Waluyo dan beberapa temannya segera lari ke dalam kebun sawit ketika ada petugas imigrasi Malaysia datang. Ia bersembunyi di antara pohon sawit dan diam di sana lebih dari dua jam sampai petugas imigrasi pergi. Ia takut, jika nanti akhirnya ia ditangkap.
Pikirannya ke mana-mana, ia sudah kepalang terjebak dalam lingkaran perdagangan orang. Ia dikejar-kejar imigrasi dan juga penyalur pertamanya karena masih terlilit utang. Kondisi ini seakan membuat Waluyo tak punya pilihan lagi selain tetap bekerja diam-diam, mencari penyalur pekerjaan demi mengirim uang ke keluarga di Ogan Ilir dan membayar utang.
Kecemasan itu datang terus, hingga suatu hari, sebuah musibah datang. Ia terjatuh dari tangga setinggi enam meter, kaki kanannya mati rasa. Ia tidak bisa dibawa ke rumah sakit, karena seluruh dokumennya sudah kadaluarsa dan palsu. Kakinya berakhir pincang dan ia tidak bisa lagi bekerja.

Kisah tragis itu tidak pernah terbayang dalam kepala Waluyo, warga Desa Payaraman Utara, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Pada tahun 2022, ketika ia memutuskan untuk bekerja di Malaysia bermula dari kondisi ekonomi yang serba pas-pasan. Ia sehari-hari adalah buruh bangunan dengan penghasilan tak menentu. Dalam sebulan ia bisa mendapat upah 3-4 juta yang kemudian digunakan untuk hidup bersama istri dan tiga orang anak.
Ia semakin risau, ketika anak keduanya hendak kuliah, dan si bungsu akan masuk SMA. Sudah terbayang, berapa uang yang harus ia keluarkan setiap bulan, padahal penghasilannya tidak stabil.
Di tengah kekhawatiran itu, sebuah informasi menggiurkan datang. Seorang tetangganya berhasil mendapatkan pekerjaan di Malaysia. Ia pun mengorek informasi lebih dalam dan mendapatkan bahwa ada seorang penyalur tenaga kerja di desa sebelah, desa Srikembang namanya. Setelah berpikir, ia langsung ke desa itu dan menemui Rita, orang yang disebut-sebut sudah banyak menyalurkan tenaga kerja ke Malaysia.
Seingatnya, setelah bertemu dengan Rita dan setuju untuk bekerja di Malaysia, Waluyo bersama 30 orang lainnya dari Desa Payaraman Barat dikumpulkan di rumah Rita untuk diberikan arahan terkait rencana keberangkatan ke Malaysia.
“Laki-laki akan bekerja di proyek konstruksi, sedangkan perempuan akan bekerja di rumah tangga dengan upah Rp 10 juta per bulan,” kata Waluyo.

Untuk Waluyo dan tujuh orang lainnya, Rita menambah syarat khusus, yakni membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) palsu. Alasannya, karena umur yang sudah tidak dapat lagi bekerja sesuai syarat di Malaysia. Waluyo diminta menyetor foto diri dan foto KTP yang lama, untuk pembuatan KTP baru di Lampung.
“Terus juga diminta uang sebesar Rp2,5 juta yang akan digunakan untuk biaya perjalanan ke Lampung. Pas sampai sana, kita cuma dikumpulkan di pantai dan ada yang mengantar KTP yang sudah jadi,” kata Waluyo.
Waluyo lantas diminta untuk membuat rekening di Bank BRI Lampung, namun ditolak oleh bank dikarenakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang tak sesuai. Kejanggalan seperti mengumpulkan uang, pembuatan KTP palsu hingga penolakan pembuatan rekening belum disadari oleh Waluyo sebagai keganjilan. Ia tetap berangkat ke Malaysia.
Waluyo diberangkatkan ke Batam sekitar dua minggu setelah KTP palsu dibuat. Dengan menggunakan KTP palsu itu, Waluyo membuat paspor. Anehnya pembuatan paspor itu berjalan mulus, sehingga Waluyo pun segera berganti identitas menjadi Wa Kuncoro, kelahiran 1978. Waluyo jadi lebih muda 10 tahun dalam identitas palsu itu.
Setelah urusan selesai, dia bersama 11 orang lainnya dalam kloter kedua diberangkatkan melalui jalur laut.
“Waktu itu menginap dulu dua malam, dan setelahnya kita semua diseberangkan ke Malaysia melalui Pelabuhan Batam Center ke Pelabuhan Stulang Laut,” kata ayah tiga anak itu.

Bekerja Ilegal di Proyek Perumahan
Setiba di Malaysia, Waluyo bersama 17 orang lainnya bekerja di sebuah proyek perumahan milik pengembang besar bernama Tropicana Uplands. Salah satunya proyeknya di daerah Gelang Patah. Perumahan mewah itu kini dibandrol dengan kisaran harga RM598 ribu – RM720 ribu.
Setelah bekerja sebulan, gaji yang diterima Waluyo tidak seperti yang dijanjikan. Sebelum berangkat, ia diperkirakan bisa mendapat gaji hingga Rp10 juta, namun kenyataannya hanya mendapatkan upah RM1.800 atau berkisar Rp6 jutaan.
Upah itu pun tidak sepenuhnya untuk Waluyo, namun dipotong RM1.000 oleh penyalur, sehingga ia hanya menerima RM800.
“Dari 1.800 ringgit, dipotong 1.000 ringgit oleh penyalur. Sisa 800, dan harus dikirim ke rumah 600 ringgit. Jadi saya pegang cuma 200 ringgit, kalau rupiahnya mungkin sekitar Rp700 ribu,” kata dia sambil menghela nafas.
Dengan sisa uang itu, Waluyo bahkan tidak bisa membeli makan. Ia harus mengutang di kantin dan ke penyalur untuk kebutuhan hidup di Malaysia.
Dua bulan bekerja di sana, ia tak tahan lagi dengan potongan penyalur. Ia bersama empat orang temannya akhirnya melarikan diri dan mencari pekerjaan lain. Dari Johor Baru mereka memesan taksi online dan pergi ke Selangor. Di sana ia sudah mendapatkan penyalur kerja baru, di sebuah proyek perumahan rakyat program pemerintah Malaysia.
Di proyek baru ini Waluyo mendapatkan gaji utuh. Pada bulan pertama bekerja, ia bisa mengirim uang ke keluarga di kampung sebesar Rp9 juta. Ia juga tidak lagi kepikiran soal makan, sebab urusan itu sudah disediakan oleh perusahaan yang menggarap proyek. Mereka diberi bahan-bahan makan mentah, sehingga Waluyo dan teman-temannya tinggal memasak sendiri.

Tiga bulan bekerja, musibah datang. Waluyo terjatuh dari tangga setinggi enam meter dan badannya mendarat di tumpukan batu bekas konstruksi. Waluyo masih sadar, namun kaki kanannya terkulai tidak ada rasa dan tidak bisa digerakan.
Waluyo lantas dibawa ke pengobatan alternatif patah tulang, sebab ia tidak mungkin dibawa ke rumah sakit mengingat ia adalah pekerja ilegal. Dua hari dirawat di pengobatan alternatif, kondisinya tidak membaik. Ia lantas dibawa pulang ke kontrakan di Rawang, Selangor, dengan kondisi kaki bengkak dan tidak bisa bergerak, dan tangannya digips.
Kerja Gagal, Kuliah Anak Ikut Batal
Selama tiga bulan, Waluyo hanya berdiam dikontrakan, ia tidak bisa bekerja. Pada bulan pertama Waluyo hidup dari uang santunan perusahaan dan sumbangan dari teman sesama pekerja. Bulan kedua dan ketiga, ia justru yang menerima kiriman uang dari kampung untuk kebutuhan hidup.
Sahida, istri Waluyo sudah meminta Waluyo pulang, tapi Waluyo masih ingin bertahan di Malaysia. Karena Waluyo bersikeras, Sahida pun mencarikan uang untuk biaya berobat di Malaysia. Ia meminjam uang ke koperasi untuk kebutuhan Waluyo.
“Waktu itu kami bingung melihat keadaan bapak disana, bapak belum mau pulang karena masih ingin bekerja saat pulih. Akhirnya kami di sini mengirimkan uang untuk bapak disana, uangnya dari jualan dan meminjam di koperasi Mekar. Setelahnya kami menjual harus menjual motor dan TV dirumah kami untuk membayar hutang itu,” kata Sahida.


Karena sudah tak mungkin ada kesembuhan dan kesempatan bekerja lagi, Waluyo akhirnya pulang. Ia pasrah. Bersama teman-temannya ia diantar ke imigrasi Malaysia untuk pulang. Ia didenda RM2.100 sebelum diperbolehkan pulang ke Indonesia.
Setelah pulang ke desa Payaraman Utara kehidupan Waluyo berubah, yang dulu aktivitasnya sangat mudah, sekarang waluyo harus dibantu dengan tongkat. Waluyo sekarang juga tidak dapat lagi bekerja.
“sekarang saya tidak dapat lagi bekerja seperti biasa, dulu sebelum cidra setiap bulannya pasti ada saja orang yang meminta saya untuk membangun rumah. Sekarang saya hanya bantu-bantu istri saja mempromosikan jualannya di facebook,” kata Waluyo.
Angger, anak Waluyo yang nomor dua pun kini batal kuliah karena tidak ada dana, padahal Waluyo berangkat ke Malaysia bertujuan untuk menyekolahkan Angger. Setelah lulus SMA, Angger pun menganggur.
“Saya tidak jadi kuliah karena bapak mendapat musibah kemarin, rencananya saya mau masuk teknik elektro setelah tamat sekolah. Kini saya belum mendapatkan pekerjaan, saya cuma bantu-bantu ibuk saja dirumah atau berjualan makanan,” ujar Angger.






Comments are closed.