Wed,19 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. PBNU Susun Piagam Nilai-Nilai Keulamaan untuk Pertegas Standar Ulama

PBNU Susun Piagam Nilai-Nilai Keulamaan untuk Pertegas Standar Ulama

pbnu-susun-piagam-nilai-nilai-keulamaan-untuk-pertegas-standar-ulama
PBNU Susun Piagam Nilai-Nilai Keulamaan untuk Pertegas Standar Ulama
service

Jakarta, NU Online

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah menyusun Piagam Nilai-Nilai Keulamaan sebagai upaya mempertegas kembali standar dan nilai keulamaan, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan langkah tersebut diperlukan karena nilai-nilai keulamaan yang selama ini menjadi rujukan belum dipahami secara merata oleh masyarakat.

“Perlu ada penegasan kembali secara lebih tertulis tentang apa sebetulnya yang kita anggap sebagai nilai-nilai keulamaan,” kata Gus Yahya dalam Halaqah Piagam Nilai-Nilai Keulamaan di Gedung PBNU Lantai 8, Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Menurutnya, piagam tersebut setidaknya memiliki tiga fungsi utama. Pertama, sebagai pengingat bagi para ulama, bukan untuk menggurui, melainkan sebagai peneguhan nilai-nilai yang selama ini dijunjung.

Kedua, sebagai panduan bagi mereka yang bercita-cita menjadi ulama. “Nanti kalau menjadi ulama, standar nilainya seperti ini,” ujar Gus Yahya.

Ketiga, sebagai rujukan bagi masyarakat awam dalam mencari guru dan bimbingan keagamaan dengan memahami nilai-nilai yang seharusnya dimiliki seorang ulama.

“Karena itu dirasa perlu membuat rumusan tentang nilai-nilai keulamaan itu sendiri, apalagi jam’iyah ini bernama Nahdlatul Ulama,” imbuhnya.

Gus Yahya menjelaskan, draf piagam tersebut memuat nilai-nilai dasar keulamaan, terutama yang berkaitan dengan wawasan keilmuan sebagaimana termaktub dalam Qanun Asasi karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

“Bahwa yang tergabung dalam jam’iyah NU adalah para ulama dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaah yang mengikuti mazhab empat. Ini menunjukkan adanya dimensi wawasan keilmuan yang menjadi dasar keulamaan,” katanya.

Menurutnya, dalam tradisi NU terdapat parameter yang jelas terkait Ahlussunnah wal Jamaah maupun mazhab empat sebagai fondasi keilmuan seorang ulama.

“Itu adalah dimensi kognitif dari keulamaan yang bisa dijabarkan dengan berbagai cara,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya mengungkapkan bahwa draf Piagam Nilai-Nilai Keulamaan disusun oleh tim yang terdiri atas unsur Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU. Saat ini, tim penyusun tengah menyiapkan dua model piagam.

Model pertama mengacu pada bentuk piagam seperti Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dengan struktur menyerupai Undang-Undang Dasar atau anggaran dasar organisasi, tetapi berisi rumusan nilai-nilai.

“Modelnya seperti Piagam PBB,” ujarnya.

Sementara model kedua mengacu pada Watsiqah al-Ukhuwwah al-Insaniyyah (Dokumen Persaudaraan Manusia) yang disusun Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyeb, bersama Paus Fransiskus.

“Jadi tidak dalam bentuk pasal-pasal, melainkan berupa paparan yang tersusun secara sistematis mengenai topik yang dibahas, dalam hal ini nilai-nilai keulamaan,” jelasnya.

Sementara itu, Katib Syuriyah PBNU KH Nurul Yaqin Ishaq berharap penyusunan panduan keulamaan tersebut dapat menjadi warisan penting bagi NU di masa mendatang.

Menurutnya, saat ini nilai dan ukuran keulamaan mulai mengalami pengaburan. Fenomena atribusi keulamaan yang kurang tepat semakin marak di tengah masyarakat.

“Ada orang yang sesungguhnya tidak memiliki kapasitas keilmuan keagamaan yang memadai, tetapi karena penampilan dan atribut yang melekat padanya, masyarakat menganggap dan mempercayainya sebagai ulama. Padahal, ia tidak lebih dari seorang dukun,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa materi mengenai nilai-nilai keulamaan telah disetujui sebagai salah satu bahan pembahasan dalam Musyawarah Nasional (Munas) NU. Selanjutnya, materi tersebut akan dibawa ke forum Muktamar untuk dibahas lebih lanjut.

“Materi ini sudah disetujui sebagai salah satu bahan Munas. Nanti insyaallah akan dibawa ke Muktamar,” katanya.

Kiai Nurul Yaqin berharap hasil pembahasan itu dapat menjadi panduan moral dan etik bagi warga NU maupun masyarakat luas dalam melihat dan menilai keulamaan seseorang.

“Materi ini akan menjadi panduan moral dan etik tentang bagaimana melihat dan menilai keulamaan seseorang. Mudah-mudahan menjadi legacy bagi NU ke depan,” tandasnya.

Halaqah tersebut dihadiri Katib Aam PBNU KH Akhmad Said Asrori, Wakil Ketua Umum PBNU H Amin Said Husni, Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla, Ketua PBNU Bidang Media, IT, dan Advokasi Mohamad Syafi Alielha (Savic Ali), Sekretaris Umum JATMAN KH Ali M Abdillah, Ketua PBNU Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi KH Masyhuri Malik, serta Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo KH R Azaim Ibrahimy.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.