Ada satu adegan yang sulit dilupakan dari seluruh kronik hidup Kiai Djahari—bukan adegan di mimbar, bukan di medan pertempuran, dan bukan pula saat ia membebaskan sahabatnya dari penjara Belanda untuk ketiga kalinya. Adegan itu bahkan teramat sangat sederhana—tapi bernuansa epik.
Suatu hari, di sebuah jalan yang berdebu di sekitar Bekasi, seorang tentara Belanda menghadang seorang lelaki tua yang berjalan sendirian. Sambil menodongkan pistol, sang tentara bertanya, “Tuan kenal dengan Djahari?” Lelaki tua itu tidak gentar. Ia merogoh kantongnya—dan mengeluarkan sehelai daun rokok kawung.
“Ya,” jawabnya tenang, sambil mengarahkan daun itu ke dada sang tentara. “Saya yang namanya Djahari.”
Sontak tentara Belanda itu gemetar. Dalam matanya, daun kawung itu adalah pistol. Ia malah memohon-mohon agar tidak dibunuh.
Itulah Muḥammad Djahari Mintar al-Bantani. Lelaki yang membuat kolonialisme terbungkuk bukan oleh peluru, melainkan oleh wibawa yang tumbuh dari akar ilmu dan keyakinan selama lebih dari seabad.
Sebelum kita bicara tentang orangnya, kita perlu bicara tentang tanah tempat ia berjibaku.
Kampung Ceger—sekitar 30 kilometer dari Kota Bekasi yang kita kenal hari ini—bukan kampung yang lahir dari kebetulan. Nama itu berasal dari kata “jeger” atau “nyeger“, sebutan untuk para jawara dari Banten yang pernah menjadikannya tempat persinggahan. Mereka bukan sekadar pengembara. Mereka adalah “pejuang Banten” yang datang untuk membuka lahan pertanian dan membangun sistem irigasi—cadangan logistik bagi para pejuang Muslim yang sedang berhadapan dengan VOC dan kemudian pemerintah kolonial Belanda.
Di sepanjang kawasan ini, nama-nama kampung berbicara lebih keras dari sejarahwan mana pun: Kampung Pisang Batu, Utan Salak, Kranji, Pete Cina, Gabus. Semua tumbuh dari tangan para jawara Banten yang mengubah hutan menjadi ladang. Di sanalah, jauh sebelum Belanda repot-repot menggambarnya dalam peta administrasi, komunitas dengan bahasa Jawa Banten—atau Jawa Serang (Jaseng)—telah membangun dunia mereka sendiri.
Dari arus migrasi inilah, pada 1832, pasangan Mukhtāruddīn bin Ajir dan Sariman memutuskan berpindah dari Banten ke Utan Salak—setelah sebelumnya singgah di Jatinegara. Belanda sedang bermain adu domba di Kesultanan Banten, dan bagi mereka yang tidak mau terlibat dalam permainan itu, hijrah adalah pilihan yang paling masuk akal.
Mukhtāruddīn bin Ajir dan rombongan jawara dari Cirumpak, Balaraja, semula membuka lahan pertanian di kawasan Pisang Batu dan sekitarnya. Enam belas tahun kemudian, sekitar 1848, lahirlah seorang bayi lelaki. Ia diberi nama Sakman. Dari nama itulah, sebuah sejarah dimulai—bukan dengan gegap gempita, tapi dengan sunyi seorang anak yang tumbuh di antara sawah dan kitab kuning.
Orang tua Djahari mendidiknya dengan dua bekal sekaligus: ilmu agama Islam dan ilmu kanuragan. Bukan dua hal yang bertentangan—dalam tradisi pesantren Banten, keduanya adalah dua sisi dari satu koin. Iman yang kuat tidak cukup tanpa badan yang tangguh, dan tubuh yang kuat tanpa iman hanyalah kekerasan yang menunggu giliran untuk merusak.
Sakman dikirim ke pesantren. Ia belajar dengan sungguh-sungguh. Lalu ia kembali ke Utan Salak sebagai pemuda yang “gagah dan alim”—kombinasi yang di zamannya adalah ancaman paling nyata bagi kekuasaan kolonial. Tapi yang menarik bukan seberapa gagah ia saat itu, melainkan apa yang ia lihat ketika pulang.
Para generasi pertama dari Banten di sekitar Bulak Kunyit—orang-orang yang seharusnya menjadi tulang punggung pertanian dan dakwah—telah melalaikan amanah. Mereka tidak lagi menjalankan salat. Tidak berpuasa. Tidak membayar zakat. Menyadari itu, Sakman tidak tinggal diam. Ia mulai menginsafkan mereka—dengan cara yang kelak menjadi pola sepanjang hidupnya: bukan dengan memaksa, tapi dengan membuktikan bahwa jalan kebenaran lebih kuat dari jalan apa pun yang mereka kenal.
Pada 1865, di usia 17 tahun, ia kembali ke Banten. Bukan untuk pulang kampung. Namun untuk mencari guru—berguru kepada beberapa kiai, memperdalam ilmu agama Islam di sela-sela iklim sosial yang sedang mendidih. Di Banten, protes terhadap Belanda mulai meledak di berbagai titik. Sakman belajar bukan hanya dari kitab, tapi dari situasi yang mengajarkan bahwa pengetahuan tanpa keberanian adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli rakyat.
Satu dasawarsa kemudian, ia balik kanan ke Bekasi. Kali ini untuk menetap. Dengan restu orang tuanya, ia menikahi Darminah, putri H. Sanusi—salah seorang keturunan jawara Banten angkatan pertama yang tiba di Bekasi. Sakman menetap di Kampung Ceger. Di sanalah, nama “Sakman” perlahan-lahan mulai digantikan oleh sesuatu yang lebih besar dari sekadar nama.
Ceger bukan ladang yang siap ditanami. Masyarakatnya masih banyak yang percaya pada kekuatan pohon besar, sesaji untuk setan, dan ritual yang mencampuradukkan antara kepercayaan lama dengan ceceran Islam yang belum tuntas. Para jawara kampung adalah penguasa jalanan. Mereka tidak menyambut Sakman—tapi malah menantangnya.
Maka yang terjadi kemudian bukan lagi sekadar debat teologi, tapi adu ilmu kanuragan. Golok dipatahkan. Tombak dimentalkan. Rotan dilumpuhkan. Para jawara yang satu per satu takluk—justru menjadi muridnya. Inilah salah satu paradoks dakwah Banten: kekalahan fisik bisa menjadi pintu masuk keyakinan yang lebih dalam dari sekadar ceramah.
Ada satu kisah yang memperlihatkan betapa bahaya yang mengintai Sakman tidak selalu datang dalam wujud pedang. Suatu hari, seorang penduduk Ceger menjamunya dengan minuman yang telah diracuni. Ketika Sakman hendak meminumnya, gelas itu tiba-tiba retak dan pecah dengan sendirinya. Tuan rumah pucat pasi. Seperti para jawara sebelumnya, ia pun berikrar menjadi murid.
Sakman tidak berhenti di Ceger. Ia berkeliling—ke Telar, Pulo Gebang, Sasak Bakar, Tanah Ungkuk, Gabus, Kosambi, Mulo Tiga, Pulo Murub, Kobak Badak, Bulak Kunyit. Di setiap tempat, ia menghentikan sesaji, membubarkan kesenian ronggeng yang berbau kemaksiatan, dan menghentikan upacara pemujaan pohon. Beberapa antek Belanda pun jadi sakit hati. Mereka mencarinya. Tapi Sakman tidak pernah lari.
“Sakman,” kata orang-orang, “adalah singkatan dari ‘sakti mandraguna’.” Boleh jadi nama itu memang lahir dari reputasi yang tumbuh seiring perjalanan dakwahnya yang tidak kenal kompromi.
Bersambung…





Comments are closed.