Mon,4 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Laporan Ungkap Dugaan Kerja Paksa Industri Tuna Indonesia yang Ekspor ke Australia

Laporan Ungkap Dugaan Kerja Paksa Industri Tuna Indonesia yang Ekspor ke Australia

laporan-ungkap-dugaan-kerja-paksa-industri-tuna-indonesia-yang-ekspor-ke-australia
Laporan Ungkap Dugaan Kerja Paksa Industri Tuna Indonesia yang Ekspor ke Australia
service

Indonesia berkontribusi besar terhadap produksi tuna global, hingga mencapai 19%. Di balik  itu, industri ini menyimpan sisi gelap yang belum banyak terungkap, salah satu soal nasib miris pekerja perikanan.  Laporan  Greenpeace Asia Tenggara bersama organisasi gereja Australia, Uniting Church in Australia mengungkap, kerja paksa terhadap 25 awak kapal perikanan (AKP)  di 17 kapal  berbendera Indonesia dengan tuna masuk ke pasar Australia. Dalam investigasinya, mereka mewawancarai para AKP di empat pelabuhan utama yang jadi pusat penurunan ikan tuna: Kendari, Bitung, Benoa, dan Jakarta. Mereka menganalisis kesaksian 25 AKP dengan menggunakan 11 indikator kerja paksa dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO); Konvensi ILO C-29, Konvensi ILO C-188, serta ILO Handbook for Detection of Forced Labour in Commercial Fishing. Hasilnya, ada tiga indikator yang paling sering para AKP alami, yakni, penyalahgunaan kerentanan (56%), jeratan utang atau debt bondage (56%), dan penipuan (40%). Peserta diskusi menandatangi petisi desakan perlindungan untuk awak kapal perikanan. Foto: Achmad Rizky Muazam/Mongabay Indonesia. Laporan yang Greenpeace rilis 3 Maret itu menunjukkan, AKP mengalami kerja paksa sejak mereka mulai bekerja hingga kontrak berakhir. Para AKP ini mengikuti proses perekrutan oleh calo secara manipulatif dengan iming-iming gaji tinggi dan pinjaman uang. Praktiknya, para calo justru mematok biaya ilegal dan berlebihan di luar kesepakatan. Misal, biaya perjalanan, pelatihan, dan persiapan dokumen. Calo juga menahan dokumen identitas dan barang pribadi para AKP saat tiba di pelabuhan. Dengan begitu, pemilik kapal memegang kendali penuh atas AKP di tengah laut lepas. Sihar Silalahi, Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia mengatakan, para ABK banyak berasal dari pedesaan dengan…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.