Sulla, bukan nama sebenarnya, pamit sebentar untuk masuk ke kamar. Sesaat kemudian dia keluar dengan dua botol produk berbahan minyak hati hiu di tangan. Satu botol berisi cairan 100 ml. Satunya, kapsul 60 butir. Dia pasarkan produk itu lewat platform media sosial, seperti Facebook, dan Tiktok. Marketplace macam Shopee juga menjadi pilihan Sul untuk membuka lapak dagangan. Untuk botol ukuran 100 ml, dia patok harga Rp112.500 per botol, harga sama untuk kapsul 60 butir. Isi 30 butir Rp58.500 dan Rp215.000 untuk isi 120 butir. Bahan baku dia beli dalam bentuk minyak hati curah dari para nelayan Tanjung Luar. Setelah itu, dia kemas dalam botol berlabel. Proses produksi kapsul Sul lakukan secara manual menggunakan mesin press bantuan pemerintah. Bahan-bahan lain seperti cangkang kapsul dan botol kemasan dia beli secara online. Dalam sebulan, Sul menghabiskan 4-5 liter bahan baku untuk jualan. Bahan baku itu dengan mudah dia dapatkan dari nelayan penangkap hiu yang cukup banyak di Tanjung Luar. Seorang nelayan di Lombok Timur membelah bagian tubuh hiu guna diambil hatinya. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia. Di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Luar, jadi satu titik pendaratan nelayan hiu di Lombok. Abdulgus, bukan nama sebenarnya, sejak 1999, aktif tangkap hiu. Saban tahun, terutama kurun Oktober-April, kala musim angin timur berhembus, pria asal Tanjung Luar itu melepas tambatan perahu untuk berburu hiu. Terkadang dia melaut berdua menggunakan kapal berukuran 5 GT menyusuri perairan Lombok yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Lokasinya sekitar 20 mil dari bibir pantai. Rawai dasar (bottom longline) dengan 400 mata…This article was originally published on Mongabay
Menelisik Bisnis Minyak Hati Hiu
Menelisik Bisnis Minyak Hati Hiu





Comments are closed.