Wed,27 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Owa Siamang dan Kelestarian Hutan Bukit Lumut Balai

Owa Siamang dan Kelestarian Hutan Bukit Lumut Balai

owa-siamang-dan-kelestarian-hutan-bukit-lumut-balai
Owa Siamang dan Kelestarian Hutan Bukit Lumut Balai
service

Matahari menyinari sawah bertingkat di Datas Pagi. Masyarakat Suku Semende menyebut wilayah ini sebagai ataran atau lanskap sawah yang berada di ketinggian 1.300 mdpl. Letaknya, di kaki Bukit Lumut Balai, bagian Bukit Barisan di Sumatera Selatan. Secara administratif, Datas Pagi masuk wilayah Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim. Namun, sebagian besar orang yang berkebun kopi dan menggarap sawah di sini, berasal dari Desa Muara Tenang, Kecamatan Semende Darat Tengah. “Keluarga tertua yang berkebun di sini sekitar enam generasi,” kata Mang Zakaria (42), petani di  Datas Pagi, kelahiran Desa Segamit, namun menetap di Desa Muara Tenang, kepada Mongabay Indonesia, Rabu (15/4/2026). Setiap hari, Zakaria beserta istri dan anaknya terbiasa menempuh perjalanan pulang-pergi dari Muara Tenang ke Datas Pagi dengan sepeda motor. Jaraknya sekitar 42 kilometer, dengan medan turun, naik, dan berkelok. Terkadang saat musim hujan, mereka lebih memilih menginap di dangau atau kebun. “Takut longsor.” Lanskap ataran Datas Pagi yang dihiasi padi hijau. Foto drone: Ariadi Damara/Mongabay Indonesia. Mansir (51), warga Desa Tanjung Tiga, menjelaskan masyarakat sudah menggarap sawah di sekitar Datas Pagi turun temurun, sejak ratusan tahun lalu. Setelahnya, baru masuk kopi sekitar abad ke-19, disusul sayuran sejak tahun 2000-an. “Ada puluhan keluarga berkebun di sini. Dulu, wilayah ini terkenal sebagai penghasil sayur. Tapi sekarang berkurang, berganti kebun kopi.” Saat ini, mayoritas keluarga menggarap lahan sawah dan kopi. Pada pertengahan April, seperti biasanya, padi menghijau. Pada fase ini, sawah nampak sepi karena tidak lagi membutuhkan perawatan intensif, hanya menunggu panen sekitar Juni-Juli. Di sela waktu itu,…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.