Mubadalah.id – Penelitian yang dilakukan terhadap otak perempuan mengung:kapkan sesuatu yang amat berbeda dengan hasil pemindaian otak laki-laki.
Pada perempuan, beberapa wilayah otak yang berhubungan dengan penggalian ingatan menjadi aktif ketika perempuan mulai menilai menarik atau tidaknya seorang laki-laki. Dalam istilah evolusioner, itulah strategi adaptif untuk mengingat semua detail perilaku seorang laki-laki.
Selama ratusan ribu tahun perempuan memiliki tugas untuk membesarkan bayi mereka hingga menjadi manusia yang mandiri. Menjadi ibu adalah pekerjaan yang kompleks dan hal itu terasa lebih berat bagi manusia dibandingkan dengan makhluk mamalia lainnya.
Seorang manusia yang menjadi ibu membutuhkan dukungan dan perlindungan di saat mereka harus memberi makan dan merawat anak-anak mereka. Di masa pra-sejarah, jika pasangan dari seorang perempuan meninggal, perempuan itu harus mengerahkan banyak tenaga untuk menemukan pengganti pasangannya.
Tidak seperti pendekatan visual yang laki-laki lakukan ketika mengevaluasi lawan jenisnya, mustahil bagi perempuan untuk sekadar melihat seorang laki-laki. Dan kemudian mengetahui bahwa dia adalah orang yang jujur dan dapat ia percaya, atau laki-laki itu dapat melempar zebra yang sedang berlari dari jarak 50 meter dengan batu. Atau akankah laki-laki itu membagi daging hasil buruannya dengan si perempuan.
Mengingat Berbagai Hal
Proses penilaian yang sama juga digunakan oleh perempuan masa kini agar dapat mengingat berbagai hal, misalnya apa yang kemarin laki-laki itu katakan, apa yang dikatakannya tiga minggu atau tiga bulan yang lalu, bagaimana dia bereaksi terhadap anakanak, apakah dia baik dan dermawan, bagaimana dia memperlakukan ibunya, sejarah pekerjaan dan aset yang dimilikinya, dan perempuan akan menggunakan semua informasi tersebut dalam menilai potensi seorang laki-laki untuk menjadi pasangannya.
Bila seorang perempuan mempelajari gambar seorang laki-laki, dia akan mengingat citra laki-laki lain yang memiliki kemiripan fisik dengannya. Dan kemudian mengingat kembali karakteristik mereka. Otak perempuan kemudian menerjemahkan karakteristik yang berhubungan dengan wajah laki-laki yang gambarnya sedang dia pandangi.
Perempuan seakan-akan sedang melengkapi teka-teki mental atas seorang laki-laki menggunakan sumber data berupa kepingan informasi dari sejumlah laki-laki lain. Tentu saja hal itu tidak berarti perempuan itu pasti benar, itu artinya dia sedang menyusun sebuah struktur mental berdasarkan sejumlah lelaki yang telah dia kenal sebelumnya.
Jika otak perempuan menggali berbagai informasi mengenai banyak laki-laki untuk menilai potensi seseorang sebagai pasangan, yang laki-laki lakukan hanyalah memandangi perempuan dengan tajam, lama, dan sering kali dengan terang-terangan. Sekarang Anda tahu mengapa perempuan tidak pernah lupa dan laki-laki selalu tertangkap basah sedang memelototi perempuan. []
*)Sumber Tulisan: Buku why Men Want Sex And Women Need Love Karya Allan Pease dan Barbara Pease hlm 42-43




Comments are closed.