Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Matilda Effect Ketika Ilmuwan Perempuan Dipinggirkan dalam Sejarah

Matilda Effect Ketika Ilmuwan Perempuan Dipinggirkan dalam Sejarah

matilda-effect-ketika-ilmuwan-perempuan-dipinggirkan-dalam-sejarah
Matilda Effect Ketika Ilmuwan Perempuan Dipinggirkan dalam Sejarah
service

Bincangperempuan.oom- B’Pers, kalau diminta menyebut ilmuwan paling berpengaruh dalam sejarah, siapa yang langsung muncul di kepala? Isaac Newton, Galileo Galilei, Albert Einstein, atau Johannes Kepler. Hampir semuanya laki-laki, apakah karena ilmuwan perempuan memang tidak ada, atau karena sejak awal mereka tidak diberi ruang untuk diingat?

Sejak bangku sekolah, narasi sains yang kita terima terasa maskulin. Buku pelajaran, nama hukum fisika, hingga kisah penemuan besar nyaris selalu menempatkan laki-laki sebagai tokoh utama. Sedanhkan perempuan? Kalau muncul pun sering jadi catatan kaki atau bahkan tidak disebut sama sekali.
Inilah yang dinamakan Matilda Effect—fenomena ketika kontribusi ilmuwan perempuan diremehkan, dihapus, atau bahkan diklaim oleh laki-laki. 

Apa Itu Matilda Effect?

Matilda Effect merujuk pada praktik pengaburan pengakuan atas pencapaian perempuan, terutama dalam bidang sains. Istilah ini diperkenalkan oleh Margaret W. Rossiter, sejarawan sains dari Cornell University, pada awal 1990-an. Rossiter menamai fenomena ini dari Matilda Joslyn Gage, seorang aktivis hak perempuan abad ke-19 yang kontribusinya sendiri lama disingkirkan dari sejarah gerakan perempuan.

Rossiter mengamati bahwa banyak penelitian dan penemuan yang dilakukan perempuan justru dikreditkan kepada rekan laki-laki mereka. 

Dalam banyak kasus, perempuan tidak diizinkan menjadi anggota komunitas ilmiah, tidak memiliki akses pendidikan formal, atau tidak boleh mempublikasikan riset atas nama sendiri. Akibatnya, sejarah sains ditulis tanpa mencatat peran mereka—atau sengaja mengabaikannya.

Marie Curie sering disebut sebagai pengecualian karena keberhasilannya meraih dua Nobel. 

Namun kontribusi Curie pun kerap direduksi sebagai “asisten” suaminya. Fakta ini menunjukkan bahwa Matilda Effect bukan soal kurangnya kemampuan, melainkan soal kurangnya pengakuan terhadap perempuan.

Baca juga: Cinta atau Kontrol? Cara Membedakan Relasi Sehat dan Manipulatif

Sejarah Sains yang Tidak Pernah Netral

Selama berabad-abad, perempuan secara struktural dibatasi aksesnya ke dunia akademik. Universitas menutup pintu, jurnal ilmiah menolak publikasi, dan komunitas sains menempatkan perempuan pada posisi subordinat. Banyak ilmuwan perempuan bekerja di balik layar—sebagai asisten, analis data, atau peneliti tak bernama.

Ketika sejarah sains ditulis, bias ini ikut terbawa. Sejarawan lebih tertarik mencatat tokoh besar ketimbang relasi kuasa di balik penemuan. Akibatnya, kontribusi perempuan “menghilang”, bukan karena tidak signifikan, tetapi karena dianggap tidak layak disebut.

Kasus-Kasus MatildaEffect dalam Sains

Salah satu contoh paling dikenal adalah Rosalind Franklin. Foto sinar-X Photo 51 miliknya menjadi kunci penemuan struktur DNA. Namun data tersebut digunakan oleh James Watson dan Francis Crick tanpa persetujuannya. Nobel diberikan kepada Watson dan Crick, sementara Franklin tidak pernah mendapat pengakuan setara dan baru diakui bertahun-tahun setelah wafat.

Kasus serupa dialami Lise Meitner, fisikawan yang menjelaskan proses fisi nuklir. Meski kontribusinya fundamental, Nobel Kimia 1944 justru diberikan kepada Otto Hahn. Nama Meitner lama absen dari daftar penerima penghargaan, meskipun komunitas ilmiah kini mengakui perannya sangat sentral.

Di bidang astronomi, Cecilia Payne-Gaposchkin menemukan bahwa bintang tersusun terutama dari hidrogen dan helium—temuan revolusioner pada masanya. Namun kesimpulan ini sempat dianggap keliru oleh profesor laki-laki yang berwenang. 

Beberapa tahun kemudian, kesimpulan yang sama dipublikasikan oleh ilmuwan laki-laki dan mendapat pengakuan luas, sementara kontribusi Payne-Gaposchkin nyaris terlupakan.

Nettie Stevens, penemu peran kromosom X dan Y dalam penentuan jenis kelamin, juga mengalami hal serupa. Temuannya kerap dikaitkan dengan ilmuwan laki-laki lain, meskipun riset Stevens lebih dulu dan menentukan. Kasus-kasus ini menunjukkan pola yang konsisten: perempuan melakukan kerja ilmiah penting, laki-laki menerima pengakuan.

Baca juga: Kenapa Perempuan Sering Merasa Kurang Percaya Diri? Apa yang Bisa Dilakukan?

Dampaknya Masih Terasa Hari Ini

Matilda Effect bukan sekadar istilah atau fenomena yang terjadi di masa lalu. Penelitian menunjukkan bahwa karya ilmiah yang diasosiasikan dengan nama perempuan cenderung dinilai lebih rendah, meskipun kualitasnya setara. Perempuan masih menghadapi kesulitan memperoleh pendanaan riset, jabatan akademik, dan penghargaan ilmiah.

Dampak paling nyata dari situasi ini adalah ketiadaan role model. Perempuan tumbuh tanpa melihat sosok ilmuwan perempuan yang bisa mereka jadikan panutan. Sains pun terasa jauh, asing, dan identik dengan dunia laki-laki. Ketika perempuan tidak melihat dirinya tercermin dalam dunia pengetahuan, pilihan untuk masuk ke bidang sains dan teknologi menjadi terasa bukan untuk mereka.

Ini bisa berimbas terhadap minimnya representasi perempuan dalam sains. Padahal sains dan teknologi tidak pernah netral, melainkan dibentuk oleh siapa yang merancang, meneliti, dan mengambil keputusan. Ketika dunia sains didominasi perspektif laki-laki, kebutuhan, pengalaman, dan tubuh perempuan kerap terpinggirkan—mulai dari riset kesehatan, desain teknologi, hingga kebijakan berbasis data.

Jika dunia sains belum mengakui perempuan maka hal yang berkaitan dengan tubuh perempuan yang tidak dianggap prioritas. Isu kesehatan reproduksi, keselamatan perempuan di ruang publik, hingga dampak teknologi terhadap kerja perawatan sering kali tidak mendapat perhatian setara. Padahal, representasi perempuan dalam riset bukan sekadar soal keadilan, tetapi soal kualitas pengetahuan.

Mengapa MatildaEffect Perlu Dibicarakan?

Membongkar Matilda Effect bukan upaya mengubah sejarah demi kepentingan tertentu, melainkan usaha memahami sejarah secara lebih jujur. Ketika kita menyadari bahwa sains dibentuk oleh relasi kuasa, kita bisa mulai bertanya siapa yang selama ini disenyapkan, dan siapa yang diuntungkan?

Mengangkat kisah ilmuwan perempuan bukan sekadar soal representasi, tetapi tentang keadilan pengetahuan. Karena yang lebih berbahaya dari penemuan yang hilang, adalah sejarah yang sengaja dihilangkan.

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.