Mubadalah.id – Lagu “Kicau Mania” karya Ndarboy Genk, sedang populer di jagat maya liriknya yang energik mampu membuat siapapun yang mendengarnya bergoyang. Genre musik dangdut koplo bercampur rap/hip-hop dengan tema budaya populer tentu akan mudah diterima masyarakat kita, terutama bagi komunitas burung kicau. Namun, di balik euforia dan gemerlapnya menyimpan ironi.
Sepanjang lirik, burung yang dianugerahi sayap kehilangan kodratnya sebagai lambang kebebasan. Ia justru menjadi komoditas yang sarat akan eksploitasi. Sekalipun mendapat intervensi yang manusiawi—merawatnya, namun apa artinya jika semua itu hanya demi keuntungan pribadi.
Tulisan ini tidak hendak menghakimi siapapun, namun sebagai refleksi akan relasi kita yang begitu timpang dalam hal kecil sekalipun. Burung, seperti halnya manusia sama-sama bagian dari alam tentunya ada cara yang adil untuk hanya sekedar menikmati suaranya.
Manusia dan Ketakjuban pada Alam
Manusia cenderung takjub dengan alam bisa jadi karena kerinduan akan tempat asalnya, surga. Dalam Islam, surga digambarkan sebuah taman “Eden” tempat di mana nenek moyang kita, Nabi Adam hidup berdampingan dengan semua makhluk hidup tanpa takut deforestasi dan tereksploitasi.
Sering kita saksikan kebanyakan orang menjadikan alam sebagai tujuan destinasi wisata – gunung, pantai, hutan, dan kebun binatang, bisa jadi merupakan insting purba manusia. Termasuk rasa takjub terhadap bangsa aves (burung) ini melebihi dimensi individu, tetapi sampai dimensi simbolik-politik bagaimana banyak negara termasuk Indonesia menjadikan burung sebagai filosofi negaranya
Tak hanya sekedar takjub dan menikmati, manusia justru ingin merengkuh dan memilikinya agar dekat dengan kehidupannya—tak jarang memberikan intervensi yang justru kontradiktif dengan simbol yang hewan itu wakili.
Sampai-sampai Abbas Ibnu Firnas ilmuwan Muslim dari Andalusia yang diakui sebagai Bapak Penerbangan Dunia karena menjadi manusia pertama yang berhasil melakukan penerbangan terkendali menggunakan alat sayap buatan pada abad ke-9. Sebagian keterangan mengatakan, Abbas Ibnu Firnas terinpirasi dari pengamatannya terhadap burung-burung yang terbang.
Dalam lirik “Kicau Mania” burung hanya menjadi komoditas, padahal di alam liar kicau burung memiliki arti, mulai dari komunikasi biologis (menarik pasangan, menandai teritori, mencari makan) hingga mitos. Misalnya, burung Cungcuing atau Wiwik Uncuing (Cacomantis sepulcralis), suaranya yang mengerikan dipercaya masyarakat sebagai pertanda kematian.
Kicau yang Hilang Makna
Melansir dari Peta, di alam, burung termasuk hewan sosial. Jika mereka terpisah dari kawanannya, mereka akan memanggil dengan riuh. Mereka saling membersihkan bulu, terbang bersama, bermain, dan berbagi tugas melindungi telur. Banyak spesies burung tetap monogami seumur hidup dan berbagi tugas pengasuhan.
Dan itu semua tidak akan terjadi kepada burung dalam sangkar. Karena kodrat otonom mereka terenggut. Sayap adalah bukti bahwa Tuhan menciptakan burung untuk terbang–dengan kawanannya. Di dalam sangkar, ruang terbang mereka terbatas dan jelas tanpa teman. Bak manusia jika hidup sendiri atau hidup dalam kekangan tentu akan mengalami depresi dan frustasi.
Burung juga memiliki peran penting terhadap ekosistem. Sebagai petani saya sadar burung bukanlah hama, mereka bisa jadi mitra yang menguntungkan—memangsa hama-hama pada tanaman. Atau burung juga bisa menjadi penebar benih. Saya punya pengalaman, di kebun saya tiba-tiba ada pohon pepaya dan kemangi padahal tidak pernah sengaja menanamnya.
Relasi saling menguntungkan inilah yang tidak akan terjadi jika ada ketimpangan atau ada objektifikasi dalam suatu relasi. Kicauan adalah bentuk komunikasi alami bukan alat untuk kompetisi. Dalam lirik “Kicau Mania” tentu tak akan menarasikan itu, karena memang hanya hiburan semata.
Mengintip untuk Menyadari, Menyadari untuk Mengubah
Lagu “Kicau Mania” populer bukan tanpa alasan. Selain iramanya yang energik, liriknya juga berbicara tentang hobi kebanyakan orang. Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi siapapun yang menyukai lagu itu atau yang mengikuti kompetisi burung. Sebab ironi yang paling halus jarang kita sadari, bukan karena kita jahat, tapi karena kita terbiasa.
Namun, kebiasaan bukanlah pembenaran. Siapapun pasti kagum akan keindahan burung entah bulu atau suara kicaunya. Tapi, apakah perlu memilikinya dengan merebut otonomnya. Rasa-rasanya, untuk sekedar menikmati keindahan suara kicauannya tak perlu sampai mengurung apalagi menjadikan alat kompetisi.
Menikmati keindahan burung lebih dekat bisa dengan cara yang lebih baik. Birdwatching, misalnya, bagaimana kita menikmati keindahan burung dengan mendekat ke habitatnya tanpa mengganggu otonomnya.
Seperti ungkapan Sean O’Connell, tokoh fotografer dalam film The Secret Life of Walter Mitty saat akan memotret seekor Leopard “Beautiful things don’t ask for attention,” keindahan tak membutuhkan intervensi, apalagi intervensi demi keuntungan diri sendiri.
Menikmati alam tidak harus memilikinya. Cukup dengan mendengar, merawat habitatnya, dan membiarkan semua makhluk hidup sesuai kodratnya. Maka, dengan dengan demikian kita belajar menerima keindahan tanpa memilikinya dan bentuk keadilan relasi paling sederhana. []





Comments are closed.