Mubadalah.id – Lebaran boleh kita bilang telah usai, meski di beberapa tempat masih terkenal istilah “Raya Syawal” maupun “Hari Raya Ketupat” yang digelar sekitar sepekan setelahnya. Namun, penting untuk terus mengingat kembali makna momentum hari besar ini agar benar-benar terpahami dan kita wujudkan sebagai sebenar-benarnya hari kemenangan.
Sebagaimana masyhur dijelaskan, Idulfitri berasal dari bahasa Arab, terdiri atas kata “‘id” (hari raya/kembali) dan “al-fitri” (berbuka/suci). Dalam istilah lain, terkenal pula kata Lebaran yang diambil dari bahasa Jawa dengan arti selesai. Keduanya memperlihatkan titik temu makna, yaitu berakhir dan kembali bersih. Pertanyaannya, dari apa?
Lihat saja, pagi hari setelah hiruk-pikuk hari raya mereda, jalanan mulai kembali normal. Namun, di beberapa sudut, yang tertinggal bukan cuma cerita hangat silaturahmi, melainkan kantong plastik, sisa makanan, dan kemasan sekali pakai yang belum terangkut. Di sana, Lebaran meninggalkan catatan lain yang jarang terbicarakan, tetapi sulit kita abaikan.
Mengutip sejumlah media, tahun ini, pergerakan manusia saat mudik diperkirakan mencapai 143,91 juta orang. Jika setiap orang menghasilkan sekitar setengah kilogram sampah per hari, maka dalam satu hari saja potensi sampah mendekati 72 ribu ton. Dan, jika seluruhnya kita kumpulkan di satu tempat, dengan asumsi satu meter kubik sampah setara sekitar 200 kilogram, volumenya dapat melampaui 350 ribu meter kubik.
Jika sampah-sampah itu bertumpuk di lahan seluas satu lapangan sepak bola, ketinggiannya bisa mencapai puluhan meter, setara gedung belasan lantai di Jakarta.
Volume Sampah Meningkat Selama Ramadan
Angka tersebut tidak berdiri sendiri. Selama Ramadan, volume sampah meningkat sekitar 10–20 persen, dengan hampir separuhnya berupa sisa makanan. Sejak awal bulan, terlihat kecenderungan konsumsi meningkat, tetapi tidak seluruhnya berujung pada kebutuhan. Saat hari raya tiba, kecenderungan itu mencapai puncaknya.
Persoalan ini tidak perlu kita arahkan sebagai kesalahan pihak tertentu. Lebaran memang identik dengan berbagi, menjamu, dan merayakan kebersamaan. Meja makan yang penuh mencerminkan kehangatan. Perjalanan jauh menjadi cara menuntaskan rindu. Semua itu wajar dan bernilai baik. Namun, ada sisi lain yang kerap terabaikan, yaitu sisa yang tidak selalu terkelola.
Allah Swt berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini dapat kita pahami sebagai pengingat bahwa keseimbangan yang sudah terjaga sebaiknya dipelihara, bukan tanpa sadar digeser oleh kebiasaan yang terus berulang.
Dalam sebuah penggalan hadis, hal kecil pun ditempatkan sebagai bagian dari iman. Rasulullah Muhammad Saw bersabda:
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً… وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ
“Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang… dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Muslim).
Sudahkah Lebaran Kita Bebas dari Sampah?
Sampah, dalam konteks ini, termasuk sesuatu yang mengganggu. Menyingkirkannya bukan pekerjaan besar, tetapi sering terabaikan. Padahal, dari hal semacam ini, kepedulian dapat terlihat.
Kaidah fikih juga memberi arah yang jelas, ad-dhararu yuzalu (kemudaratan perlu dihilangkan). Sampah yang menumpuk bukan hanya soal pemandangan, tetapi juga berdampak pada kesehatan, lingkungan, dan kenyamanan hidup bersama. Karena itu, pengelolaan sampah berjalan seiring dengan praktik ibadah.
Jika kita cermati, ada hal menarik dari semua ini. Lebaran sering kita maknai sebagai kembali ke keadaan yang lebih bersih dan terjaga. Namun, di ruang publik, yang terlihat justru sebaliknya. Masih ada jejak yang tertinggal dan belum mencerminkan semangat tersebut.
Lalu, sudahkah Lebaran benar-benar menghadirkan makna fitri, yaitu terbebas dari sampah? Wallahu a’lam bis-shawab. []





Comments are closed.