Saat ini Bumi kian tertekan. Mulai dari dampak iklim, ekonomi, hingga konflik politik. Sejumlah bangsa mengalami atau terancam krisis pangan, air bersih, energi, serta ruang hidup. Sementara banyak flora dan fauna yang punah atau terancam punah. Masih adakah kelompok masyarakat di dunia ini, yang memiliki harapan Bumi akan selamat dari berbagai tekanan tersebut? Saya terkejut ketika membaca berita yang mengabarkan puluhan ribu petani di India melakukan bunuh diri akibat krisis iklim. Kekeringan menyebabkan gagal panen, hutang, kebangkrutan, dan masalah pertanian lainnya. Mereka bunuh diri seakan kehilangan harapan Bumi akan membaik. Saya juga membaca sejumlah artikel tentang ancaman perang akibat krisis iklim. Kelangkaan pangan, air, migrasi massal, diperkirakan akan menjadi pemicu perang di abad ke-21, yang bersifat global. Sementara perang, selain membuat kematian ribuan manusia, juga akan meningkatkan krisis iklim. Contohnya, perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran, yang diperkirakan menghasilkan jutaan ton emisi karbon dioksida (CO2). Dalam kehidupan Suku Mapur, pembagian peran perempuan dan lelaki sama. Sejajar. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia Beberapa tahun terakhir, saya mencari harapan tersebut pada berbagai kelompok masyarakat atau komunitas adat di Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Barat, yang ruang hidupnya mulai mengalami kerusakan atau perubahan. Dan, saya bahagia. Harapan tersebut masih saya temukan. Harapan yang hadir dalam sejumlah perilaku atau tradisi yang arif terhadap alam, yang sudah terjaga selama ratusan tahun. Harapan yang bertahan di antara berbagai ancaman dari aktivitas perkebunan monokultur skala besar, pertambangan, industri, dan lainnya, di dalam atau sekitar hutan, danau, sungai, bukit dan laut. Mereka percaya bahwa Tuhan, leluhur…This article was originally published on Mongabay
Opini: Menjaga Harapan Tersisa di Bumi
Opini: Menjaga Harapan Tersisa di Bumi





Comments are closed.