Sun,3 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Korban TPPO di Malaysia: Jadi Tukang Perumahan Mewah, Celaka Lalu Dideportasi

Korban TPPO di Malaysia: Jadi Tukang Perumahan Mewah, Celaka Lalu Dideportasi

service

Waluyo dan beberapa temannya segera lari ke dalam kebun sawit ketika ada petugas imigrasi Malaysia datang. Ia bersembunyi di antara pohon sawit dan diam di sana lebih dari dua jam sampai petugas imigrasi pergi. Ia takut, jika nanti akhirnya ia ditangkap. 

Pikirannya ke mana-mana, ia sudah kepalang terjebak dalam lingkaran perdagangan orang. Ia dikejar-kejar imigrasi dan juga penyalur pertamanya karena masih terlilit utang. Kondisi ini seakan membuat Waluyo tak punya pilihan lagi selain tetap bekerja diam-diam, mencari penyalur pekerjaan demi mengirim uang ke keluarga di Ogan Ilir dan membayar utang.

Kecemasan itu datang terus, hingga suatu hari, sebuah musibah datang. Ia terjatuh dari tangga setinggi enam meter, kaki kanannya mati rasa. Ia tidak bisa dibawa ke rumah sakit, karena seluruh dokumennya sudah kadaluarsa dan palsu. Kakinya berakhir pincang dan ia tidak bisa lagi bekerja.


Waluyo terjebak dalam lingkaran perdagangan orang ke Malaysia. Mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan kaki kanannya lumpuh. (Project M/ Prabu Rizki)

Kisah tragis itu tidak pernah terbayang dalam kepala Waluyo, warga Desa Payaraman Utara, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Pada tahun 2022, ketika ia memutuskan untuk bekerja di Malaysia bermula dari kondisi ekonomi yang serba pas-pasan. Ia sehari-hari adalah buruh bangunan dengan penghasilan tak menentu. Dalam sebulan ia bisa mendapat upah 3-4 juta yang kemudian digunakan untuk hidup bersama istri dan tiga orang anak. 

Ia semakin risau, ketika anak keduanya hendak kuliah, dan si bungsu akan masuk SMA. Sudah terbayang, berapa uang yang harus ia keluarkan setiap bulan, padahal penghasilannya tidak stabil.

Di tengah kekhawatiran itu, sebuah informasi menggiurkan datang. Seorang tetangganya berhasil mendapatkan pekerjaan di Malaysia. Ia pun mengorek informasi lebih dalam dan mendapatkan bahwa ada seorang penyalur tenaga kerja di desa sebelah, desa Srikembang namanya. Setelah berpikir, ia langsung ke desa itu dan menemui Rita, orang yang disebut-sebut sudah banyak menyalurkan tenaga kerja ke Malaysia.

Seingatnya, setelah bertemu dengan Rita dan setuju untuk bekerja di Malaysia, Waluyo bersama 30 orang lainnya dari Desa Payaraman Barat dikumpulkan di rumah Rita untuk diberikan arahan terkait rencana keberangkatan ke Malaysia.

“Laki-laki akan bekerja di proyek konstruksi, sedangkan perempuan akan bekerja di rumah tangga dengan upah Rp 10 juta per bulan,” kata Waluyo.

Waluyo diminta oleh penyalur tenaga kerjanya untuk membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) palsu (kanan) dari Provinsi Lampung dengan usia lebih muda 10 tahun. Alasannya untuk menyesuaikan syarat usia bekerja di Malaysia. (Project M/ Prabu Rizki)

Untuk Waluyo dan tujuh orang lainnya, Rita menambah syarat khusus, yakni membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) palsu. Alasannya, karena umur yang sudah tidak dapat lagi bekerja sesuai syarat di Malaysia. Waluyo diminta menyetor foto diri dan foto KTP yang lama, untuk pembuatan KTP baru di Lampung. 

“Terus juga diminta uang sebesar Rp2,5 juta yang akan digunakan untuk biaya perjalanan ke Lampung. Pas sampai sana, kita cuma dikumpulkan di pantai dan ada yang mengantar KTP yang sudah jadi,” kata Waluyo.

Waluyo lantas diminta untuk membuat rekening di Bank BRI Lampung, namun ditolak oleh bank dikarenakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang tak sesuai. Kejanggalan seperti mengumpulkan uang, pembuatan KTP palsu hingga penolakan pembuatan rekening belum disadari oleh Waluyo sebagai keganjilan. Ia tetap berangkat ke Malaysia.

Waluyo diberangkatkan ke Batam sekitar dua minggu setelah KTP palsu dibuat. Dengan menggunakan KTP palsu itu, Waluyo membuat paspor. Anehnya pembuatan paspor itu berjalan mulus, sehingga Waluyo pun segera berganti identitas menjadi Wa Kuncoro, kelahiran 1978. Waluyo jadi lebih muda 10 tahun dalam identitas palsu itu.

Setelah urusan selesai, dia bersama 11 orang lainnya dalam kloter kedua diberangkatkan melalui jalur laut. 

“Waktu itu menginap dulu dua malam, dan setelahnya kita semua diseberangkan ke Malaysia melalui Pelabuhan Batam Center ke Pelabuhan Stulang Laut,” kata ayah tiga anak itu.

Paspor Waluyo dibuat di Batam dengan menggunakan KTP palsu yang dibuat di Lampung. Namanya menjadi Wa Kuncoro, kelahiran Surabaya dengan usia yang lebih muda 10 tahun dari usia sebenarnya di KTP asli. (Project M/ Prabu Rizki)

Bekerja Ilegal di Proyek Perumahan

Setiba di Malaysia, Waluyo bersama 17 orang lainnya bekerja di sebuah proyek perumahan milik pengembang besar bernama Tropicana Uplands. Salah satunya proyeknya di daerah Gelang Patah. Perumahan mewah itu kini dibandrol dengan kisaran harga RM598 ribu – RM720 ribu. 

Setelah bekerja sebulan, gaji yang diterima Waluyo tidak seperti yang dijanjikan. Sebelum berangkat, ia diperkirakan bisa mendapat gaji hingga Rp10 juta, namun kenyataannya hanya mendapatkan upah RM1.800 atau berkisar Rp6 jutaan. 

Upah itu pun tidak sepenuhnya untuk Waluyo, namun dipotong RM1.000 oleh penyalur, sehingga ia hanya menerima RM800. 

“Dari 1.800 ringgit, dipotong 1.000 ringgit oleh penyalur. Sisa 800, dan harus dikirim ke rumah 600 ringgit. Jadi saya pegang cuma 200 ringgit, kalau rupiahnya mungkin sekitar Rp700 ribu,” kata dia sambil menghela nafas.

Dengan sisa uang itu, Waluyo bahkan tidak bisa membeli makan. Ia harus mengutang di kantin dan ke penyalur untuk kebutuhan hidup di Malaysia. 

Dua bulan bekerja di sana, ia tak tahan lagi dengan potongan penyalur. Ia bersama empat orang temannya akhirnya melarikan diri dan mencari pekerjaan lain. Dari Johor Baru mereka memesan taksi online dan pergi ke Selangor. Di sana ia sudah mendapatkan penyalur kerja baru, di sebuah proyek perumahan rakyat program pemerintah Malaysia. 

Di proyek baru ini Waluyo mendapatkan gaji utuh. Pada bulan pertama bekerja, ia bisa mengirim uang ke keluarga di kampung sebesar Rp9 juta. Ia juga tidak lagi kepikiran soal makan, sebab urusan itu sudah disediakan oleh perusahaan yang menggarap proyek. Mereka diberi bahan-bahan makan mentah, sehingga Waluyo dan teman-temannya tinggal memasak sendiri.

Waluyo menunjukkan foto rontgen tulangnya yang retak akibat terjatuh dari ketinggian enam meter. Saat ini ia terpaksa menggunakan tongkat untuk membantunya beraktivitas. (Project M/ Prabu Rizki)

Tiga bulan bekerja, musibah datang. Waluyo terjatuh dari tangga setinggi enam meter dan badannya mendarat di tumpukan batu bekas konstruksi. Waluyo masih sadar, namun kaki kanannya terkulai tidak ada rasa dan tidak bisa digerakan. 

Waluyo lantas dibawa ke pengobatan alternatif patah tulang, sebab ia tidak mungkin dibawa ke rumah sakit mengingat ia adalah pekerja ilegal. Dua hari dirawat di pengobatan alternatif, kondisinya tidak membaik. Ia lantas dibawa pulang ke kontrakan di Rawang, Selangor, dengan kondisi kaki bengkak dan tidak bisa bergerak, dan tangannya digips. 

Kerja Gagal, Kuliah Anak Ikut Batal

Selama tiga bulan, Waluyo hanya berdiam dikontrakan, ia tidak bisa bekerja. Pada bulan pertama Waluyo hidup dari uang santunan perusahaan dan sumbangan dari teman sesama pekerja. Bulan kedua dan ketiga, ia justru yang menerima kiriman uang dari kampung untuk kebutuhan hidup. 

Sahida, istri Waluyo sudah meminta Waluyo pulang, tapi Waluyo masih ingin bertahan di Malaysia. Karena Waluyo bersikeras, Sahida pun mencarikan uang untuk biaya berobat di Malaysia. Ia meminjam uang ke koperasi untuk kebutuhan Waluyo.

“Waktu itu kami bingung melihat keadaan bapak disana, bapak belum mau pulang karena masih ingin bekerja saat pulih. Akhirnya kami di sini mengirimkan uang untuk bapak disana, uangnya dari jualan dan meminjam di koperasi Mekar. Setelahnya kami menjual harus menjual motor dan TV dirumah kami untuk membayar hutang itu,” kata Sahida.

Sahida menawarkan dagangan ayam geprek ke tetangganya. Ketika Waluyo mengalami musibah dan berharap sembuh untuk tetap bisa bekerja di Malaysia, Sahida mengirim hasil penjualan ayamnya ke Malaysia untuk biaya hidup harian dan berobat Waluyo. Saat ini ia masih berjualan. Dalam sehari, Sahida mampu menjual 30 potong ayam dengan harga jual Rp. 12 ribu / potong. (Project M/ Prabu Rizki)
Waluyo sekarang lebih banyak berada di rumah. Tongkat dan hewan peliharaan menjadi sahabat Waluyo untuk menemani dirinya yang sulit untuk kerja seperti dahulu. (Project M/ Prabu Rizki)

Karena sudah tak mungkin ada kesembuhan dan kesempatan bekerja lagi, Waluyo akhirnya pulang. Ia pasrah. Bersama teman-temannya ia diantar ke imigrasi Malaysia untuk pulang. Ia didenda RM2.100 sebelum diperbolehkan pulang ke Indonesia. 

Setelah pulang ke desa Payaraman Utara kehidupan Waluyo berubah, yang dulu aktivitasnya sangat mudah, sekarang waluyo harus dibantu dengan tongkat. Waluyo sekarang juga tidak dapat lagi bekerja.

“sekarang saya tidak dapat lagi bekerja seperti biasa, dulu sebelum cidra setiap bulannya pasti ada saja orang yang meminta saya untuk membangun rumah. Sekarang saya hanya bantu-bantu istri saja mempromosikan jualannya di facebook,” kata Waluyo.

Angger, anak Waluyo yang nomor dua pun kini batal kuliah karena tidak ada dana, padahal Waluyo berangkat ke Malaysia bertujuan untuk menyekolahkan Angger. Setelah lulus SMA, Angger pun menganggur.

“Saya tidak jadi kuliah karena bapak mendapat musibah kemarin, rencananya saya mau masuk teknik elektro setelah tamat sekolah. Kini saya belum mendapatkan pekerjaan, saya cuma bantu-bantu ibuk saja dirumah atau berjualan makanan,” ujar Angger.

Waluyo menggunakan tongkat sebagai alat bantu untuk berjalan. Saat ini ia lebih banyak membantu mempromosikan ayam geprek jualan istrinya di Facebook. Terkadang ada yang meminta bantuan Waluyo membuatkan denah rumah, menghitung anggaran dan bahan bangunan yang diperlukan untuk membangun rumah, termasuk mencarikan tukangnya. (Project M/ Prabu Rizki)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.