Fri,10 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Krisis Kekeringan Kian Parah, LPBI PBNU Soroti Kerusakan Hutan dan Tata Kelola Air

Krisis Kekeringan Kian Parah, LPBI PBNU Soroti Kerusakan Hutan dan Tata Kelola Air

krisis-kekeringan-kian-parah,-lpbi-pbnu-soroti-kerusakan-hutan-dan-tata-kelola-air
Krisis Kekeringan Kian Parah, LPBI PBNU Soroti Kerusakan Hutan dan Tata Kelola Air
service

Jakarta, NU Online

Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPBI PBNU) menilai bahwa krisis kekeringan yang melanda berbagai wilayah Indonesia tidak hanya dipicu oleh faktor cuaca, tetapi juga dipengaruhi lemahnya tata kelola sumber daya air dan kerusakan lingkungan yang terus berlangsung.

Anggota LPBI PBNU Anwar Sjani mengatakan persoalan kekeringan harus disikapi secara menyeluruh karena melibatkan faktor alam sekaligus aktivitas manusia yang memperparah kondisi.

Menurutnya, faktor pertama yang menjadi penyebab kekeringan adalah kondisi alam dan perubahan iklim. Musim kemarau yang berlangsung lebih panjang serta pola hujan yang tidak menentu menyebabkan debit air sungai mengalami penurunan hingga sekitar 20 persen di sejumlah daerah.

“Di beberapa tempat itu memang El Nino berulang terus. Dan ini akhirnya menyebabkan memperparah kekeringan. Memang faktor-faktor ini agak sulit sih kita mengatasinya karena ada faktor alam,” ujarnya kepada NU Online, Rabu (8/7/2026).

Selain faktor iklim, Anwar menyoroti ketimpangan distribusi sumber daya air di Indonesia. Menurutnya, potensi air nasional sebenarnya melimpah, tetapi penyebarannya tidak merata sehingga banyak daerah tetap mengalami kekeringan.

Ia mencontohkan Waduk Jatiluhur yang memiliki debit air cukup tinggi dan mampu memasok kebutuhan air hingga Jakarta. Namun, wilayah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak memiliki kemudahan serupa sehingga membutuhkan pembangunan waduk berkapasitas besar sebagai penampung cadangan air.

Faktor lain yang dinilai paling mendesak untuk dibenahi adalah dampak aktivitas manusia. Ia menegaskan bahwa alih fungsi hutan dan lahan menjadi kawasan permukiman maupun industri telah mempercepat deforestasi dan menghilangkan kawasan resapan air.

“Deforestasi itu menghilangkan daerah-daerah resapan air, air hutan berkurang secara drastis. Itu faktor penyebab utamanya tata kelola dan itu juga pasti disebabkan (oleh) manusia yang buat ini,” katanya.

Anwar juga menyoroti pencemaran limbah industri yang dinilai masih lemah pengawasannya. Menurutnya, setiap limbah industri seharusnya dipantau secara ketat oleh kementerian terkait agar tidak mencemari sungai dan lahan pertanian hingga menyebabkan sumber air menjadi tidak layak digunakan.

Selain itu, Ia menilai eksploitasi air tanah, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, turut memperburuk krisis air.

“Ini terutama di beberapa kota besar seperti Jakarta, menyebabkan banyak penurunan permukaan air tanah. Kenapa? Hampir semuanya, mungkin gedung-gedung besar, yang pasti gedung-gedung bertingkat, itu masih menggunakan air tanah,” ucapnya.

Anwar menekankan perlunya pembenahan tata kelola air, perlindungan kawasan hutan, serta pengawasan terhadap industri sebagai langkah penting untuk mengurangi risiko kekeringan yang terus meningkat.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.