Mubadalah.id – Setiap 21 April, Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai peringatan bangun dan bangkitnya emansipasi perempuan. Raden Ajeng Kartini namanya atau biasa kita kenal dengan sebutan R.A Kartini. Ia sosok yang vokal dan progresif dalam memandang kesetaraan gender pada masanya. Saat itu, masyarakat perempuan di Indonesia tak dapat menikmati pendidikan atau fasilitas yang lain karena gender membatasi peran mereka.
Hanya laki-laki yang memiliki banyak akses dan berkuasa terhadap pendidikan. Sedang perempuan yang dapat mengenyam pendidikan masih sedikit sekali, terlebih hanya boleh dilakukan perempuan-perempuan kaum priyayi yang memiliki kasta dalam struktur sosial masyarakat. R.A Kartini terkenal dengan gagasan pentingnya pendidikan khususnya untuk perempuan demi kemajuan bangsa.
R.A Kartini juga terkenal dengan tulisan surat-menyuratnya yang tertuju pada Stella Zeehandelaar. Dalam suratnya, Kartini menuliskan potongan gagasan yang bertuliskan, “Kami memohon diusahakannya pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki, tetapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum perempuan.”
Kartini Lingkungan Masa Kini
R.A Kartini pada masanya memperjuangkan hak-hak pendidikan bagi masyarakat perempuan. Terutama untuk kalangan masyarakat perempuan yang rentan dan marginal. Keberhasilan perjuangan Kartini hari ini terlihat dari semakin terbukanya akses pendidikan bagi perempuan.
Data BPS menunjukkan partisipasi pendidikan perempuan di Indonesia terus meningkat sebesar 75,76% perempuan dalam kelompok usia 7-23 tahun masih bersekolah. Hal ini membuka ruang lahirnya generasi perempuan yang kritis, berdaya, dan mampu berkontribusi di berbagai bidang.
Saat ini, persoalan bangsa juga berkaitan dengan krisis lingkungan yang semakin terasa. Perubahan iklim, kerusakan alam, dan persoalan sampah menjadi tantangan yang dihadapi bersama. Kondisi inilah yang melahirkan “Kartini lingkungan” masa kini. Perempuan yang memahami persoalan ekologi dan ikut bergerak mencari jalan keluar. Mereka berdampak sebagai peneliti, aktivis, pendidik, dan penggerak komunitas.
Banyak yang bekerja dari tingkat desa hingga kota. Pengalaman hidup dan kepekaan sosial membuat mereka dekat dengan persoalan di lapangan. Cara kerja yang dibangun cenderung mengajak, merangkul, dan berkelanjutan. Gerakan yang dilakukan juga memberi perhatian pada kelompok yang paling terdampak.
Hijroatul Maghfiroh Abdullah: Inisiator Green Pesantren dan Penggerak Komunitas Anak Muda Lingkungan
Hijroatul Maghfiroh Abdullah merupakan intelektual muda, aktivis lingkungan, dan pendidik yang berangkat dari tradisi pesantren dan berkembang dalam ruang akademik global. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, serta menempuh pendidikan sarjana di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon pada bidang Hukum Islam.
Ketertarikannya pada isu relasi agama, perempuan, dan lingkungan membawanya melanjutkan studi magister di Leiden University dengan fokus kajian Islam dan ekofeminisme, serta studi di Macquarie University pada bidang keberlanjutan. Latar belakang ini membentuk kerangka berpikir interdisipliner yang menghubungkan nilai keislaman dengan isu keadilan ekologis dan gender dalam konteks global.
Dalam praktik profesionalnya, Hijroatul Maghfiroh Abdullah berperan sebagai penggerak program lingkungan di Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU). Lembaga ini fokus pada pengembangan kebijakan dan gerakan berbasis komunitas. Ia dikenal sebagai penggagas program Pesantren Hijau (Green Pesantren) yang mendorong transformasi budaya ramah lingkungan di lingkungan pesantren melalui edukasi ekologis, pengelolaan sampah, dan efisiensi energi.
Selain itu, saat ini ia juga aktif mengembangkan Komunitas Eco-Peace Indonesia yang mempertemukan anak muda lintas iman di seluruh Indonesia untuk merespons isu lingkungan secara kolaboratif.
Hifni Septina Carolina: Merawat Perempuan dan Ekologi Melalui Komunitas WES Payungi
Hifni Septina Carolina (alm.) merupakan seorang akademisi, aktivis sosial, dan penggerak komunitas yang memiliki perhatian besar pada isu perempuan, gender, dan lingkungan. Ia menjadi salah satu inisiator dan penggerak Women and Environment Studies Payungi (WES Payungi). Sebuah ruang belajar dan pemberdayaan yang berfokus pada penguatan kapasitas perempuan serta kelompok rentan.
Lahir dan tumbuh di Lampung Tengah, Hifni menempuh perjalanan intelektual dan sosial yang mempertemukan kerja akademik dengan praktik pemberdayaan di tingkat komunitas. Dalam aktivitasnya, ia mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan perspektif keadilan gender, kepedulian lingkungan, dan sensitivitas sosial, sehingga menghasilkan model gerakan yang kontekstual dan berkelanjutan.
Hifni Septina Carolina mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang terangkum dalam konsep HSC (Help, Save, Care) sebagai kerangka etik sekaligus metodologis dalam gerakan sosial. Pendekatan ini menekankan pentingnya tindakan sederhana yang konsisten dalam menolong, menciptakan ruang aman, serta merawat individu dan komunitas secara berkelanjutan.
Dari WES Payungi, ia mendorong lahirnya berbagai program pemberdayaan, termasuk pendampingan bagi perempuan dan anak, serta penguatan kapasitas anak penyandang disabilitas melalui kegiatan berbasis ketrampilan dan kreativitas.
Hening Parlan: Perempuan Progresif Muhammadiyah yang Vokal dengan Isu Lingkungan
Hening Purwati Parlan merupakan aktivis lingkungan dan keberagaman asal Indonesia yang lahir di Wonogiri pada 9 Oktober 1972. Ia terkenal sebagai Direktur GreenFaith Indonesia serta penggerak kolaborasi lintas iman dalam isu keadilan iklim. Latar belakang pendidikannya di bidang sosiologi dan manajemen membentuk pendekatan interdisipliner dalam aktivismenya.
Hening juga terlibat di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia serta Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia, termasuk kontribusi dalam penyusunan kebijakan nasional terkait penanggulangan bencana. Aktivisme Hening berfokus pada penguatan peran komunitas agama sebagai aktor strategis dalam menjaga lingkungan. Yakni dengan menempatkan relasi manusia, alam, dan spiritualitas sebagai satu kesatuan yang saling terkait.
Hening mengembangkan model advokasi berbasis kolaborasi lintas agama dan lintas negara untuk merespons krisis ekologis, termasuk isu transisi energi dan dampak pembangkit listrik tenaga uap berbasis batubara. Ia mendorong keterlibatan komunitas akar rumput dalam gerakan lingkungan serta memperkuat narasi bahwa nilai-nilai keagamaan memiliki landasan etis dalam pelestarian alam. Selain itu, melalui perannya di organisasi keagamaan seperti Aisyiyah, ia mengkolaborasikan isu lingkungan dengan pemberdayaan sosial dan kemanusiaan.
Nissa Wargadipura: Pesantren Berdikari dengan Mandiri Pangan
Nissa Wargadipura merupakan tokoh perempuan yang berperan penting dalam pengembangan ekofeminisme berbasis pesantren di Indonesia. Lahir di Garut pada 23 Februari 1972, ia terkenal sebagai pendiri dan pengasuh Pesantren Ekologi Ath-Thaariq. Latar belakang keluarga pertanian membentuk pengetahuan dan praktiknya dalam pertanian organik yang dipelajari secara otodidak sejak usia dini.
Melalui pesantren yang telah berdiri sejak tahun 2008, Nissa mengkolaborasikan pendidikan keagamaan dengan pendekatan agroekologi. Yaitu sistem pertanian yang menekankan relasi harmonis antara manusia, alam, dan nilai spiritual. Aktivitasnya juga mencakup pendampingan petani di wilayah Pasundan serta advokasi agraria dan lingkungan, dengan tujuan membangun kemandirian pangan dan keberlanjutan ekosistem.
Nissa Wargadipura menempatkan pemulihan ekologi sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas hidup manusia, terutama perempuan dan generasi mendatang. Ia mengkritik sistem pertanian berbasis revolusi hijau untuk meningkatkan ketergantungan petani terhadap industri benih, pupuk, dan pestisida.
Sebagai alternatif, ia mengembangkan gagasan “revolusi meja makan” yang mendorong produksi pangan mandiri berbasis rumah tangga. Keterlibatannya dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia memperkuat posisinya sebagai ulama perempuan yang menghubungkan isu keadilan gender dengan keberlanjutan lingkungan.
Aeshnina Azzahra Aqilani: Kartini Muda, Greta Thunbergnya Indonesia
Aeshnina Azzahra Aqilani, yang akrab dengan panggilan Nina, merupakan aktivis lingkungan muda asal Gresik, Jawa Timur, yang lahir pada tahun 2007. Nina terkenal luas karena konsistensinya dalam mengangkat isu polusi mikroplastik dan praktik impor sampah plastik ke Indonesia.
Sejak usia belia, Nina telah menunjukkan kapasitas advokasi yang kuat melalui berbagai aksi kampanye, baik di tingkat lokal maupun global. Ia aktif menyuarakan dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia serta kerusakan lingkungan yang timbul dari limbah plastik lintas negara. Keterlibatannya dalam forum internasional seperti Plastic Health Summit 2021 di Belanda. Nina sebagai representasi bahwa suara anak muda dari Indonesia memiliki posisi penting dalam diskursus lingkungan global.
Selain itu, Nina juga menggunakan strategi advokasi berbasis komunikasi publik. Ia mengirimkan surat terbuka kepada sejumlah pemimpin dunia. Termasuk Presiden Indonesia dan Presiden Amerika Serikat, untuk menuntut tanggung jawab atas distribusi sampah plastik global. Aksi ini memperlihatkan bentuk partisipasi politik generasi muda dalam isu lingkungan yang semakin kompleks.
Keterlibatannya dalam kegiatan internasional, seperti pawai lingkungan di Ottawa pada tahun 2024 bersama River Warrior Indonesia. Ia semakin memperkuat perannya sebagai representasi aktivisme muda Indonesia di kancah global. Upaya yang Nina lakukan turut berkontribusi pada penurunan ekspor sampah plastik. Sampah dari Amerika Serikat ke Indonesia, yang tercatat dalam laporkan mencapai sekitar 50 persen.
Refleksi
Selamat Hari Kartini, bagi seluruh teman-teman perempuan di Indonesia. Hari ini kita melihat bahwa Indonesia tak kekurangan perempuan-perempuan cerdas dan cemerlang. Kartini lingkungan masa kini banyak membawa perubahan, dan memberi manfaat bagi banyak orang untuk mempertahankan dan merawat ekologis. Dari pendidikan, komunitas, hingga gerakan sosial. Perempuan-perempuan terus menunjukkan peran besar dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah untuk semua orang. []





Comments are closed.