Waktu 7 menit bagi dokter dan perawat amat berharga saat melayani konsultasi pasien. Namun, waktu seperti itu kerap terbuang sia-sia karena urusan administrasi pasien, yang sebenarnya bisa dilakukan oleh teknologi dengan waktu singkat.
Masalah ini diungkap Direktur Rumah Sakit Pelayaran Nasional Indonesia (RS Pelni) Laili Fathiyah saat jadi pembicara diskusi “Intersectionality in action: A deep dive with policymakers and practitioners on AI, health workforce, and serving vulnerable Indonesian workers” yang diselenggarakan International Labour Organization di Discovery SCBD Hotel, Jakarta Selatan, 24 Juni 2026. Diskusi dihadiri oleh berbagai organisasi, kementerian, perusahaan, serikat pekerja, dan akademisi.
Laili menerangkan dampak dari waktu yang terbuang sia-sia, kedekatan antara pasien dan dokter jadi berkurang. Padahal, menurut dia kedekatan dengan pasien amat penting untuk mengetahui keluhan dan gejala yang diderita. “Kami sudah menghitung rata-rata 10 menit dihabiskan untuk konsultasi. Kalau saat ini dokter itu harus mendokumentasikan pasien dengan menghabiskan 7 menit, sisanya mungkin dokter ngomong dengan mengetik,” katanya.
Kini, upaya mengadopsi teknologi AI pun dilakukan RS Pelni demi peningkatan layanan. Laili ingin waktu yang diberikan dokter dan perawat kepada pasien bisa lebih banyak. Lulusan Kampus Universitas Gadjah Mada itu juga menyatakan telah ancang-ancang sejak setahun lalu untuk menerapkan AI di RS Pelni. Apalagi, pasien yang berobat terbilang ramai dan memakan waktu banyak. AI bisa jadi peluang besar bagi dunia kesehatan.
Laili berharap dengan penerapan AI porsi waktu yang dibutuhkan untuk administrasi pasien akan mempersingkat waktu menjadi dua menit. Dengan begitu, waktu dokter lebih bisa leluasa menangani konsultasi pasien. Karena, memang itulah tujuan AI hadir untuk bisa membantu perkara ringan.
“Memang ada hal yang tidak bisa dilakukan AI yaitu human touch, makanya kita perkuat nilainya di situ, agar ini bisa jadi ciri khas pelayanan kita,” ujarnya.

Keterangan: Sesi diskusi yang diselenggarakan oleh ILO, di Discovery SCBD Hotel, Jakarta Selatan. Dok : (Ahmad Khudori/Prohealth).
Sementara, bagi mahasiswa kedokteran, AI dianggap sebagai teman belajar. Hal ini diungkapkan pembicara lain, Muhammad Dzaky Darmawan, Wakil Presiden Center for Indonesian Medical Students Activities (CIMSA) 2021. Ia menyatakan pernah merasakan kebingungan untuk memulai mendalami dunia kedokteran. Situasi saat ini berbeda, yang lebih membuka peluang bagi para mahasiswa kedokteran belajar di mana pun dengan AI.
“Sepertinya di berbagai kampus pendidikan soal teknologi AI diperlukan, ini semua bisa memberikan pemahaman untuk kita memanfaatkan AI,” katanya.
Menurut Dzaky, mahasiswa kedokteran kerap memanfaatkan AI untuk mempertajam analisis dan meringkas persoalan. Bagi mahasiswa kedokteran yang baru lulus, AI menjadi asisten atau pemberi dukungan dalam bekerja.
Pemateri lain, Naurah Zainar, dokter yang bekerja di PT Tintin Boyok Sawit Makmur (TBSM) Kalimantan Barat, sering menghadapi pasien dengan gejala yang tidak terdeteksi pada umumnya. Kondisi ini membuat urusan keselamatan dan keamanan menjadi lamban.
Naurah menyatakan AI mempermudah pekerjaaan dalam menangani pasien. Meski tidak asal percaya, informasi AI hanya sebatas jadi rujukan. Masalahnya, akses AI tidak merata, sebab kelancaran jaringan internet masih jadi ganjalan di Kalimantan Barat.
“Misalnya, saya pernah dapat keluhan gejala atau penyakit yang jarang timbul dari pekerja. Kami bingung itu apa. Kami cari tahu itu ke AI. Setelah AI memberikan informasi, selanjutnya kami kasih tahu ke pasien,” katanya.
Manfaat AI juga diungkapkan Adiwan Qodar, Asisten Deputi Kerjasama Fasilitas Kesehatan, Kedeputian Bidang Manajemen Mutu dan Kerjasama Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan, yang juga jadi pembicara dalam diskusi itu. Ia mengatakan integrasi AI dilakukan dalam aplikasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Jika pengguna JKN mengisi riwayat pemeriksaan, akan ada kesimpulan apakah pengguna mengalami sakit berisiko. Misalnya dia kena diabetes atau hipertensi. “Di situ juga nanti AI akan ambil kesimpulan apakah ada potensi terkena penyakit berat,” ujarnya.
BPJS Kesehatan juga memanfaatkan AI untuk mempercepat proses klaim pihak rumah sakit. Pihak BPJS Kesehatan juga menamai proses itu sebagai Intelligent Claim Management (ICM). Di ICM, AI akan diperkuat dengan fungsi logika dan input yang diharapkan. Hasilnya, AI akan memberikan angka untuk dibayarkan BPJS Kesehatan kepada pihak rumah sakit.
“Rumah sakit yang mengirimkan klaim BPJS, nanti AI akan bekerja, ujungnya nanti disetujui atau diverifikasi lebih lanjut, bahkan nominal yang harus dibayarkan,” katanya.
Menurut Adwan, proses singkat yang dikerjakan AI bisa menghemat biaya, waktu, pekerja, peningkatan pelayanan dan bekerja lebih efektif. Namun, tantangan yang dihadapi ialah kesanggupan dari pengembang perangkat. Proses pengembangan akan memakan waktu yang diperlukan sekitar 1 tahun. Maklum, aplikasi JKN dikunjungi 1,9 juta orang setiap harinya. Ia menyatakan peningkatan ini akan dijalankan secara serius.
Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor Leste, Simrin Singh, berharap dukungan dan komitmen pemerintah mendorong inovasi AI di dunia kesehatan agar serius ditindaklanjuti. Sebab, AI hadir untuk membantu tenaga kesehatan dan perusahaan untuk melayani pasien dengan baik, bukan sebagai pengganti pekerja.
“Indonesia harus mampu menggunakan AI untuk melakukan transformasi kesehatan, agar kualitas layanan menjadi meningkat,” katanya.
Kehadiran AI dianggap sebagai evolusi teknologi dunia. Dunia kesehatan jadi salah satu aspek yang perlu melakukan adopsi AI, kata Simrin. Anak-anak Indonesia khususnya perlu mendapat kesadaraan tentang teknologi yang berkembang saat ini.
Senior Ekonom ILO Jennie Berg menjelaskan, saat ini dunia kesehatan mengalami kekurangan orang pada layanan kesehatan. Hanya ada 30 juta tenaga kesehatan di dunia. Sedangkan pasien atau orang sakit lebih dari itu. “Kita sadar adanya kekurangan tapi kita menghadapi kekurangan biaya. Kami perlu banyak merekrut tapi membutuhkan biaya, AI jadi jawaban untuk menghemat biaya itu,” ujarnya.
Sedangkan, Eko Sulistyo, Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Kesehatan menyebut dukungan dan kolaborasi dengan berbagai pihak bisa jadi kunci kesuksesan AI di dunia kesehatan. Ia menyatakan Menteri Kesehatan Budi Sadikin terus berupaya dan mendukung kemajuan layanan kesehatan.
Menurut Eko, usaha serius memanfaatkan teknologi AI terlihat dalam aplikasi ‘Satu Sehat’ yang dimiliki Kementerian Kesehatan yang terintegrasi dengan 90 persen layanan puskesmas. “Tidak perlu khawatir dengan AI. Sebagus apa pun AI membantu kita, kuncinya AI menjadi supporting. Untuk bidang kesehatan, AI ini bukan hanya untuk peningkatan layanan, tapi untuk keselamatan pasien,” kata Eko.
Ia berjanji meningkatkan pelayanan kesehatan hingga pada penyediaan informasi nama dokter yang menangani seorang pasien dalam aplikasi Satu Sehat.





Comments are closed.