Thu,23 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Merayakan Kartini, Menggugat Kekerasan Seksual

Merayakan Kartini, Menggugat Kekerasan Seksual

merayakan-kartini,-menggugat-kekerasan-seksual
Merayakan Kartini, Menggugat Kekerasan Seksual
service

Mubadalah.id – Tanggal 21 April, nama Kartini kembali hadir di berbagai lembaga, komunitas dan media sosial. Mereka ramai merayakan Hari Kartini dengan berbagai kegiatan yang mereka lakukan. Memperingati Hari Kartini biasanya mereka akan mengenakan kebaya sebagai wujud simbol seorang perempuan dengan pakaian ala Kartini.

Berbagai lomba, kutipan inspiratif dari sosok Kartini serta narasi tentang perempuan hebat muncul kembali. Semua itu tentu tidak keliru. Semua orang ingin mengenang perjuangan Kartini dalam emansipasi perempuan. Namun perayaan ini akan terasa kosong jika hanya berhenti pada simbol perayaan saja, bukan semangat perubahan sosial yang terus hidup.

Kartini tidak hanya pantas dikenang sebagai tokoh emansipasi, tetapi juga perlu dibaca sebagai sosok yang menggugat ketidakadilan terhadap perempuan. Ia telah menolak cara pandang yang membatasi perempuan karena jenis kelaminnya. Ia juga memperjuangkan hak perempuan untuk belajar, berpikir, dan menentukan arah hidupnya sendiri.

Memperingati Kartini hari ini seharusnya tidak cukup dengan mengenang masa lalu, tetapi juga menilai bagaimana kondisi perempuan saat ini dengan jujur. Apa arti merayakan hari Kartini saat ini? Sudahkah perempuan merasa aman dalam kehidupannya?

Emansipasi yang (Belum) Selesai

Kalau kita melihat perempuan saat ini sudah mengalami banyak kemajuan. Mereka hadir di ruang pendidikan, dunia kerja, organisasi, politik dan berbagai ruang digital. Kini juga sudah banyak perempuan yang menjadi pemimpin, akademisi, aktivis dan penggerak perubahan di berbagai bidang. Namun ternyata kemajuan itu belum otomatis membuat perempuan benar-benar merasa aman.

Keamanan perempuan masih terus terancam dengan adanya kekerasan seksual yang tidak hanya di dunia nyata misalnya terjadi di rumah, sekolah, kampus, tempat kerja, transportasi umum namun juga terjadi di dunia digital. Korbannya tidak selalu perempuan yang tidak menutup auratnya namun semua bisa menjadi korban.

Misalnya kejadian yang sedang ramai menjadi perbincangan beberapa waktu yang lalu yaitu kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kasus yang berawal dari chat pribadi di grup khusus laki-laki dengan komentar seksis di dalamnya.

Fakta ini menunjukkan bahwa emansipasi belum selesai. Perempuan mungkin telah diberi akses untuk hadir di ruang publik, tetapi belum selalu dijamin keamanannya. Di sinilah makna emansipasi perlu diperluas. Emansipasi Kartini tidak hanya berarti perempuan boleh sekolah, bekerja dan bebas bersuara namun juga harus sampai pada kebebasan atas tubuhnya. Mereka berhak merasa aman dan memperoleh keadilan ketika mengalami kekerasan.

Mengapa Perempuan masih terus menjadi Korban Kekerasan Seksual?

Kekerasan seksual bukan sekedar persoalan nafsu atau moral pelaku namun lebih dari itu. Kekerasan seksual sering berakar dari adanya relasi kuasa yang timpang. Pelaku bisa menggunakan posisi, usia, jabatan, status sosial atau kedekatan emosional untuk mengendalikan korban. Mereka akan semakin sulit untuk melawan, melapor atau bahkan mereka tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan.

Masalah ini semakin berat ketika masyarakat justru menyalahkan korban. Pertanyaan seperti “pakai baju apa?, “Kenapa keluar malam?, “kenapa diam saja?” atau “mengapa tidak segera melapor?” menunjukkan bahwa beban moral sangat membebani korban. Padahal sebenarnya kekerasan seksual menjadi tanggung jawab pelaku. Tidak ada alasan pakaian, tempat, waktu atau relasi apa pun yang membenarkan tindakan kekerasan seksual.

Budaya menyalahkan korban membuat perempuan semakin tidak berani bersuara. Mereka takut masa depannya rusak atau akan banyak yang menggapnya membuka aib sendiri. Dalam banyak kasus, institusi juga lebih sibuk menjaga nama baik lembaga daripada melindungi korban. Situasi inilah yang memberatkan korban dan tidak memberikan efek jera bagi pelaku.

Membaca Ulang Kartini Hari ini

Jika Kartini hidup dalam konteks hari ini, perjuangan mungkin tidak hanya berhenti pada akses pendidikan. Ia akan mempertanyakan mengapa perempuan masih terbungkam, takut melapor dan berbicara. Ia akan menggugat masyarakat yang merayakan perempuan hanya untuk formalitas saja namun mengabaikan penderitaan perempuan secara nyata.

Hari Kartini seharusnya menjadi momentum untuk membangun kesadaran baru. Pendidikan bagi perempuan sangat penting, tetapi pendidikan masyarakat tentang kesetaraan dan penghormatan terhadap tubuh perempuan juga lebih penting. Perempuan perlu mendapatkan ruang aman untuk terus maju.

Merayakan Kartini berarti berpihak pada korban. Berpihak dengan memberikan ruang untuk mendengar, melindungi dan tidak langsung mencurigai korban. Berpihak berarti berani menolak candaan seksis, pelecehan verbal, normalisasi kekerasan, dan budaya diam yang selama ini melindungi pelaku.

Melangkah dari hanya Perayaan Menuju Keberpihakan Perempuan

Kartini tidak membutuhkan perayaan yang terus berulang tanpa adanya langkah keberlanjutan. Jika Hari Kartini hanya menjadi acara tahunan saja namun tidak ada keberpihakan nyata pada perempuan korban kekerasan seksual, maka peringatan itu kehilangan makna yang mendalam.

Merayakan Kartini berarti memastikan perempuan tidak hanya mendapatkan pujian karena kuat, tetapi juga tidak terus menerus memaksa mereka kuat karena kekerasan. Merayakan Kartini berarti menggugat kekerasan seksual, menolak budaya yang menyalahkan korban, dan membangun ruang aman bagi perempuan.

Emansipasi Kartini akan hilang maknanya jika perempuan sudah sangat terbuka memasuki ruang publik, namun mereka masih harus tetap hidup dalam rasa takut dan tidak aman. Kartini telah membuka jalan maka tugas kita hari ini yaitu memastikan jalan itu tidak lagi penuh dengan kekerasan, ancaman maupun pembungkaman.

Selamat memperingati Hari Kartini. Semangat Kartini menginspirasi lintas generasi. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.