Ratusan orang yang kebanyakan kaum muda tampak antusias memenuhi auditorium Pusat Kebudayaan Prancis (IFI) Jakarta untuk menyaksikan pembukaan “Pekan Francophonie 2026”. Acaranya sendiri berlangsung serentak mulai 20-24 April 2026 di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Semarang, Medan, Denpasar, dan Makassar.
Hari Francophonie Internasional atau Hari Bahasa Prancis Internasional diperingati setiap tahun pada 20 Maret, merujuk pada tanggal pendirian Organisation Internationale de La Francophonie pada tahun 1970. Komunitas ini terdiri dari 93 negara dan pemerintahan yang berkomitmen terhadap keragaman budaya, pendidikan, perdamaian, dan kerja sama internasional.
Berdasarkan data IFI, ada lebih dari 60.000 pelajar bahasa Prancis di Indonesia setiap tahunnya serta jaringan lembaga pendidikan dan kebudayaan yang aktif, termasuk program studi bahasa dan sastra Prancis di sekitar lima belas universitas terkemuka di Indonesia.
Komunitas berbahasa Prancis terbanyak ada di negara-negara Afrika, mulai dari Burkina Faso, Nigeria, dan Senegal, yang memasukkan bahasa Prancis sebagai bahasa resmi negara, hingga Maroko, Tunisia, Aljazair dan Mesir, sebagai negara-negara yang menyatakan bahasa Prancis digunakan secara luas oleh pemerintahnya.
Duta Besar Tunisia untuk Indonesia, Mohamed Trabelsi, mengatakan bahwa penggunaan bahasa Prancis secara signifikan berpengaruh dalam kerja sama ekonomi dan bisnis. Bahasa Arab dan Prancis saling berdampingan dalam komunikasi mereka sehari-hari.
“Tunisia adalah salah satu pendiri Organisasi Franchoponie sejak 1970an, jadi kami turut mendorong pengajaran bahasa Prancis di Tunisia. Saat ini terdapat sekitar satu juta penutur bahasa Prancis di negara kami. Menjadi negara Franchoponie jelas membuka banyak peluang dan kerja sama bagi warga di bidang pendidikan, misalnya, ini sangat positif untuk generasi muda Tunisia,” ujar Trabelsi.
Bahkan dalam era digital seperti sekarang, kaum muda Tunisia tetap berbahasa Arab dan Prancis di tengah gempuran bahasa Inggris.
“Internet bukan hambatan, karena toh banyak kanal yang menggunakan bahasa Arab dan Prancis. Kalau mereka mempelajari bahasa Prancis, itu karena ada sekitar 450 juta orang di Afrika. Saya kira ini justru membuka peluang bagi generasi muda, ini nilai tambah bagi kami,” ujar Trabelsi.
Wadah Dialog Antarbudaya
Selain menyajikan beragam makanan dan minuman khas Prancis, suguhan musik menampilkan dua seniman internasional asal Tunisia, yaitu penyanyi Dorsaf Hamdani dan pemain biola serta komposer Zied Zouari, yang menampilkan pertunjukan musik bertajuk “Avec le Temps”.
Pertunjukan ini menawarkan perjalanan musikal nan puitis yang memberikan penghormatan kepada lagu-lagu Prancis klasik, diinterpretasi ulang dengan sentuhan Arab dan Mediterania, dan dibawakan dalam bahasa Prancis dan Arab.
“Bagaimana, kalian tadi menikmati nggak pertunjukan kami?” tanya Dorsaf Hamdani, usai pertunjukan. Ia membawakan lebih dari lima lagu.
“Saya yakin kalau kamu membaca Alquran pasti juga tak kalah indahnya,” jawab saya jujur. Vokal meliuk dan naik turun Dorsaf yang merdu malam itu sangat mengagumkan dan penampilan keduanya turut dimeriahkan oleh Sri Hanuraga, pianis Indonesia yang andal memainkan beragam genre, di luar jazz yang menjadi pijakan utamanya.
“Kami ingin menyampaikan pesan perdamaian melalui musik karena ini penting di masa-masa sekarang. Musik kami adalah campuran dari beragam budaya, mulai dari soul Prancis, musik-musik Afrika Utara, serta world music dengan unsur jazz dan rock. Semua kami harmonisasikan dan kami bawakan dalam bahasa Arab dan Prancis,” ungkap Zouari.
Pekan Francophonie di Indonesia tahun ini berlangsung 200 hari menjelang KTT Francophonie 2026, yang akan diselenggarakan di Kamboja, salah satu anggota pendiri Organisation Internationale de La Francophonie, sebagai bentuk hubungan erat antara gerakan global ini dan Asia Tenggara.





Comments are closed.