Jakarta (ANTARA) – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan tiga arahan untuk memperkuat ekosistem startup nasional agar tidak hanya tumbuh dari sisi jumlah, tetapi juga mampu bertahan, berkembang, serta menjawab kebutuhan nyata industri.
“Sebut saja call for action bagi pengembangan dunia startup nasional, termasuk kepada diri saya sendiri, teman-teman saya sekalian, kepada pelaku industri startup dan seluruh pelaku ekosistem,” kata dia dalam Official Launching Indo Startup Expo & Forum 2026 di Jakarta, Kamis.
Arahan tersebut yakni pertama, menjadikan industri nasional sebagai pasar pertama bagi startup Indonesia. Menperin Agus menginstruksikan seluruh unit di Kementerian Perindustrian untuk mengubah pendekatan dari pembinaan menjadi permintaan dengan mengidentifikasi persoalan industri yang dapat diselesaikan melalui teknologi.
Kedua, meningkatkan mutu dan kelayakan investasi startup, bukan hanya mengejar jumlah. Menurut Agus, indikator keberhasilan ke depan bukan sekadar banyaknya startup baru, melainkan jumlah startup yang mampu bertahan, digunakan industri, dan memiliki daya tarik investasi.
Ketiga, menguasai teknologi kunci sekaligus menyatukan ekosistem startup yang masih tersebar. Ia menekankan setiap kerja sama teknologi global harus menghasilkan manfaat terukur, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia hingga tumbuhnya kemampuan desain dan produksi dalam negeri.
Lebih lanjut ia menyampaikan, berdasarkan Startup Ranking, Indonesia saat ini menjadi negara dengan jumlah startup terbanyak keenam di dunia dengan lebih dari 3.100 startup aktif.
Jumlah tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ekosistem startup terbesar di Asia Tenggara. Namun, dari sisi kualitas ekosistem, Indonesia masih perlu melakukan penguatan.
Berdasarkan Global Startup Ecosystem Index 2026, ekosistem startup Indonesia berada di peringkat ke-45 dunia, sementara Jakarta berada di posisi ke-30 kota dunia.
Menurutnya, tantangan utama yang harus dibenahi bukan lagi jumlah startup yang lahir, melainkan kemampuan startup untuk bertahan, tumbuh, mendapatkan pendanaan, serta menyelesaikan persoalan konkret yang dihadapi industri nasional.
Agus menilai penguatan startup merupakan bagian dari agenda industrialisasi karena sektor industri membutuhkan inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah.
Pada triwulan II 2026, industri pengolahan tumbuh 5,32 persen secara tahunan atau year on year, berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional dan tetap menjadi kontributor terbesar perekonomian Indonesia.
Dari sisi investasi, sektor industri pengolahan menyumbang 39,7 persen realisasi investasi nasional serta menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja hingga Februari 2026. Sementara itu, selama enam bulan pertama 2026, industri pengolahan berkontribusi terhadap 82 persen ekspor nasional senilai 115,50 miliar dolar AS.
Ia menegaskan peningkatan nilai tambah tidak cukup hanya melalui peningkatan kapasitas produksi, tetapi membutuhkan dukungan teknologi. Dalam konteks tersebut, startup dinilai memiliki peran strategis sebagai penyedia solusi teknologi bagi industri nasional.
“Nilai tambah yang saya maksudkan tadi tidak lahir hanya dari kapasitas produksi, tidak lahir hanya dari kapasitas produksi yang diperluas dan diperbesar. Namun nilai tambah itu itu lahir dari teknologi dan di sinilah kelihatan sangat jelas peran dari startup menjadi sangat penting,” ucapnya.
Menperin juga menyoroti tantangan pendanaan startup Indonesia. Berdasarkan Indonesia Startup Report 2026, pendanaan startup nasional sepanjang 2025 tercatat hanya 355 juta dolar AS, turun 49 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 695 juta dolar AS.
Ia menyebut kondisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kualitas startup agar lebih menarik bagi investor.
Menurut Agus, Indonesia memiliki keunggulan berupa pasar domestik yang besar. Data BPS menunjukkan terdapat 4,43 juta unit usaha Industri Kecil dan Menengah (IKM) atau 99,79 persen dari seluruh unit industri nasional.
Bagi startup teknologi, kata dia, jumlah tersebut merupakan peluang besar karena banyak pelaku IKM membutuhkan solusi untuk meningkatkan efisiensi produksi, pengendalian mutu, manajemen persediaan, penelusuran rantai pasok, hingga akses pasar.
“Startup di banyak negara harus bersusah payah mencari masalah yang layak dipecahkan. Di Indonesia, masalah itu sudah mengantre di depan pintu. Inilah keunggulan komparatif dari Indonesia, bukan mengenai besarnya modal, melainkan besarnya permintaan,” ujar Agus.
Baca juga: Ekonom: Pendanaan dalam negeri beri dukungan bagi startup lokal
Baca juga: Pemprov NTT perkuat kolaborasi ekosistem kewirausahaan iklim
Baca juga: Indonesia gandeng Inggris buka jalan startup lokal ke pasar global
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.





Comments are closed.