Boleh jadi sebuah komentar hanya diketik dalam waktu tiga puluh detik, tetapi dosanya mengalir 30 tahun karena terus dibaca orang.

Sebaliknya, satu tulisan yang mengajak kepada ilmu dan kebaikan juga bisa menjadi amal jariyah yang tidak pernah putus.

Keenam, jangan kasar dalam berbicara.

Perbedaan pendapat adalah hal yang biasa. Tetapi jangan sampai berbeda pilihan membuat kita kehilangan adab. Jangan karena berbeda organisasi, berbeda mazhab, berbeda pilihan politik, lalu saling menghina. Rasulullah SAW ketika berdakwah selalu lembut. Bahkan kepada orang yang memusuhi beliau, beliau tetap menjaga akhlaknya.

Jika Nabi yang ma’shum saja santun, mengapa kita begitu mudah marah hanya karena membaca komentar seseorang?

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah sholat Jumat rahimakumullah, 

Media sosial hanyalah alat. Jika digunakan untuk mengaji, berdakwah, menyambung silaturahmi, menyebarkan ilmu, maka medsos menjadi ladang pahala. Tetapi jika dipakai untuk fitnah, ghibah, adu domba, menghina, dan menyebarkan kebencian, maka ia menjadi ladang dosa.

Jangan sampai telepon genggam yang setiap hari kita bawa justru menjadi saksi yang memberatkan kita di hadapan Allah. Mari biasakan sebelum mengirim sesuatu, gunakan tiga pertanyaan sederhana: Benarkah informasinya? Baikkah dampaknya? Dan, Perlukah disebarkan?

Jika salah satu jawabannya “tidak“, maka menahan diri adalah pilihan terbaik. Mari kita jadikan media sosial sebagai sarana dakwah, silaturahmi, dan menyebarkan manfaat. Jangan menjadi orang yang dikenal karena suka menyebarkan kebencian, tetapi jadilah orang yang dikenang karena menebarkan kedamaian.

Semoga Allah menjaga lisan kita, menjaga jari-jari kita saat mengetik, menjaga hati kita dari kebencian, dan menjadikan setiap tulisan yang kita bagikan sebagai amal saleh yang mengantarkan kita menuju surga-Nya.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْأَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ، مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ، عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. 

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

H. Muhammad Faizin, Ketua Bidang Humas Data dan Informasi Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Provinsi Lampung.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.