
Legenda Ki Ageng Tunggul Wulung dan Benda Pusaka Majapahit, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
Ada sebuah cerita rakyat dari Yogyakarta yang berkisah tentang legenda Ki Ageng Tunggul Wulung, salah seorang bangsawan Majapahit yang melarikan diri ketika kerajaan itu diduduki oleh pihak musuh. Dalam pelariannya ini, Ki Ageng Tunggul Wulung membawa tiga benda pusaka Majapahit yang nantinya akan diberikan pada kesatria yang tepat.
Bagaimana kisah lengkap dari legenda Ki Ageng Tunggul Wulung dan benda pusaka Majapahit tersebut?
Legenda Ki Ageng Tunggul Wulung dan Benda Pusaka Majapahit, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
Dilihat dari buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, alkisah perang tengah berkecamuk di Majapahit. Pasukan Majapahit terdesak akibat serangan ini hingga wilayah kekuasaannya berhasil diduduki oleh pihak musuh.
Para bangsawan majapahit kemudian melarikan diri dan meninggalkan daerah tersebut. Salah satu di antaranya adalah Ki Ageng Tunggul Wulung.
Dirinya mengajak sang istri, Raden Ayu Gadung Mlati dan para pengikutnya untuk pergi keluar dari ibu kota Majapahit lewat jalan rahasia. Mereka berniat untuk menuju daerah aman yang berada di sisi barat daya Majapahit.
Rombongan Ki Ageng Tunggul Wulung juga disertai oleh dua makhluk halus, yakni Raden Sutejo dan Raden Purworejo. Kedua makhluk halus ini senantiasa menjaga keamanan perjalanan rombongan tersebut.
Perjalanan Ki Ageng Tunggul Wulung ini sebenarnya tidak hanya pelarian biasa saja. Sebab dia juga membawa benda pusaka Majapahit, seperti tombak Tunggul Wasesa, keris Pulung Geni, dan bendera Kyai Tunggul Wulung.
Ketiga benda pusaka ini dititipkan oleh Prabu Brawijaya Kertabhumi padanya. Prabu Brawijaya berpesan jika ketiga benda tersebut untuk diserahkan pada orang yang memiliki jiwa kesatria.
Setelah berjalan cukup lama, sampailah rombongan ini di sebuah desa bernama Dukuhan. Desa Dukuhan ini berada di wilayah Sleman saat sekarang dan berada di sisi Sungai Progo.
Ki Ageng Tunggul Wulung merasa yakin jika daerah ini aman bagi mereka untuk mengungsi. Rombongan yang hanya mengenakan pakaian biasa ini kemudian bertemu dengan tetua desa untuk meminta izin agar bisa menetap di sana.
Tetua desa menyambut Ki Ageng Tunggul Wulung dan rombongan dengan tangan terbuka. Mereka dipersilahkan untuk menetap dan berkegiatan di sana.
Sejak saat itu, Ki Ageng Tunggul Wulung hidup layaknya warga Desa Dukuhan. Sehari-hari dia mengolah lahan yang diberikan untuknya dan memanfaatkan hasil pertanian tersebut ketika musim panen tiba.
Meskipun sudah hidup dalam kondisi normal dan tenang, Ki Ageng Tunggul Wulung masih tidak bisa melupakan tanggung jawab yang diberikan untuknya. Ki Ageng Tunggul Wulung terus berusaha mencari orang yang cocok untuk dititipi benda pusaka dari Majapahit.
Pada suatu malam, Ki Ageng Tunggul Wulung mendapatkan sebuah mimpi sebagai petunjuk. Dalam mimpinya itu, dia bertemu dengan Ki Pamanahan.
Benar saja, keesokan harinya Ki Pamanahan benar-benar datang ke Desa Dukuhan. Dirinya juga berniat untuk bertemu langsung dengan Ki Ageng Tunggul Wulung.
Percakapan pun terjadi antara kedua orang sakti ini. Ki Ageng Tunggul Wulung kemudian bertanya perihal Danang Sutawijaya sesuai petunjuk yang didapatkan dalam mimpinya.
Ki Pamanahan tentu mengenal Danang Sutawijaya. Mendengar jawaban dari Ki Pamanahan, Ki Ageng Tunggul Wulung langsung menitipkan ketiga benda pusaka Majapahit padanya untuk diberikan pada Danang Sutawijaya.
Setelah memberikan benda pusaka ini, Ki Ageng Tunggul Wulung bersama para pengikutnya kemudian moksa. Konon tempat moksanya Ki Ageng Tunggul Wulung dan para pengikutnya ini masih dirawat di Desa Dukuhan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.
Tim Editor





Comments are closed.