Tren alih tanam dan diversifikasi petani tembakau ke berbagai komoditas lain semakin berkembang dan mulai menghasilkan hasil. Sejumlah petani di Magelang dan Temanggung, Jawa Tengah sebagai sentra tembakau kini beralih ke komoditas lain seperti kopi, hortikultura, ubi jalar, dan sorgum yang menjadi pilihan baru karena dinilai mampu memberikan peluang sumber pendapatan baru.
Petani Magelang, Margono adalah salah satunya. Meski awalnya dilema, ia memilih hijrah setelah menyadari dampak negatif tembakau terhadap lingkungan dan kesehatan. “Tiap masuk musim olah tanam tembakau satu tahun sekali, saya merasa bersalah karena menanam tembakau seperti menanam bibit racun yang membuat kecanduan generasi penerus,” ungkap Margono dalam konferensi pers MTCC UNNIMA di Magelang, Rabu 17 Juni 2026.
Kesadaran akan bahaya jangka panjang, kata Margono, berawal dari tekanan ekonomi yang semakin memburuk. Rendahnya harga jual tembakau di tingkat petani tidak sebanding dengan tingginya biaya pengolahan lahan dan produksi.
“Tahun lalu, daun tembakau basah dijual dengan harga 3.000 hingga 4.000 rupiah per kilogram. Itu saya pakai untuk modal pengolahan lahan tidak cukup, padahal satu kali garap lahan butuh 6 juta hingga 7 juta rupiah. Separuhnya saja saya tidak dapat dari jualan tembakau,” kata Margono.
Hasil panen yang tidak cukup menutupi beban produksi membuat Margono terpaksa mengambil pinjaman dari tengkulak. Situasi ini ibarat lingkaran setan yang membuat petani terjerat utang hingga ketergantungan ekonomi berkelanjutan.
“Di desa saya itu banyak pengepul dan tengkulak yang kasih pinjaman modal ke petani. Tapi, nanti setelah panen harus menyetor utang dan pasrah kena di angka berapa karena dia yang kasih pinjaman. Mau untung, malah buntung,” tutur petani asal Desa Pakis yang berada di lereng barat Gunung Merbabu itu.
Tak hanya menangani harga jual yang rendah, pembengkakan biaya produksi akibat kenaikan harga BBM yang memicu perekonomian global belakangan pun ikut berkontribusi pada kondisi petani. “Pestisida misalnya. Dari Maret lalu, harganya naik 20 hingga 30 persen, padahal dulu saja sudah mahal. Lalu, plastik mulsa yang dulu harganya 700 ribu sekarang jadi 1,2 jutaan rupiah per roll. Ini berat sekali,” ujarnya.
Ketidakpastian ekonomi inilah yang mendorong Margono secara konsisten melakukan diversifikasi tembakau selama setahun terakhir.
Hasil studi terbaru Pusat Pengendalian Tembakau Universitas Muhammadiyah Magelang (MTCC UNIMMA) bertajuk “Membangun Dialog tentang Masa Depan Petani Tembakau, Kesehatan Masyarakat, dan Kebijakan Pengendalian Tembakau” yang dirilis Rabu 17 Juni 2026 menunjukkan per tahun 2025, terjadi penurunan jumlah petani tembakau sebesar 71 persen dengan 9.821 petani Magelang beralih ke tanaman nontembakau dari total sebanyak 13.713 petani yang di 20 desa pada tahun 2022.
Margono berharap adanya pembenahan pada kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani. “Harga rokok makin mahal karena bea cukai, tapi keuntungannya buat pemerintah. Sementara petani tidak bisa apa-apa. Bagaimana caranya agar harga jual di tanggul petani berkembang, petani bisa sejahtera,” ucap Margono.
Selain masalah ekonomi, masalah budaya menanam tembakau menjadi tantangan tersendiri bagi upaya alih-alih menanam dan diversifikasi. Padahal, strategi tersebut menjadi sumber pendapatan lain. Hal ini diungkapkan petani Magelang lainnya, Istanto.
Dalam kesempatan yang sama, Istanto memaparkan upaya diversifikasi tembakau dengan kopi arabika menjadi peluang bagi petani untuk mendongkrak pemasukan. Meski pada awalnya upaya ini untuk menerima persetujuan sesama petani lokal, ia menggunakan pendekatan sewa lahan untuk diversifikasi hingga mulai menunjukkan prospek.
“Di Desa Ngemplak, Windusari itu kami dicaci maki oleh warga sana yang seluruhnya petani tembakau. Saya sewa tanah di sana selama 20 tahun, saya tanami Arabika Linie S dari Wonosobo selama 15 bulan mulai berbunga,” tutur Istanto.
Perlahan-lahan, para petani yang menolak mulai tergerak ikut melakukan diversifikasi. Dengan dukungan pemda Magelang, per hari ini total ada 1.075 hektare diversifikasi lahan di 8 kecamatan di Kabupaten Magelang. Lahan-lahan ini digerakkan oleh para petani muda milenial.
Meski begitu, strategi ini masih menemui kendala tersendiri. Ribuan hektare tersebut, kata Istanto, merupakan lahan yang tidak subur.
“Masalahnya air. Kami harap ada embung supaya tidak kesulitan Ketika musim kemarau tiba,” ujar petani Ketua Forum Petani Multikultur Indonesia (FPMI) ini.
Selain itu, Istanto menekankan menekankan harga kopi menambah kesulitan petani untuk menemukan pembeli dengan harga yang pantas dan mengakses modal. “Ceri kopi sekarang naik jadi 22 ribu rupiah per kilogram. Kami harap, sebagai petani kami bisa jadi pengepul dan pemerintah bisa beri sokongan anggaran,” ucap Istanto.
Dinamika pertembakauan di tingkat petani ini diakui oleh pemerintah daerah. Luas lahan tembakau di wilayah Kabupaten Magelang menurun signifikan hingga 50 persen dalam kurun lima tahun terakhir. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang Romza Ernawan yang juga hadir dalam agenda tersebut mengatakan perubahan iklim global sebagai penyebabnya. Ini terkait curah hujan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman tembakau.
“Karena itu berpengaruh sekali pada produktivitas tembakau, sehingga banyak petani tembakau beralih ke komoditas lainnya,” kata Romza.
Data Distanpangan Magelang menunjukkan per tahun 2021 total luas lahan tembakau berada di kisaran 6.000 hektare. Namun, pada akhir tahun 2025, luas lahan tembakau merosot di kisaran 2.500 hingga 3.000 hektare.
Permasalahan tata niaga tembakau yang buruk, menurut Romza, juga turut mempengaruhi penurunan angka petani tembakau. “Dulu lahannya monokultur, lalu kami ajak petani tembakau untuk mulai diversifikasi tumpang sari dengan kopi, edamame, sayuran. Jika tembakau gagal panen, masih ada alternatif pendapatan bagi petani,” ucapnya.
Meski mendorong petani untuk diversifikasi, Distanpangan tidak melarang petani untuk tetap menanam tembakau. “Kami berpihak dari dua sisi. Petani boleh menanam tembakau sepenuhnya, tapi juga boleh diversifikasi,” kata Romza.
Persoalan pertembakauan di Indonesia begitu kompleks sehingga perlu mempertimbangkan kesejahteraan petani sekaligus kesehatan masyarakat.
Ketua MTCC UNIMMA Retno Resdjojati mengatakan isu tembakau tidak hanya berkaitan dengan sektor pertanian, tetapi juga menyangkut pembangunan daerah, perlindungan generasi mendatang, serta arah kebijakan pembangunan nasional.
Oleh karena itu, diperlukan dialog dan kolaborasi oleh seluruh pemangku kepentingan agar solusi yang dihasilkan dapat mengakomodasi berbagai kepentingan secara berimbang, ucap Retno.
Selama ini, menurut Retno, petani tembakau kerap dijadikan tameng oleh industri rokok untuk menolak berbagai kebijakan pengendalian tembakau. Padahal, kenyataan di lapangan menunjukkan petani masih jauh dari sejahtera.
“Mulai dari pemasaran harga, perubahan iklim, biaya produksi yang semakin tinggi hingga keterbatasan akses terhadap alternatif usaha yang berkelanjutan,” kata dia.
Di sisi kesehatan, ujar Retno, tingginya angka prevalensi perokok usia muda di Indonesia juga merupakan masalah serius yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Data Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) menunjukkan jumlah perokok di Indonesia meningkat sekitar 8,8 juta orang dalam kurun 10 tahun terakhir. Data tersebut Merujuk pada Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021 yang dirilis kembali oleh Organisasi Kesehatan Dunia WHO dan Kementerian Kesehatan pada tahun 2024. Hasil survei menunjukkan sebanyak 34,5 persen penduduk dewasa Indonesia atau sekitar 70,2 juta perokok. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan prevalensi rokok tertinggi di dunia.
“Oleh karena itu, kesejahteraan petani dan perlindungan kesehatan masyarakat tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya seharusnya ditempatkan dalam satu kerangka pembangunan yang saling menguatkan,” ujar Retno.





Comments are closed.