Mon,20 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Krisis Air Mengintai di Puncak Kemarau, Akademisi UGM Soroti Lemahnya Kesiapan Infrastruktur

Krisis Air Mengintai di Puncak Kemarau, Akademisi UGM Soroti Lemahnya Kesiapan Infrastruktur

krisis-air-mengintai-di-puncak-kemarau,-akademisi-ugm-soroti-lemahnya-kesiapan-infrastruktur
Krisis Air Mengintai di Puncak Kemarau, Akademisi UGM Soroti Lemahnya Kesiapan Infrastruktur
service

Jakarta, NU Online

Ancaman krisis air diperkirakan semakin meningkat seiring menguatnya fenomena El Nino yang bertepatan dengan puncak musim kemarau pada Juli hingga September. Dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwikorita Karnawati menilai bahwa kondisi tersebut tidak hanya memicu kekeringan berkepanjangan, tetapi juga mengancam ketahanan pangan akibat meningkatnya risiko gagal panen.

Ia mengatakan walaupun pada Bulan Juli masih terdapat sejumlah wilayah yang diguyur hujan, kondisi tersebut harus dimanfaatkan sebagai kesempatan terakhir untuk memperkuat cadangan air sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.

“Bulan Juli masih ada beberapa wilayah yang masih mengalami hujan, ini waktunya untuk mengupayakan pemanenan air hujan saat hujan masih turun,” ujarnya dalam Webinar Kesiapsiagaan Dampak El Nino: Memperkuat Ketahanan Kesehatan, Pangan, dan Masyarakat Indonesia, Sabtu (18/7/2026).

Dwikorita menilai, kesiapan infrastruktur air menjadi faktor penting dalam menghadapi ancaman kekeringan. Ia berharap embung-embung yang dibangun di berbagai daerah telah terisi saat musim hujan lalu. Selain itu, setiap rumah juga perlu memiliki tandon penampung air sebagai cadangan ketika pasokan mulai berkurang.

“Perlu dipersiapkan juga pompa-pompa air jangan sampai macet, kalau macet jadi kesulitan mendapatkan air, apalagi di musim kemarau ini. Ini mohon siap-siap mengajak pemeliharaan pompa-pompa,” katanya.

Ia juga menyoroti persoalan distribusi air yang masih kerap menjadi kendala di sejumlah wilayah. Menurutnya, tidak sedikit daerah pertanian mengalami kekeringan meski bendungan masih menyimpan cadangan air dalam jumlah besar.

“Kadang sistem irigasi tidak berjalan normal. Di bendung itu ada air, tapi beberapa kali terjadi kekeringan, karena air di bendungan tidak di keluarkan untuk pertanian, pahadal lahan pertanian sudah mengalami kekeringan,” ungkapnya.

Dwikorita menekankan bahwa ancaman krisis air tidak semata dipengaruhi oleh faktor cuaca, tetapi juga oleh lemahnya kesiapan infrastruktur, pemeliharaan sarana air, serta pengelolaan sistem irigasi.

Ia menambahkan, tanpa perbaikan infrastruktur, maka ketersediaan air yang sebenarnya masih ada tidak dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun sektor pertanian.

Lebih lanjut, Dwikorita menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim. “Maka peran perguruan tinggi dan mahasiswanya adalah perlu melakukan upaya edukasi masyarakat di terasi demi meningkatkan kesadaran untuk menjaga lingkungan, pemanen air hujan bila hujan masih turun,” katanya.

Senada, Dosen Teknik Geodesi UGM Leni Sophia Heliani menegaskan bahwa mahasiswa perlu hadir di tengah masyarakat untuk memberikan edukasi mengenai dampak perubahan iklim yang semakin nyata.

“Peran mahasiswa dalam menjawab isu global ketika berada di lingkungan masyarakat adalah mengedukasi mengenai perubahan musim, kenaikan suhu, cuaca ekstrem, hingga pada kesehatan. Pendidikan iklim ini harus menghasilkan perubahan perilaku masyarakat untuk menghemat air, bersih lingkungan, siap bencana, dan menjaga ekosistem,” ujarnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.