KA Batara Kresna di Stasiun Wonogiri | FarhanSyafiqF/WikimediaCommons
Stasiun Wonogiri adalah stasiun kereta api kelas III/kecil di Giripurwo, Wonogiri, Jawa Tengah. Stasiun ini berada di ketinggian 144 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Stasiun Wonogiri berada di belakang Pasar Kota Wonogiri dan Terminal Wonogiri Kota. Pengelolaannya dilakukan oleh Daerah Operasi (Daop) VI Yogyakarta.
Stasiun ini sudah ada sejak masa penjajahan. Stasiun Wonogiri juga merupakan stasiun terminus atau stasiun pemberhentian akhir bagi kereta. Namun, uniknya hanya ada satu kereta yang berhenti di stasiun mungil ini, yakni KA Batara Kresna.
Sejarah Stasiun Wonogiri
Merangkum dari Dinas Perpustakaan Umum Kabupaten Wonogiri, Stasiun Wonogiri dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS). Pembangunannya merupakan bagian dari ambisi untuk menghubungkan Pulau Jawa dengan kereta api di abad ke-19.
Pembangunan jalur kereta di Jawa kala itu dipelopori oleh Kolonel Jhr Van Der Wijk pada 15 Agustus 1840. Kemudian, Pemerintah Hindia Belanda menyetujuinya dengan Surat Keputusan No. 270 yang tertanggal 28 Mei 1842.
Awalnya, di Wonogiri direncanakan untuk dibangun 12 jalur KA. Namun, ambisi ini tidak terwujud sepenuhnya karena beberapa faktor, yakni dana, medan berat (didominasi pegunungan), dan terjadinya Depresi Besar tahun 1930-an.
Kala itu, setelah membangun jalur kereta api dari Purwosari (Solo), NIS memperpanjang pembangunannya menuju Wonogiri. Peresmiannya dilakukan pada 1 April 1922.
Sebagai informasi, jalur KA yang saling terhubung ini merupakan hasil karya NIS yang juga membangun jalur KA pertama di Hindia Belanda pada 1867.
Kala itu, Stasiun Wonogiri menjadi stasiun paling ujung alias terminus di jalur tersebut. Sama halnya dengan stasiun yang dibangun NIS yang lain, gaya bangunan stasiun ini sangat khas dengan atap perisai tinggi, kanopi besi, dan tata ruang loket-peron yang lebih efisien. Lokasinya ada di Kelurahan Giripurwo, tepat di depan area yang nantinya bertransformasi menjadi Pasar Kota Wonogiri.
Aslinya Bukan Stasiun Terminus
Kawan GNFI, Pemerintah Hindia Belanda melanjutkan pembangunan jalur KA dari Stasiun Wonogiri kea rah selatan menuju Baturetno. Pembangunannya selesai pada 1 Oktober 1923. Hal ini membuat stasiun ini tidak menjadi stasiun terminus.
Saat itu, pembangunan jalur ini sangat sulit. Medan yang berbukit dan sangat rawan banjir membuat pemerintah untuk memutar otak. Walhasil, Pemerintah Hindia Belanda menggunakan konstruksi jembatan dan tanggul khusus.
Dahulu, jalur ini sangat strategis karena digunakan untuk mengangkut kayu jati dari Hutan Donoloyo. Hutan jati di Slogohimo ini memang terkenal karena pohonnya dipakai untuk membangun Keraton Surakarta.
Selain jati, jalur ini juga dipakai untuk mengangkit gamping, gula, hasil bumi seperti padi, gaplek, dan tembakau, serta mengangkut penumpang dari Baturetno ke Wonogiri dan ke Solo.
Jalur ini sebetulnya melewati beberapa stasiun KA kecil. Sayangnya, stasiun-stasiun itu sudah banyak yang tinggal nama saja, seperti Stasiun Wuryantoro, Stasiun Nguntoronadi, dan Stasiun Terminal Baturetno.
Setelah beroperasi dalam kurun waktu yang lama, akhirnya pada 1 Mei 1978, jalur Wonogiri-Baturetno resmi dinonaktifkan. Hal ini disebabkan karena pemerintah ingin membangun Waduk Gajah Mungkur yang membuat sebagian wilayah Baturetno harus ditenggelamnkan, termasuk di jalur rel.
Walhasil, dengan ditutupnya jalur ke Baturetno, Stasiun Wonogiri menjadi stasiun terminus. Saat ini, satu-satunya kereta yang berhenti di stasiun ini adalah KA Batara Kresna.
KA Batara Kresna sendiri melewati rute utama dari Purwosari – Solo Kota – Sukoharjo – Pasar Nguter – Wonogiri (pp). Tarifnya juga sangat murah, yakni Rp4.000 untuk sekali jalan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News




Comments are closed.