Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Menggugat Standar Kesalehan Perempuan dalam Buku Muslimah yang Diperdebatkan

Menggugat Standar Kesalehan Perempuan dalam Buku Muslimah yang Diperdebatkan

menggugat-standar-kesalehan-perempuan-dalam-buku-muslimah-yang-diperdebatkan
Menggugat Standar Kesalehan Perempuan dalam Buku Muslimah yang Diperdebatkan
service

Judul buku : Muslimah yang Diperdebatkan
Penulis : Kalis Mardiasih
Penerbit : Buku Mojok
Jumlah Halaman : 202 halaman
Cetakan : Cetakan kesembilan, Oktober 2020
ISBN : 978-602-1318-93-5

Mubadalah.id – Sebagai mahasiswa semester satu, saya mendapat tugas untuk menulis artikel refleksi dari buku yang telah dibaca. Tugas ini bertujuan agar kami tidak hanya memahami isi buku secara tekstual, tetapi juga mampu menuangkan perasaan, pemikiran, serta kegelisahan yang muncul setelah membacanya.

Awalnya saya bingung memilih buku apa. Hingga akhirnya coach saya Teh Fitri menawarkan beberapa pilihan, dan saya memutuskan untuk membaca Muslimah yang Diperdebatkan karya Kalis Mardiasih.

Alasan memilih buku ini karena saya mengagumi pemikiran Mbak Kalis dan tertarik pada cara beliau membahas isu perempuan dalam Islam dengan bahasa yang jujur, berani, dan membumi.

Bahkan, setelah membacanya, saya merasa buku ini menghadirkan banyak realitas pahit tentang bagaimana perempuan sering kali diperlakukan tidak adil dalam ruang-ruang keagamaan.

Dalam buku ini, Mbak Kalis menegaskan bahwa tulisannya bukan bertujuan membahas hukum-hukum Islam secara kaku. Melainkan sebagai upaya memberikan ruang bagi suara perempuan yang kerap kali terabaikan.

Ia mengkritik kecenderungan masyarakat yang lebih sibuk menghakimi perempuan melalui label halal-haram, daripada benar-benar mendengarkan pengalaman hidup mereka.

Salah satu topik yang paling mengusik saya adalah pembahasan tentang jilbab dan bagaimana ia kerap menjadi tanda kesalehan perempuan.

Seolah-olah, kualitas iman seorang perempuan dapat diukur hanya dari apa yang melekat di kepalanya. Jika ia berjilbab, maka dianggap salehah. Jika tidak, maka dicurigai imannya, bahkan dicap sebagai muslimah “KTP”.

Tanda Kesalehan bukan dari Pakaian

Padahal, sebagaimana dikutip dalam buku ini melalui pandangan Buya Husein Muhammad, kesalehan seseorang tidak ditentukan oleh pakaianya.

Dalam buku Jilbab dan Aurat, Buya Husein menjelaskan bahwa banyak perempuan saleh di masa lalu yang tidak mengenakan jilbab sebagaimana yang kita pahami hari ini, termasuk istri-istri para ulama dan kiai.

Hal ini menyadarkan saya bahwa standar kesalehan yang selama ini kita yakini ternyata sangat terpengaruhi oleh konstruksi sosial, bukan soal ajaran agama.

Saya juga tersentuh dengan contoh kasus Rina Nose yang mendapat banyak hujatan karena melepas jilbab. Dari sini saya belajar bahwa perjalanan spiritual setiap orang berbeda. Tidak semua orang bisa langsung “sempurna” dalam ukuran masyarakat.

Refleksi ini membuat saya berpikir ulang tentang bagaimana masyarakat sering kali lebih sibuk mengontrol tubuh perempuan daripada memahami realitas hidup mereka.

Sebab, banyak perempuan yang tidak berjilbab karena kondisi kerja, tekanan ekonomi, atau situasi sosial tertentu. Namun, alasan-alasan ini jarang mereka pedulikan. Yang orang-orang lihat hanya penampilannya.

Bahkan, bagian lain yang sangat membuka pikiran saya adalah pembahasan tentang sejarah jilbab. Dalam konteks awalnya, jilbab hanya sebagai penanda status sosial, untuk membedakan perempuan merdeka dan budak.

Artinya, praktik ini lahir dari situasi sosial tertentu, bukan sebagai ukuran keimanan. Namun hari ini, makna tersebut bergeser. Jilbab seolah menjadi ukuran utama moral perempuan.

Iman Perempuan

Dari sini saya menyadari bahwa tafsir agama sering kali melekat di atas tubuh perempuan. Sehingga hal ini membuat perempuan harus taat. Padahal, iman adalah urusan perempuan itu sendiri.

Buku ini membuat saya mempertanyakan mengapa kesalehan perempuan selalu dipertontonkan. Sementara kesalehan laki-laki jarang diukur dari penampilan? Mengapa perempuan terus-menerus dijadikan objek moral, seolah-olah merekalah penentu kehormatan masyarakat?

Setelah membaca Muslimah yang Diperdebatkan, saya merasa lebih berani untuk berpikir kritis, bukan hanya terhadap masyarakat. Tetapi juga terhadap cara saya sendiri memahami agama.

Saya belajar bahwa membela perempuan bukan berarti melawan agama. Justru sebaliknya memperjuangkan keadilan adalah bagian dari nilai-nilai agama itu sendiri. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.