Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Manajemen Kancilen

Manajemen Kancilen

manajemen-kancilen
Manajemen Kancilen
service
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

Oleh: Dahlan Iskan

Antara senang dan menyesal. Senangnya: biar pun pesawat ini sedang melintas di atas samudera Atlantik saya tetap bisa kirim naskah ke redaksi Disway. Juga bisa buka komentar para perusuh, lalu memilihnya, lalu kirim ke redaksi. Manajemen Kancilen

Itu berkat ada wifi gratis on board. Tidak harus bayar seperti dulu. Memang sudah lama ada wi-fi di dalam pesawat tapi biasanya harus bayar. Jauh lebih mahal dari wi-fi biasa. Juga lemot. Dari pada bayar, pilih tahan diri sampai mendarat.

bank BJB

Dalam penerbangan dari Dubai ke New York kemarin wi-fi-nya gratis. Kapasitasnya besar. Cepat. Akhirnya 14 jam di atas pesawat saya lebih sibuk dengan internet.

Dulu, dalam penerbangan panjang seperti ini, saya punya kesempatan langka. Bisa diam. Bisa pasrah. Tidak bisa ke mana-mana. Hanya bisa tiduran. Sambil merenung. Berimajinasi. Dalam situasi seperti itu imajinasi bisa bebas dan liar. Tidak ada yang ganggu.

Sering juga waktu sesunyi itu untuk melakukan kontemplasi: apa yang selama ini terasa salah. Baik dalam sikap, kepribadian, maupun keputusan-keputusan.

Di penerbangan kali ini yang seperti itu tidak bisa lagi saya dapatkan. Jelaslah wi-fi memang menyenangkan tapi juga mengganggu.

Pesawat ini terbang dari Dubai pukul 08.00 pagi. Sebelum boarding saya sarapan dulu. Banyak-banyak: toh gratis. Bukan itu. Ada maksud lain: agar setiba di dalam pesawat bisa langsung tidur. Saya sudah berpesan kepada pramugari Emirates asal Latvia itu agar jangan dibangunkan untuk sarapan.

Ternyata begitu duduk di pesawat saya didatangi pramugari yang lain: dia bertanya apakah saya akan mandi dulu. Masih sempat. Pesawat ini dilengkapi beberapa kamar mandi. Ini pesawat komersial terbesar yang pernah ada: Airbus A380.

Saya sudah mandi di bandara sebelum sarapan. Saya bisa langsung tidur. Ingin tidur empat jam sebagai ganti kurang tidur di bandara Dubai semalam. Kan ada pertandingan antara Jerman dan Pantai Gading yang mendebarkan itu: babak pertama, ups, Jerman kalah 0-1.

Setelah nonton sepak bola itu seharusnya sempat tidur. Sebentar. Tapi tanggung. Satu jam kemudian harus tampil live di podcast Dismorning.

Di samping untuk balas dendam, tidur empat jam di awal penerbangan itu sebagai perencanaan manajemen jet-lag. Perbedaan waktu 12 jam antara New York Jakarta bisa membuat mata terbalik: ngantuk di waktu siang, memicing di waktu malam.

Saya akan mendarat di bandara John F. Kennedy pukul 14.00. Kalau tidurnya empat jam di akhir penerbangan bisa-bisa malam pertama di New York tidak bisa tidur. Kancilen. Jet-lag. Lalu, besok paginya ngantuk tidak ketulungan.

Bangun dari tidur empat jam saya pun memotret layar TV di depan kursi. Fotonya saya kirim ke Lia yang nekat akan menjemput saya di bandara. Di situ semuanya terbaca: posisi terbang saya sedang di mana dan berapa jam lagi mendarat.

Manajemen Kancilen

Ilustrasi wifi gratis di pesawat jarak jauh yang mengubah kebiasaan.–

“Setelah mendarat nanti bapak istirahat dulu. Saya minta izin sebentar untuk kebaktian,” tulis Lia yang baru saja ditinggal suami tercinta, James F. Sundah, pencipta lagu Lilin-lilin Kecil itu.

“Saya ikut kebaktian,” jawab saya.

“Serius?”

“Iya. Serius”.

Saya tidak mau istirahat. Pasti ketiduran. Bahaya. Manajemen jet-lag bisa gagal. Lebih baik ikut kebaktian. Ikut saja. Sekalian sebagai pertanda saya ikut berduka atas meninggalnya pejuang hak cipta lagu Indonesia itu.

Pokoknya kantuk New York di pukul 14.00 itu harus saya lawan ngantuk-ngantuknya karena sama dengan jam 02.00 dini hari waktu Jakarta.

Jangan sampai, besoknya, di jam yang sama tertidur di stadion. Atau di tempat nobar. (Dahlan Iskan)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.