Cirebon, NU Online
Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UII) Prof Mahfud MD menyoroti krisis kepemimpinan dan penegakan hukum di Indonesia yang kian memprihatinkan. Menurutnya, persoalan mendasar yang dihadapi bangsa hari ini bukan sekadar celah dalam regulasi atau perundang-undangan, melainkan kemerosotan moral di kalangan para penyelenggara negara.
Hal itu ia sampaikan dalam Halaqoh Kebangsaan dan Kepesantrenan yang digelar dalam rangkaian Peringatan Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren 2026 di Graha Mbah Muqoyyim Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Rabu (29/7/2026).
Menurutnya, hukum yang dijalankan tanpa pijakan etika agama serta nilai moral pesantren hanya akan berujung pada penyelewengan kekuasaan.
“Hukum yang tidak bermoral itu sangat berbahaya. Ketika sebuah negara tidak menegakkan hukum dengan dasar moral yang baik, negara itu pada akhirnya akan hancur,” ujarnya.
Pria kelahiran Madura tersebut menambahkan bahwa sejarah telah mencatat peran emas pesantren sebagai pilar utama pembentuk dan pengawal kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurutnya, sejak masa perjuangan kemerdekaan, Resolusi Jihad, hingga era pengisian kemerdekaan, kiai dan santri senantiasa berada di barisan terdepan. Tradisi kekerabatan, kejujuran, serta ketulusan yang hidup di lingkungan pesantren, kata Mahfud, merupakan modal sosial yang sangat dibutuhkan negara saat ini.
“Tradisi pesantren yang dulu penuh kekerabatan, kejujuran, dan ketulusan harus diaktualkan di zaman sekarang. Santri harus siap mengambil peran strategis untuk memperbaiki dan menjaga moralitas negara ini,” ujarnya memotivasi
Lebih lanjut, Mahfud mengingatkan pentingnya aspek kesetaraan dalam pendidikan. Ia menceritakan kilas balik perjuangan tokoh NU, KH Wahid Hasyim, saat menjabat Menteri Agama yang berhasil menyetarakan kurikulum madrasah dan pesantren dengan sekolah umum.
Kata Mahfud, kebijakan historis tersebut akhirnya membuka jalan bagi para santri untuk masuk ke berbagai perguruan tinggi negeri hingga akhirnya memegang tampuk kepemimpinan sipil dan militer pasca-Reformasi. Oleh karena itu, ia meminta para santri modern tidak berkecil hati dalam bersaing di ranah global.
“Kuasailah ilmu pengetahuan dan teknologi sehebat-hebatnya, kejarlah pendidikan setinggi-tingginya sampai ke ujung dunia, tetapi jangan pernah melepaskan Moral dan Etika Pesantren,” ungkapnya.
“Kepintaran tanpa moral akan melahirkan penjahat yang berijazah. Tapi kepintaran yang dibingkai oleh moralitas pesantren akan melahirkan pemimpin yang menyelamatkan bangsa,” pungkas Mahfud.
Selain Mahfud, kegiatan itu juga dihadiri Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Faiz Syukron Ma’mun. Halaqah juga dimeriahkan penampilan Boby Al-Mahbubi, stand-up comedian.





Comments are closed.