Sat,25 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Odyssey ke Barat, Indonesia ke Mana?

Odyssey ke Barat, Indonesia ke Mana?

odyssey-ke-barat,-indonesia-ke-mana?
Odyssey ke Barat, Indonesia ke Mana?
service

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Semua kisah besar dunia selalu bergerak ke Barat, dari Odyssey hingga Kera Sakti. Namun, di tahun 2026, ke arah mana sebenarnya Indonesia melangkah? 


PinterPolitik.com

“To sail beyond the sunset, and the baths. Of all the western stars, until I die.” – Alfred, Lord Tennyson, Ulysses (1842)

Cupin sedang menonton ulang beberapa film lama ketika sebuah pola tiba-tiba menyergapnya. Dari layar demi layar, ia menyadari bahwa hampir semua tokoh besar selalu bergerak ke satu arah yang sama, yakni ke Barat.

Odiseus berlayar pulang melintasi Mediterania menuju ufuk barat. Sun Wukong dalam Journey to the West menempuh ziarah panjang ke India untuk mengambil kitab suci.

Bahkan, Arya Stark, di penghujung kisah Game of Thrones, memilih berlayar mencari apa yang ada di sebelah barat Westeros. Bagi Cupin, ini bukan lagi kebetulan, melainkan sebuah bahasa purba yang diam-diam kita warisi.

Pola serupa bahkan menjadi nama sebuah genre film utuh, yakni western, tentang para koboi yang menaklukkan tanah tak bertuan di ufuk barat Amerika. Cupin menyadari bahwa arah itu selalu identik dengan perbatasan, harapan baru, sekaligus penutupan sebuah babak lama.

Ia lalu teringat pelajaran lama tentang matahari. Setiap petang, bola api itu tenggelam di Barat, meninggalkan malam yang bagi manusia purba terasa menakutkan sekaligus sakral.

Dari sanalah, menurut penelusuran Cupin, lahir asosiasi lintas budaya yang begitu konsisten. Dalam bahasa Sanskerta, Barat disebut paschim, yang juga berarti “belakang”, sementara bangsa Mesir kuno menamainya negeri orang mati.

Namun, tradisi Buddhisme Mahayana memberi kejutan yang membuat Cupin terpaku. Di sana, Barat bukan sekadar arah kematian, melainkan lokasi Sukhavati, Tanah Suci yang dipimpin Buddha Amitabha, sang “Cahaya Tak Terbatas”.

Frasa Tionghoa 西方極樂 secara harfiah berarti “Dunia Kebahagiaan Tertinggi di Kawasan Barat”. Cupin pun menangkap intinya, bahwa terbenam ternyata bukan kekalahan, melainkan sebuah transformasi bentuk.

Ia menimbang tiga perjalanan tadi dan menemukan satu benang merah yang sama. Barat selalu menandai batas, entah batas hidup dan mati, batas kebodohan dan pencerahan, ataupun batas peta yang belum terjamah.

Di titik ini, rasa penasaran Cupin justru semakin membesar alih-alih mereda. Jika mitos begitu setia menempatkan Barat sebagai tujuan akhir, apakah logika yang sama berlaku pula dalam sejarah peradaban manusia?

Dan bila benar demikian, apa jadinya ketika “Barat” kita pindahkan dari langit mitologi ke peta kekuatan dunia hari ini?

Barat sebagai Pusat yang Bergeser

Cupin membawa pertanyaannya ke rak buku filsafat sejarah, dan di sana ia bertemu Oswald Spengler. Pada 1918, filsuf Jerman itu menerbitkan karya yang mengguncang dunia intelektual berjudul Der Untergang des Abendlandes.

Terjemahan populernya adalah The Decline of the West, tetapi versi harfiahnya jauh lebih puitis. Cupin menemukan bahwa judul itu sesungguhnya berarti “terbenamnya negeri-negeri petang”, sebab kata Abendland memang bermakna “negeri senja”.

Tesis Spengler terasa berani bagi Cupin. Menurut filsuf itu, setiap peradaban adalah organisme hidup yang lahir, tumbuh, matang, lalu menua dan mati, persis seperti perputaran hari dari fajar menuju senja.

Spengler bahkan membedakan dua fase, yaitu Kultur sebagai masa vitalitas kreatif dan Zivilisation sebagai masa kemapanan yang membeku. Cupin mencatat bahwa fase terakhir ini ditandai materialisme, birokrasi yang menggemuk, serta dominasi elite finansial.

Cupin tidak sepenuhnya menerima nada determinisme Spengler yang terkesan kaku itu. Meski demikian, ia mengakui bahwa kerangka morfologi peradaban tersebut memberi kosakata yang berguna untuk membaca gejolak dunia pada tahun 2026.

Rasa ingin tahu membawanya melangkah lebih jauh ke pemikir lain. Ia menemukan Samuel Huntington yang lewat “The Clash of Civilizations?” meramalkan konflik masa depan bergaris budaya, dan Amitav Acharya yang menawarkan gagasan multiplex world order.

Konsep dunia multiplex ini menarik hati Cupin secara khusus. Acharya menggambarkan tatanan dengan banyak pusat dan banyak modernitas sekaligus, sebuah dunia tanpa satu hegemon tunggal yang mendikte segalanya.

Lembaga kajian terkemuka pun rupanya memakai bahasa serupa dengan mitos purba tadi. Chatham House menulis tentang kemunduran Barat dan kebangkitan the Rest, sedangkan Brookings menyoroti tatanan lama yang runtuh dan ketidakteraturan yang muncul.

Namun, Cupin cukup teliti untuk tidak menelan narasi keruntuhan secara mentah-mentah. Ia menemukan kajian Lukas Linsi dan Naná de Graaff dalam jurnal “International Affairs” edisi Maret 2026 yang justru menunjukkan hal berbeda.

Menurut riset itu, di ranah perdagangan, produksi, dan terutama keuangan global, globalisasi yang dipimpin Barat masih bertahan dengan kokoh. Cupin pun menyimpulkan bahwa matahari Barat memang condong ke ufuk, tetapi belum benar-benar tenggelam.

Yang berubah, pikirnya, bukanlah lenyapnya Barat, melainkan berakhirnya monopoli Barat atas definisi “pusat”. Dunia kini bergerak menuju banyak titik pusat, bukan satu poros tunggal seperti dahulu.

Di sinilah Cupin merasa pertanyaannya berputar kembali ke rumah. Jika dunia benar sedang berpindah dari satu pusat menuju banyak pusat, di manakah gerangan letak posisi Indonesia?

Apakah sebuah negara harus selalu memilih untuk condong ke Barat atau ke Timur, ataukah ada peran ketiga yang lebih menguntungkan?

Indonesia dan Poros di Antara Barat

Cupin akhirnya menyadari bahwa Indonesia menempati posisi paling menarik dalam kompas dunia ini. Alih-alih berdiri di salah satu ujung, negeri ini justru berada tepat di poros yang menghubungkan senja dan fajar.

Doktrin bebas dan aktif yang diwariskan sejak kemerdekaan ternyata dirancang seolah untuk momen seperti sekarang. Ketika dunia bergeser dari satu pusat menuju banyak pusat, negara yang tidak terkunci pada satu blok justru memegang keunggulan strategis.

Di bawah Presiden Prabowo Subianto, Cupin melihat warisan itu diterjemahkan menjadi strategi yang para pengamat sebut multi-alignment atau proactive hedging. Pendekatan ini merangkul banyak pihak sekaligus tanpa tunduk pada satu kekuatan pun.

Bukti konkretnya cukup jelas bagi Cupin. Aksesi Indonesia ke BRICS pada awal 2025 berlangsung berdampingan dengan proses masuk OECD serta pengajuan untuk bergabung dalam CPTPP.

Cupin membandingkan langkah ini dengan negara lain yang menempuh jalan serupa. Turki, misalnya, adalah anggota NATO sekaligus pelamar BRICS, sementara India merangkul Quad bersama Amerika Serikat sambil tetap aktif dalam forum BRICS.

Semua contoh itu, pikir Cupin, memperlihatkan satu kecenderungan zaman yang sama. Negara kelas menengah kini memilih menjadi jembatan lintas blok, bukan sekadar pengikut setia salah satu kubu.

Bagi Cupin, implikasinya nyata sampai ke ruang rapat kabinet dan meja para pebisnis. Diversifikasi mitra dagang dan investasi lintas blok tidak lagi sekadar pilihan, melainkan cerminan realitas struktural, sementara nilai tawar Indonesia justru meningkat di dunia yang berpusat banyak.

Ia teringat sebuah filosofi Jawa yang kerap dikutip dalam diplomasi Indonesia, yakni nguluruk tanpa bolo, menang tanpo ngasorake. Ungkapan itu berarti maju tanpa pasukan dan menang tanpa mempermalukan, sebuah esensi diplomasi yang halus tetapi berwibawa.

Bagi Cupin, filosofi ini menangkap posisi Indonesia dengan indah. Di tengah para teoretikus yang sibuk memperdebatkan siapa yang terbenam dan siapa yang terbit, Indonesia memilih peran yang lebih langka, yaitu menjadi penghubung.

Cupin pun menutup perenungannya dengan sebuah kesadaran yang menenangkan. Mitos, Spengler, maupun peta kekuatan 2026 sama-sama mengajarkan bahwa terbenam bukanlah akhir, melainkan pergantian bentuk, sehingga dunia yang sedang berubah ini sebaiknya dibaca sebagai kelahiran tatanan berpusat-banyak, bukan sekadar kematian satu peradaban. 

Maka pertanyaan “ke Barat atau ke Timur” sesungguhnya tidak perlu dijawab oleh Indonesia, sebab nilainya justru terletak pada kemampuan berdiri tegak di garis khatulistiwa, tempat matahari tidak pernah benar-benar terbenam. (A43)


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.