Mubadalah.id – Momentum 21 April selalu kita rayakan sebagai peringatan Hari Raden Ajeng (R.A) Kartini. Kita biasa merayakannya sebagai Hari Emansipasi Perempuan. Termasuk di lingkungan akademik; dasar, menengah, dan tinggi, perayaan Hari Kartini tak pernah luput. Akan tetapi, pemaknaan sampai hari ini penting kiranya untuk kita mulai memahami keharusan menyebarkan makna, nilai, dan praktik yang kita akui sebagai emansipasi Kartini itu menyasar ke dalam sendi-sendi praktik pendidikan kita.
Dulu, seremonial perayaan hari kartini begitu meriah dengan beraneka euforia pementasan kecantikan kebaya di atas panggung. Akan tetapi, kebaya Hari Kartini saat ini membawa daya juang bagi perempuan dan solidaritas semua orang. Dalam rangka menunjukkan entitas yang tumbuh dari perubahan di kursi birokrasi hingga perlawanan terhadap belenggu adat yang membatasi peran perempuan.
Emansipasi perjuangan Kartini melalui hak pendidikan menjadi kunci utama membebaskan diri dari kebodohan maupun rasa pengekangan diri. Dulu pemaknaan kita cenderung patriarkis bahwa perempuan akan menggantungkan nasib pada laki-laki selama hidupnya. Hari kartini ini bukan sekadar merayakan momentum sebagaimana dulu. Hari ini nilai, Makna, dan praktik adil gender perlu tercermin dalam keseharian kita.
Perempuan memiliki daya juang yang sama besarnya dengan siapapun untuk menggapai keinginannya termasuk dengan pendidikan. Akan tetapi, coba kita renungi bagaimana Hari Kartini menjadi momentum pembebasan diri perempuan menjadi setara dan adil dengan laki-laki. Serta bagaimana emansipasi Kartini menjadi spirit negara untuk berlaku ramah dan adil terhadap pendidikan kita.
Nilai Emansipasi Kartini dalam Pemahaman dan Pengalaman Belajar
Lembaga pendidikan baik formal maupun informal, kelompok belajar, lingkar diskusi, penting mengedepankan keilmuan dengan basis inklusif dan adil gender. Jika tidak, maka seperti sama saja bukan dengan lembaga pendidikan melanggengkan kekerasan dan penindasan kepada peserta didik.
Sekolah dan perguruan tinggi di beberapa daerah masih banyak yang mengadakan seremoni perayaan Hari Kartini dengan berbagai ajang lomba. Akan tetapi, terkadang masih kerap di institusi perayaan lomba tidak merepresentasikan ciri khas akademik dan penguatan esensi momentum.
Hari Kartini secara umum dan mendasar sebagai bentuk penghargaan kita terhadap perjuangan Kartini dalam mengangkat derajat perempuan melalui pendidikan. Lebih mendalam, Hari Kartini harus menjadi peringatan yang baru dan relevan dengan konteks kebutuhan dan fenomena sosial masyarakat.
Emansipasi yang Kartini usung menjadi prinsip bahwa keterbukaan terhadap peran dan praktik keadilan gender dalam lembaga pendidikan sifatnya fardu atau wajib. Keengganan untuk terbuka terhadap pengembangan makna menyempitkan transformasi di ruang akademik.
Meski masih kerap saya jumpai, anak-anak perempuan masih kebingungan untuk memilih antara melanjutkan tingkat pendidikan atau fokus bekerja untuk memenuhi kecukupan hidup sehari-hari. Banyak anak muda yang masih belum memiliki kesadaran akan pentingnya belajar dan berpikir. Susahnya lingkungan tak mendukung untuk mendapatkan pemenuhan akses dan motivasi. Pendidikan hanya berjalan sebatas formalitas, kering makna, dan sempitnya kebebasan berpikir.
Untuk itu, sebetulnya penting dengan adanya momentum hari Kartini sebagai pemantik belajar keadilan gender dan keharusan mencapai pendidikan untuk semua orang termasuk perempuan. Kesadaran akan pengetahuan emansipasi dapat kita baca dari berbagai sumber dan platform. Membaca, merenungi, dan memaknai tiap momentum di lembaga pendidikan akan membawa kita pada kesadaran untuk membebaskan diri dengan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan antar insan dan aspek.
Perhatian Negara dari Emansipasi Kartini
Pengakuan Kartini sebagai pahlawan Kemerdekaan Nasional termaktub dalam Keputusan Presiden No.108 Tahun 1964 menegaskan bahwa bukan hanya sekadar gelar. Perjalanan Kartini sebagai penggerak pendidikan perempuan di masa kolonial yang mungkin beberapa di antara kita kenal melalui surat-suratnya yang sarat makna itu. Ia berani menyuarakan pemikiran dan aspirasinya atas hak setara laki-laki dan perempuan, nilai-nilai nasionalisme, pendidikan dan hak sosial yang setara, hingga ajaran toleransi beragama.
Masih menjadi probem, memperingati hari Kartini saat ini begitu tergelisahkan dengan fenomena sosial yang menciderai nilai-nilai kemanusiaan dan perjuangan ‘menuju’ Merdeka itu. Jika kita memahami pelajaran penting dari Kartini adalah pencapaian kesetaraan dan keadilan gender. Nyatanya, ruang aman bagi individu khususnya perempuan mudah sekali mereka curi dan renggut.
Kasus mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) yang secara kolektif melecehkan perempuan di kanal grup percakapan media sosial mengindikasi kasus serupa masih banyak terjadi. Berlanjut agenda mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menyanyikan lagu berjudul Erika yang bernuansa seksual memantik kegeraman yang miris. Betapa problematiknya lembaga pendidikan hari ini terhadap pola pikir dan pemahaman yang empati terhadap nilai kemanusiaan? Apakah lembaga pendidikan tak bisa dan merasa amat payah memutus budaya patriarki?
Refleksi Kartini
Jadi, refleksi momentum Hari Kartini saat ini menjadi pekerjaan rumah bagi banyak orang, lembaga atau instansi pendidikan dan lainnya dalam menciptakan ruang-ruang aman dan inklusif untuk semua orang. Dari maraknya kasus, perlunya komitmen negara dan instansi lembaga pendidikan untuk merekonstruksi budaya patriarki menjadi budaya humanis berbasis gender yang setara dan adil.
Tak kalah penting, pendidik maupun stakeholder perlu memiliki kesadaran untuk tidak melanggengkan candaan seksis yang menyudutkan perempuan maupun laki-laki. Saling bekerja sama menciptakan ruang aman untuk semua pihak. Bukan memperkeruh keadaan dengan normalisasi yang selalu mereka anggap wajar.
Lembaga pendidikan perlu memiliki keharusan merayakan momentum dengan merefleksikan ulang nilai-nilai perjuangan Kartini melalui karya sastra misalnya. Selain Kumpulan suratnya melalui Habis Gelap Terbitlah Terang, Novel berjudul Anak Semua Bangsa dan Panggil Aku Kartini Saja karya sastrawan maestro Pramoeya Ananta Toer otentik untuk menjadi referensi. Sebab dapat memantik kesadaran belajar dengan memanfaatkan momentum perayaan hari kartini di lembaga pendidikan.
Bentuk kesadaran ini harus semua pihak ciptakan, bukan hanya perempuan. Sebab hakikatnya kesetaraan dapat tercipta bukan dengan para perempuan menunjukkan eksistensinya. Praktik kesalingan antara laki-laki dan perempuan yang akan mewujudkan tercapainya keberhasilan pendidikan dan kemanusiaan, termasuk nilai perjuangan Kartini yang selalu relevan hari ini dan kemudian hari. []





Comments are closed.