Thu,23 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Mengapa Kita Harus Beragama?

Mengapa Kita Harus Beragama?

mengapa-kita-harus-beragama?
Mengapa Kita Harus Beragama?
service

Mubadalah.id – Hal yang kiranya sangat penting untuk kita bicarakan hari ini, adalah ihwal agama dan para pemeluknya. Dengan kata lain, pembahasan dalam tulisan ini dapat kita awali dengan pertanyaan mendasar mengenai keadaan manusia dan agama. Yakni, mengapa mayoritas manusia harus beragama?

Pertanyaan tersebut, mungkin saja akan terus kita persoalkan sampai kapan pun dan di mana pun. Meski para ahli teolog sudah berusaha sekuat mungkin untuk membangun argumentasi dalam menjawabnya. Karena tidak bisa kita mungkiri, pertanyaan-pertanyaan demikian adalah pertanyaan yang bersifat alami bagi manusia yang memiliki akal dan keyakinan (iman).

Sebut saja, dalam kajian ilmu akidah (teologi Islam/Ilmu Kalam), para Mutakallimun (Teolog Muslim), seperti Syaikh Abdul Karim ar-Rifa’iy. Ia adalah seorang teolog muslim Damaskus dalam Karyanya yang berjudul Al-Ma’rifah Fi Bayani ‘Aqidatil-muslim, telah membeberkan dua hal yang tidak dapat terpisahkan secara akal dalam membahas persoalan hukum kasualitas (sebab-akibat). Dua hal tersebut ialah sesuatu yang bersifat badihi (tanpa perlu akal untuk mengamininya) dan sesuatu yang bersifat nadzhariy (yang memerlukan akal untuk dapat memahaminya).

Pembaharuan Sikap Beragama

Hal-hal yang tidak memerlukan penalaran lebih dalam meyakini sesuatu, dapat kita gambarkan pada kalimat: “suatu benda memerlukan ruang”. Tamtsil dalam kalimat tersebut, tanpa harus berpikir sekalipun dapat terpahami oleh logika awam, bahwa suatu benda tidak mungkin tidak membutuhkan ruang untuk ditempati.

Hal demikian, berbeda ketika kita membahas hal-hal yang berkaitan dengan dzat dan sifat yang melekat pada Tuhan. Misalnya, seseorang yang beriman mengucapkan: “bahwa Allah itu ada”. Perkataan tersebut, tentu saja perlu adanya dalil-dalil, baik yang bersifat rasional (aqli) atau skriptural (naqli) yang dapat membuktikan bahwa apa yang ia ucapkan adalah benar atau setidaknya masuk akal.

Dari sinilah, sikap beragama kita hari ini perlu kita perbaharui. Bukan untuk mengganti apa yang sudah ada, namun untuk menguatkan keimanan kita sekaligus memproteksi akan munculnya gerakan atheisme baru, dengan dalil-dalil yang rasional tanpa harus meninggalkan sisi skripturalnya. Karena akal dan iman adalah dua hal yang dapat menguatkan dalil ketuhanan, alih-alih kita pertentangkan.

Lalu Mengapa Kita Harus Beragama?

Pertanyaan mengenai mengapa manusia harus beragama, pada dasarnya bukanlah pertanyaan yang sederhana. Ia bukan sekadar soal pilihan pribadi, apalagi sekadar warisan tradisi. Lebih dari itu, ia menyentuh wilayah yang paling dalam dari eksistensi manusia itu sendiri: tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan menuju.

Manusia, sejak awal, adalah makhluk yang sadar akan keterbatasannya. Ia tahu bahwa dia tidak mengetahui segalanya. Tidak mampu mengendalikan seluruh kenyataan, dan tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi pada dirinya di masa depan. Dalam kesadaran akan keterbatasan itulah, manusia mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar (big question) yang bukan sekadar produk spekulasi, melainkan bagian inheren dari kesadaran manusia sebagai makhluk berakal yang tidak bisa terhindari.

Dari sinilah, kehadiran agama bukan lagi kita pahami sebagai sesuatu yang dipaksakan dari luar, melainkan sebagai jawaban atas kebutuhan paling mendasar manusia. Sebab tanpa agama, pertanyaan-pertanyaan eksistensial tersebut akan tetap menggantung tanpa arah yang jelas.

Akal manusia betapapun mampu untuk meneliti, mengamati, bahkan menyimpulkan keberadaan sesuatu yang melampaui dirinya. Namun, akal juga memiliki batasnya yang tidak selalu mampu memberikan kepastian dalam wilayah yang bersifat metafisis.

Agama sebagai Sumber Pengetahuan

Di sini kita dapat memahami perbedaan antara sesuatu yang bersifat badihi (hal-hal yang langsung dapat diterima oleh akal tanpa perlu pembuktian panjang) dan nadzhariy (membutuhkan bimbingan dari sesuatu yang lebih tinggi daripada akal itu sendiri) sebagaimana yang dijelaskan dalam tradisi ilmu kalam.

Keberadaan Tuhan, misalnya yang dapat didekati melalui akal. Akan tetapi bagaimana mengenal kehendak-Nya, bagaimana beribadah kepada-Nya, dan bagaimana memahami tujuan akhir kehidupan, tidaklah cukup untuk dipahami hanya dengan akal.

Karena itu, agama menjadi penting sebagai sumber pengetahuan yang melampaui keterbatasan rasio. Ia tidak meniadakan akal, justru menyempurnakannya. Dalam hal ini, akal dapat menyimpulkan bahwa Tuhan itu ada, tetapi agama, dalam hal ini, dapat menjelaskan siapa Tuhan itu dan bagaimana manusia harus berhubungan dengan-Nya.

Tanpa adanya agama, relasi antara manusia dan Tuhan akan tetap kabur, bahkan mungkin terjebak dalam spekulasi yang tidak berujung.

Nilai Agama dalam Kehidupan Manusia

Namun, kebutuhan akan agama juga tidak hanya berhenti pada persoalan pengetahuan. Ia juga menyangkut dimensi lain, yaitu nilai. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia berhadapan dengan pertanyaan tentang baik dan buruk, benar dan salah.

Semua itu, jika diserahkan sepenuhnya kepada manusia, maka standar moral akan menjadi relatif yang bergantung pada kepentingan dan situasi. Dalam hal ini, kebenaran seakan tidak benar-benar ada. Dengan kata lain, apa yang dianggap benar hari ini, bisa saja dianggap salah di kemudian hari.

Dalam keadaan demikian, agama hadir untuk memberikan pijakan yang lebih kokoh. Ia menawarkan seperangkat nilai yang tidak semata-mata lahir dari kesepakatan manusia, tetapi bersumber dari otoritas yang lebih tinggi (Tuhan).

Dengan demikian, sebagaimana yang pernah diutarakan oleh Ulil Abshar Abdalla, dalam bukunya yang berjudul Jika Tuhan Mahakuasa, Kenapa Manusia Menderita (2020), bahwa bagaimana cara kita memahami Tuhan, sangatlah memengaruhi pula terhadap cara kita memahami manusia, alam sekitar, dan cara kita mengelola kehidupan secara umum.

Sehingga dimensi agama, tidak hanya logika semata, namun juga menyentuh sisi batin manusia yang abstrak. Dengan kata lain, manusia tidak hanya membutuhkan kebenaran, tetapi juga ketenangan. Sebab dalam situasi ketidakpastian, penderitaan, dan kehilangan, akal sering kali tidak cukup untuk menenangkan jiwa. Dan di sinilah agama memainkan peran pentingnya untuk memberikan harapan, makna, dan arah.

Hakikat Kemanusiaan

Pendeknya, agama dalam kehidupan manusia dapat mengajarkan bahwa kehidupan ini bukanlah sesuatu yang sia-sia. Agama membeberkan makna di balik setiap peristiwa yang paling menyakitkan sekalipun selain hidup dan mati.

Hal ini, selaras dengan ungkapan populer al-Ghazali dalam magnum opusnya, Ihya Ulumid-din ihwal tiadanya kemungkinan lain yang lebih baik daripada kenyataan yang ada (laisal-imkan abda’u mimakan). Dengan keyakinan semacam ini, manusia tidak hanya hidup, tetapi juga memahami mengapa ia hidup.

Maka, beragama pada akhirnya bukanlah sekadar kewajiban normatif, tetapi kebutuhan eksistensial. Ia adalah konsekuensi dari keberadaan manusia sebagai makhluk yang berpikir, merasa, dan mencari makna. Menolak agama, dalam pengertian ini, bukan hanya menolak seperangkat ajaran, tetapi juga berisiko mengabaikan kebutuhan paling mendasar dalam diri manusia itu sendiri.

Dengan demikian, pertanyaan “mengapa kita harus beragama?” tidak lagi berdiri sebagai pertanyaan yang menggugat. Akan tetapi sebagai pintu masuk untuk memahami hakikat kemanusiaan kita. Bahwa di balik segala kemampuan akal, di balik segala kemajuan peradaban, manusia tetaplah makhluk yang membutuhkan petunjuk dari Yang Maha Mengetahui.

Cara berpikir ihwal ketuhanan dan keagamaan ini, mungkin saja dianggap sebagai spekulasi teori yang tak menyentuh bumi. Namun absennya kita dalam memahami hal yang bersifat eksitensial ini, kita tidak akan bisa memahami tujuan hidup, tidak bisa memilih selain kenyataan yang kita jalani, dan tidak bisa membedakan. Mana yang lebih baik di antara hidup sukses atau bermakna. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.