Mubadalah.id – Mbah I—begitu kami memanggil ibu mertua—sejak petang sudah sibuk di dapur. Di hari sebelumnya menjelang sore, beliau meminta saya memotong tiga ekor ayam kampung peliharaannya, sekaligus membeli sayur mayur di pasar dekat rumahnya.
“Kok banyak sekali masaknya, Mbah I?” tanya saya.
“Nanti siang keluarga Abah akan datang,” jawabnya.
Karpet mulai kami bersihkan. Toples-toples yang sempat kosong kembali terisi dengan berbagai jajanan: kolang-kaling, emping, kacang sangrai, serta rengginang yang tertata rapi menghiasi ruang. Kursi-kursi ditata ulang, taplak meja dibersihkan dari sisa kulit kacang yang berserakan. Tatakan gelas pun dilengkapi, siap menyambut teh hangat yang akan disajikan.
Saya memperhatikan satu per satu gerak Mbah I. Tangannya tak berhenti, langkahnya ringan meski usia tak lagi muda. Dapur, ruang tamu, lalu kembali ke dapur—seakan tak ada jeda.
“Mbah I, saya bantu bersihan di ruang tamu ya,” kata saya pelan.
Beliau menoleh, tersenyum, “Iyo, sing penting podo-podo nyambut gawe. Biar cepet rampung.”
Kalimat sederhana itu terasa hangat. Podo-podo nyambut gawe—saling bekerja, saling meringankan. Bukan tentang siapa yang harus, tapi siapa yang bisa.
Berbagi Peran dalam Keluarga
Saya pun mulai membersihkan debu-debu yang mengotori laintai, sementara Mbah I menyiapkan makanan. Di sela-sela itu, kami berbagi cerita. Tentang keluarga, tentang kebiasaan lama, juga tentang bagaimana setiap Lebaran selalu menjadi ruang untuk kembali—bukan hanya ke rumah, tapi ke rasa saling memiliki.
Menjelang siang keluarga abah mulai berdatangan, rumah mulai ramai. Tawa pecah di ruang tamu, anak-anak berlarian. Di tengah semua itu, saya melihat Mbah I duduk sejenak, menarik napas, lalu tersenyum melihat semuanya berkumpul.
Saat itulah saya paham, bahwa semua kesibukan sejak kemarin bukan sekadar menyiapkan hidangan. Ini tentang merawat kebersamaan. Tentang memberi tanpa merasa terbebani, dan menerima tanpa merasa berutang.
Dalam kehangatan itu, saya belajar bahwa keluarga bukan hanya tempat berbagi peran, tetapi ruang untuk saling menguatkan. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah. Yang ada adalah saling hadir, saling membantu, dan saling memuliakan.
Mengutip dari tulisan sebelumnya di mubadalah.id. Ayat Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 1 tentang keutamaan menjalin silaturahmi dengan saudara, mengajarkan bahwa ketakwaan tidak bisa terpisahkan dari cara kita memperlakukan orang lain. Relasi yang sehat adalah relasi yang saling (mubadalah): saling menghormati, saling membantu, dan saling menjaga.
وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Artinya : Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (QS. An-Nisa 4 : 1)
Beragama tidak Cukup dengan Ibadah Ritual
Di dalam Al Quran surat yang sama ayat 36, yakni QS An-Nisa menegaskan kesatuan antara tauhid (meng-Esa-kan Allah) dan etika sosial (memuliakan sesama manusia). Ayat ini menegaskan bahwa ibadah kepada Allah tidak cukup berhenti pada ritual, tetapi harus tercermin dalam cara kita memperlakukan orang lain.
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
Artinya : Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (QS. An-Nisa 4 : 36)
Dari ayat di atas, kita diajak untuk merenung dan menjadikannya sebagai bahan refleksi, terutama di tengah kecenderungan masyarakat yang semakin individualistis. Ayat ini mengingatkan bahwa beragama dan ketakwaan tidak cukup hanya dengan menjalankan ibadah ritual kepada Tuhan, tetapi juga harus diwujudkan dalam hubungan yang baik dengan sesama manusia.
Menjalin kebaikan dengan orang tua, keluarga, tetangga, dan teman merupakan kunci untuk menjadi manusia yang saleh—salehah secara spiritual sekaligus sosial. []





Comments are closed.