Kisah Burung Talang dan Burung Polociong, Cerita Rakyat dari Maluku
Ada sebuah cerita rakyat dari Maluku yang mengisahkan tentang Burung Talang dan Burung Polociong. Cerita rakyat ini menceritakan tentang dua burung yang awalnya bersahabat, tetapi berpisah karena perselisihan yang terjadi.
Berikut kisah lengkap dari cerita rakyat Maluku tersebut.
Kisah Burung Talang dan Burung Polociong, Cerita Rakyat dari Maluku
Dinukil dari artikel Kurnia Tomia, “Burung Talang Si Pencuri Mahkota” dalam buku Antologi Cerita Rakyat Pulau Buru, diceritakan pada zaman dahulu Pulau Buru banyak dihuni oleh berbagai macam buru. Dari semua burung tersebut, ada dua burung yang saling bersahabat satu sama lain, yakni Burung Talang dan Burung Polociong.
Burung Talang memiliki bulu hitam dan tubuh yang besar. Sementara itu, Burung Polociong berukuran kecil dengan bulu berwarna kelabu.
Salah satu keunikan dari Burung Polociong adalah dia memiliki mahkota atau jambul di atas paruhnya. Mahkota Burung Polociong ini berbentuk seperti topi.
Ternyata Burung Talang iri dengan kelebihan sahabatnya itu. Dia ingin memiliki mahkota Burung Polociong dan menyusun rencana untuk didapatkannya.
Pada suatu hari, Burung Talang dan Burung Polociong terbang bersama mengitari hutan Pulau Buru. Setelah terbang cukup jauh, mereka kemudian beristirahat di atas pohon beringin.
Ketika sedang beristirahat, Burung Talang kemudian menyampaikan suatu hal kepada Burung Polociong. Dia berkata hendak meminjam mahkota Burung Polociong.
Pada awalnya Burung Polociong tidak ingin mengabulkan permintaan Burung Talang. Sebab mahkota inilah yang sudah menjadi ciri khasnya sejak lama.
Namun mengingat persahabatannya dengan Burung Talang, dirinya pun rela meminjamkan mahkota tersebut. Burung Polociong pun bertanya berapa lama Burung Talang akan meminjam mahkotanya tersebut.
Burung Talang berkata bahwa dia hanya akan meminjam mahkota tersebut sehari saja. Dia berjanji akan mengembalikannya keesokan hari.
Akhirnya Burung Polociong meminjamkan mahkotanya kepada sahabatnya itu. Bukan main bahagianya Burung Talang karena berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.
Keesokan hari, Burung Polociong menunggu kedatangan Burung Talang. Namun hingga petak tiba, sahabatnya tersebut tidak menampakkan wujudnya.
Hal ini terus berulang selama tiga hari kemudian. Burung Polociong yang mulai khawatir kemudian melaporkan hal ini kepada kepala hutan.
Kepala hutan merupakan pemimpin para burung yang ada di hutan tersebut. Mendengarkan aduan Burung Polociong, kepala hutan kemudian memanggil Burung Kasturi untuk membawa Burung Talang ke hadapannya.
Burung Kasturi pun melaksanakan tugas dari kepala hutan. Dia membawa Burung Talang ke hadapan kepala hutan.
Sesampainya di sana, semua burung yang ada di hutan sudah berkumpul. Kepala hutan hendak menjadikan semua burung sebagai saksi atas masalah tersebut.
Kepala hutan kemudian menanyakan mengapa Burung Talang tidak mengembalikan mahkota Burung Polociong. Dengan angkuh Burung Talang berkata bahwa mahkota tersebut lebih cocok untuknya.
Mendengarkan hal tersebut, kepala hutan menjadi murka. Di hadapan semua burung, kepala hutan kemudian mengusir Burung Talang dari sana.
Dia tidak diperbolehkan kembali dan tinggal di hutan itu lagi. Burung Talang kemudian pergi begitu saja seakan tak peduli.
Burung Polociong yang kecewa mendengarkan jawaban sahabatnya itu tidak puas dengan hasil sidang tersebut. Dirinya kemudian meminta bantuan Burung Kasturi untuk membawanya ke hadapan Burung Talang.
Sesampainya di sana, Burung Polociong berusaha meminta dengan baik kepada Burung Talang. Namun usaha Burung Polociong tidak dianggap begitu saja oleh Burung Talang.
Akhirnya pertengkaran antara kedua sahabat tersebut pecah. Burung Talang yang berukuran lebih besar dan kuat tentu dengan mudah mengalahkan Burung Polociong.
Burung kecil tersebut akhirnya tersungkur di tanah bersimbah darah. Burung Kasturi yang kasihan melihat Burung Polociong kemudian membawanya kembali ke dalam hutan.
Darah yang mengucur dari Burung Polociong ternyata membasahi bulu Burung Kasturi. Akibatnya bulu Burung Kasturi yang awalnya putih berubah menjadi merah.
Burung Kasturi kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada kepala hutan. Akhirnya kepala hutan makin menegaskan hasil sidang sebelumnya bahwa Burung Talang sudah diusir dari tempat tinggal mereka.
Sejak saat itu, Burung Polociong kehilangan mahkota berharganya. Di sisi lain, Burung Talang tidak pernah lagi masuk ke dalam hutan Pulau Buru.
Burung Kasturi juga mendapatkan dampak akibat kejadian tersebut. Bulunya yang putih berubah menjadi merah selamanya sejak saat itu.
Begitulah kisah Burung Talang dan Burung Polociong yang jadi salah satu cerita rakyat dari Maluku.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News





Comments are closed.