Thu,14 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Nyai Khoiriyah Hasyim: Pendiri Pesantren Seblak dan Pelopor Madrasah Lil Banat di Makkah

Nyai Khoiriyah Hasyim: Pendiri Pesantren Seblak dan Pelopor Madrasah Lil Banat di Makkah

nyai-khoiriyah-hasyim:-pendiri-pesantren-seblak-dan-pelopor-madrasah-lil-banat-di-makkah
Nyai Khoiriyah Hasyim: Pendiri Pesantren Seblak dan Pelopor Madrasah Lil Banat di Makkah
service

Mubadalah.id – Nyai Khoiriyah Hasyim (Tebuireng, Jombang, 1908) merupakan salah satu tokoh perempuan Nusantara yang berpengaruh dalam mempelopori pendidikan bagi perempuan. Ia dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Seblak, Jombang, sekaligus menggagas berdirinya sekolah khusus perempuan (madrasah lil banat) sekitar tahun 1942.

Kiprahnya tidak hanya di bidang pendidikan, tetapi juga dalam organisasi keagamaan. Ia tercatat sebagai bagian dari PBNU pada tahun 1960 dan menjadi satu-satunya perempuan yang terlibat dalam forum bahtsul masail Nahdlatul Ulama pada masanya.

Ia juga aktif di Muslimat NU, pernah menjadi Ketua Fatayat NU periode 1958–1962, serta terlibat dalam jajaran Syuriah NU. Selain itu, Nyai Khoiriyah dikenal sebagai muballighah yang aktif berdakwah melalui majelis taklim, khususnya bagi perempuan.

Riwayat Hidup

Nyai Khoiriyah merupakan putri kedua dari sepuluh bersaudara, pasangan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari—pendiri Nahdlatul Ulama—dan Nyai Hj. Nafiqoh. Ia juga merupakan bibi dari Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Ia tumbuh dalam lingkungan pesantren Tebuireng di tengah budaya Jawa yang saat itu masih memandang perempuan sebagai konco wingking (teman di belakang). Kondisi tersebut membuat perempuan jarang mendapatkan akses pendidikan formal.

Meski tidak menempuh pendidikan formal, Nyai Khoiriyah memperoleh pendidikan keagamaan langsung dari lingkungan pesantren. Ia sering menyimak pengajian ayahnya serta mempelajari kitab-kitab klasik seperti nahwu, fikih, hadis, dan tafsir secara mandiri.

Pada usia 13 tahun (1919), ia menikah dengan KH. Maksum Ali, seorang ulama dari Pesantren Maskumambang, Gresik. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai sembilan anak, meskipun hanya dua yang hidup hingga dewasa, yaitu Abidah Ma’shun dan Djamilah.

Setelah wafatnya KH. Maksum Ali pada tahun 1933, Nyai Khoiriyah tetap melanjutkan perjuangan pendidikan. Pada tahun 1940, ia menikah dengan KH. Muhaimin Zubair, seorang ulama Indonesia yang bermukim di Makkah dan menjabat sebagai direktur Madrasah Darul Ulum.

Kiprah Keulamaan

Perjalanan keulamaan Nyai Khoiriyah ditandai dengan keberaniannya mendobrak tembok besar yang kerap menghalangi perempuan. Bersama suami pertamanya, ia mendirikan Pondok Pesantren Seblak yang khusus bagi santri perempuan, atas saran KH. Hasyim Asy’ari.

Pesantren ini memiliki ciri khas dalam pengajaran Ilmu Falak, yang pada masa itu jarang diajarkan di pesantren lain. Seiring waktu, Pesantren Seblak berkembang pesat dan menjadi salah satu pusat pendidikan yang diperhitungkan, dengan jenjang pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah.

Setelah menetap di Makkah bersama suami keduanya, Nyai Khoiriyah melihat adanya ketimpangan dalam akses pendidikan bagi perempuan. Berangkat dari keprihatinan tersebut, ia mendirikan madrasah lil banat di Makkah, yang menjadi salah satu pelopor pendidikan perempuan di wilayah tersebut.

Langkah ini merupakan terobosan besar, mengingat pada masa itu perempuan di Arab Saudi masih sangat terbatas aksesnya terhadap pendidikan. Upaya Nyai Khoiriyah bahkan tercatat sebagai bagian dari pembaruan penting dalam pendidikan perempuan di kawasan tersebut.

Setelah sekitar 18 tahun di Makkah, ia kembali ke Indonesia pada tahun 1957 atas permintaan Presiden Soekarno. Ia kemudian kembali memimpin Pondok Pesantren Seblak dan melanjutkan dakwah serta penguatan pendidikan perempuan.

Kepedulian Sosial

Nyai Khoiriyah aktif berdakwah langsung di tengah masyarakat melalui pengajian dan majelis taklim, khususnya untuk perempuan.

Melalui berbagai aktivitasnya, ia berupaya membuka kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan. Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk belajar, berkontribusi, dan berperan dalam ruang publik.

Kiprahnya menjadi bukti bahwa perempuan mampu menjadi agen perubahan, baik dalam bidang keagamaan, pendidikan, maupun sosial.

Akhir Hayat

Memasuki tahun 1970-an, kondisi kesehatan Nyai Khoiriyah mulai menurun. Ia wafat pada hari Sabtu, 2 Juli 1983 (21 Ramadan 1404 H) di usia 73 tahun di Jombang. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.