KABARBURSA.COM – Sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memasuki masa cum date dividen pada awal pekan depan.
Menariknya, beberapa nama populer seperti PT Indika Energy Tbk (INDY), PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), hingga PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) ikut masuk daftar.
Fokus utama pasar tertuju pada 12 emiten yang dijadwalkan memasuki cum date dividen pada Selasa, 2 Juni 2026. Saham-saham tersebut diperkirakan kembali ramai dipantau trader dividen karena menawarkan kombinasi imbal hasil (yield), likuiditas, hingga potensi pergerakan harga menjelang cum date.
Data perdagangan menunjukkan 12 saham yang memasuki cum date pada 2 Juni 2026 terdiri dari PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Rukun Graha Sarana Tbk (RGAS), PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA), PT Asuransi Ramayana Tbk (ASRM), PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA), PT Imago Mulia Persada Tbk (LFLO), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk (NELY), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Informasi Teknologi Indonesia Tbk (JATI), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
Dari daftar tersebut, BFIN menjadi salah satu saham dengan dividend yield paling tinggi. Emiten multifinance itu membagikan dividen Rp35 per saham dengan estimasi dividend yield sekitar 10,14 persen.
Yield tinggi tersebut membuat BFIN berpotensi menjadi salah satu saham yang paling diperhatikan trader dividen. Apalagi, BFIN dikenal cukup konsisten membagikan dividen dua kali setahun dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, JSMR menawarkan dividen jumbo Rp156,23 per saham dengan dividend yield sekitar 5,19 persen. Emiten jalan tol BUMN tersebut juga mempertahankan nominal dividen tinggi yang sama seperti tahun sebelumnya.
Konsistensi pembayaran dividen besar membuat saham JSMR tetap menarik bagi investor yang memburu kombinasi antara likuiditas blue chip dan pendapatan dividen. Pembayaran dividen JSMR dijadwalkan dilakukan pada 19 Juni 2026.
Di sektor infrastruktur telekomunikasi, TOWR membagikan dividen Rp6,89 per saham dengan dividend yield sekitar 6,23 persen. Emiten menara telekomunikasi tersebut juga dikenal rutin membagikan dividen dua kali setahun sejak beberapa tahun terakhir.
Meski nominal dividen TOWR tidak sebesar era booming sebelumnya, konsistensi pembayaran dan karakter bisnis berbasis recurring income masih menjadi daya tarik tersendiri bagi investor pendapatan tetap.
Sementara itu, CPIN menjadi salah satu saham konsumsi yang cukup mencuri perhatian. Emiten produsen pakan ternak dan unggas tersebut menetapkan dividen Rp180 per saham dengan yield sekitar 4,22 persen.
Nilai dividen CPIN tahun ini melonjak signifikan dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp108 per saham. Kenaikan tersebut membuat saham CPIN kembali masuk radar pelaku pasar menjelang cum date.
Di sisi lain, INDY justru menunjukkan tren berbeda. Emiten energi tersebut membagikan dividen Rp10,25 per saham dengan dividend yield sekitar 0,45 persen.
Nominal dividen INDY tercatat terus menurun dibanding periode booming batu bara sebelumnya. Pada 2023, INDY masih membagikan dividen Rp92,13 per saham, bahkan sempat mencapai Rp208 per saham pada 2022.
Meski dividend yield tidak terlalu besar, saham INDY tetap berpotensi menarik perhatian trader karena likuiditas dan popularitas sektornya. Momentum cum date biasanya tetap dimanfaatkan pelaku pasar untuk berburu potensi pergerakan jangka pendek.
Selain 12 saham yang cum date pada Selasa, pasar juga akan diramaikan emiten lain yang memasuki cum date sepanjang pekan 2–5 Juni 2026. Beberapa di antaranya PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), hingga PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).
Untuk jadwal pembayaran, mayoritas emiten akan membayarkan dividen pada pertengahan hingga akhir Juni 2026. Sementara recording date sebagian besar jatuh pada 4 Juni hingga 9 Juni 2026.
Perdagangan saham menjelang cum date biasanya cenderung meningkat karena investor memburu hak dividen sebelum tanggal ex date berlaku.
Namun demikian, pelaku pasar juga tetap mencermati potensi penyesuaian harga saham setelah memasuki masa ex dividen.(*)





Comments are closed.