Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Saat ini, kita hidup pada sebuah zaman yang penuh dengan kemajuan. Teknologi berkembang sangat pesat. Informasi dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Peristiwa yang terjadi di belahan dunia lain dapat kita ketahui secara langsung melalui telepon genggam yang ada di tangan kita. Semua orang dapat berbicara, semua orang dapat menyampaikan pendapat, dan semua orang dapat memengaruhi orang lain.
Namun kemudahan dalam mendapatkan informasi ini tidak selalu membuat kita semakin bijaksana. Bahkan kita rasakan sendiri, semakin banyak informasi justru semakin membingungkan. Semakin mudah orang berbicara, semakin sulit pula membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Fakta bercampur dengan opini, ilmu bercampur dengan kebodohan, dan kejujuran bercampur dengan kepalsuan.
Kondisi ini telah diingatkan empat belas abad lalu oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah RA:
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ
Artinya: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.”
Para sahabat bertanya:
وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ
“Apakah Ruwaibidhah itu?“
Rasulullah menjawab:
قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
“Orang yang dangkal dan tidak memiliki kapasitas, tetapi berbicara dalam urusan masyarakat luas.“
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Apakah zaman yang disebut Rasulullah sebagai sanawat khadda’at, yakni tahun-tahun yang penuh dengan tipuan dan manipulasi, sudah terjadi saat ini? Mayoritas dari kita pasti menjawab, iya. Hal ini karena kita sudah berada pada era post truth yakni era di mana kebenaran dan kebohongan menjadi kabur, karena informasi yang memicu emosi lebih mudah diterima daripada data yang akurat.
Yang benar dianggap salah, sedangkan yang salah dianggap benar. Yang jujur dianggap pembohong, sedangkan pembohong justru dipercaya. Kita menyaksikan bagaimana hoaks dapat menyebar begitu cepat. Fitnah diproduksi secara masif. Kebohongan yang diulang terus-menerus akhirnya dianggap sebagai kebenaran. Bahkan sesuatu yang viral sering kali lebih dipercaya daripada sesuatu yang benar.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: “Janganlah kamu campuradukkan antara yang haq dengan yang batil, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 42)
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Menghadapi zaman seperti ini, wajib bagi kita untuk selalu melakukan tabayyun yakni memeriksa dan memastikan kebenaran semua informasi. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian seorang fasik membawa berita, maka telitilah kebenarannya, agar kalian tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya membuat kalian menyesal.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Kita tidak boleh tergesa-gesa mempercayai atau menyebarkan informasi. Tidak semua yang kita dengar harus dipercaya. Tidak semua yang kita baca harus dibagikan. Allah bahkan memperingatkan dalam Surat An-Nur ayat 15:
إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ
Artinya: “Ketika kamu menerima berita itu dari mulut ke mulut dan kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu ketahui, dan kamu menganggapnya perkara ringan, padahal di sisi Allah perkara itu sangat besar.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Zaman penuh dengan tipu daya ini juga diperparah oleh fenomena pendusta yang dipercaya dan orang jujur yang justru didustakan. Kondisi ini terjadi ketika kita lebih menghargai pencitraan daripada integritas. Ukuran benar bukan lagi ilmu dan fakta, tetapi popularitas dan kepentingan.
Tidak sedikit orang yang pandai berbicara, tetapi miskin keilmuan dan kejujuran. Sebaliknya, orang yang lurus dan amanah justru dianggap mengganggu kenyamanan. Padahal kejujuran adalah fondasi kehidupan. Jika kejujuran runtuh, maka kepercayaan masyarakat pun akan hancur. Ketika kepercayaan hilang, maka persatuan akan melemah dan kehidupan bersama akan dipenuhi kecurigaan.
Rasulullah juga mengingatkan bahwa pada masa ini banyak pengkhianat dipercaya, sedangkan orang yang amanah dianggap sebagai pengkhianat. Orang yang memiliki integritas justru dicurigai. Orang yang berusaha menegakkan kebenaran dianggap sebagai ancaman. Sedangkan orang-orang yang hanya mengejar kepentingan pribadi justru memperoleh tempat yang terhormat.
Akibatnya, masyarakat kehilangan teladan. Kepemimpinan kehilangan integritas. Amanah tidak lagi dijadikan ukuran utama. Padahal salah satu sifat para nabi adalah amanah. Sebuah masyarakat tidak akan kuat tanpa adanya kepercayaan dan tanggung jawab.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Media sosial memberikan kesempatan kepada semua orang untuk berbicara. Ini merupakan kemajuan. Tetapi masalahnya, tidak semua orang memiliki ilmu dan tanggung jawab.
Hari ini seseorang dapat berbicara tentang agama tanpa belajar agama. Berbicara tentang kesehatan tanpa pendidikan kesehatan. Berbicara tentang ekonomi tanpa memahami ekonomi. Berbicara tentang hukum tanpa mengerti hukum. Jumlah pengikut dijadikan ukuran kebenaran. Popularitas mengalahkan kapasitas. Viral mengalahkan ilmu.
Padahal Allah telah mengingatkan:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra: 36)
Oleh karena itu, Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Berdasarkan pesan Rasulullah, mari kembalikan penghormatan kepada ilmu, para ulama, dan orang-orang yang memiliki kompetensi di bidang dan keilmuannya. Kerusakan masyarakat bukan karena sedikitnya orang pintar, tetapi karena orang-orang yang tidak memiliki kapasitas justru ingin di depan dan menjadi penentu arah kehidupan orang banyak.
Maka di tengah zaman yang penuh dengan tipu daya ini, marilah kita menjadi pribadi yang jujur ketika banyak orang berdusta, menjadi pribadi yang amanah ketika amanah mulai ditinggalkan, dan menjadi pribadi yang berilmu ketika kebodohan memperoleh panggung. Ada kalimat bijak: “Jika dulu orang yang sukses dan selamat adalah mereka yang banyak memiliki informasi, Saat ini orang yang sukses dan selamat adalah mereka yang mampu menyaring informasi.”
Semoga Allah SWT menjaga kita dari fitnah zaman, menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah di atas kebenaran, serta memberikan kepada kita kemampuan untuk membedakan antara yang haq dan yang batil. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung




Comments are closed.