Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Penyakit Zoonosis dan Bagaimana Cara Mencegahnya

Penyakit Zoonosis dan Bagaimana Cara Mencegahnya

penyakit-zoonosis-dan-bagaimana-cara-mencegahnya
Penyakit Zoonosis dan Bagaimana Cara Mencegahnya
service

Beberapa penyakit zoonosis ada di Indonesia, termasuk rabies, antraks, flu burung, dan helminthiasis. Berikut ringkasan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti Pusat Riset Veteriner (Pusat Riset Veteriner) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk pengendalian penyakit zoonosis.

1. Rabies

Pemberantasan rabies dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu berdasarkan pendekatan zona dan pendekatan fase.

Pendekatan zona dapat ditentukan oleh kondisi geografis terjadinya kasus rabies, sedangkan pendekatan fase mengadopsi pendekatan bertahap menuju eliminasi rabies. (SARE).

“SARE dikembangkan sebagai alat perencanaan, pemantauan, dan evaluasi One Health yang praktis untuk memandu, mengembangkan, dan menyempurnakan program pengendalian rabies,” kata peneliti PRV BRIN, Agus Wiyono.

Menurutnya, beberapa penelitian pengendalian rabies masih dibutuhkan. Di antaranya adalah kebutuhan sumber daya manusia, sarana dan perlengkapan, sumber pendanaan, dan kebutuhan akan tindakan pencegahan. Misalnya, dengan membangun sistem peringatan dini untuk rabies.

“Untuk topik penelitian alternatif yang masih dibutuhkan, kita dapat melakukan penelitian Layanan Veteriner Kinerja. Selain itu, topik penelitian seputar pemodelan, perencanaan, dan pemantauan yang berbasis bukti juga merupakan penelitian alternatif yang masih sangat dibutuhkan,” kata Agus.

2. Antraks

Di Indonesia, sebagian besar hewan yang terinfeksi antraks dikuburkan karena jika dibakar, biayanya bisa sangat mahal.

Pengendalian antraks dapat dilakukan dengan menerapkan sistem penegakan hukum terhadap hewan hidup dan lingkungan yang terkontaminasi.

“Khususnya untuk hewan yang dikirim dari daerah yang terkontaminasi antraks, harus divaksinasi minimal 20 hari dan maksimal enam bulan sebelum didistribusikan,” kata peneliti PRV BRIN, Rahmat Setya Adji.

3. Nematoda Trichuris dan Cestoda Hymenolepis

Beberapa penyakit parasit yang berasal dari primata juga merupakan zoonosis. Peneliti PRV BRIN, Nanis Nurhidayah, mengungkapkan bahwa kasus tersebut dialami oleh primata di Taman Nasional Bako, Sarawak, Malaysia, yang terinfeksi cacing nematoda Trichuris. Penyebab penyakit ini disebabkan oleh banyak faktor, termasuk makanan dan lingkungannya.

Seperti yang dijelaskan oleh Nanis, salah satu penyakit pencernaan yang dialami primata disebabkan oleh cacing parasit yang ditularkan melalui tanah. Penyakit ini terkait erat dengan aspek sanitasi dan kebersihan, serta ketersediaan air bersih. Dampak infeksi dapat menyebabkan tumor, anemia, bahkan kekurangan gizi.

Penyakit lain yang juga sering menyerang primata adalah cacing cestoda hymenolepis.

4. Protozoa Cryptosporidium

Penyakit menular lainnya adalah protozoa cryptosporidum. Penyakit parasit ini disebabkan oleh kontaminasi jus segar dan sayuran yang dikonsumsi.

Nanis mengingatkan, pada prinsipnya, untuk memutus rantai penularan penyakit zoonosis, disarankan untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Analisis bibliometrik

Peneliti PRV BRIN, Diana Nurjanah, menjelaskan bahwa analisis bibliometrik dapat menjadi pilihan sebagai metode analisis penelitian yang memberikan banyak keuntungan. Di antaranya, membantu mengidentifikasi tren penelitian, mengungkap pola kolaborasi, menentukan faktor-faktor pengaruh, dan memberikan wawasan berharga tentang pengembangan penelitian dan pengambilan keputusan di Indonesia.

“Analisis bibliometrik adalah metode penelitian yang menggunakan data bibliografi untuk menganalisis publikasi ilmiah, kutipan, dan pola penelitian dalam suatu bidang studi,” katanya.

“Melalui analisis ini, kita dapat memahami tren penelitian, pola kolaborasi, dampak penelitian, dan karakteristik publikasi ilmiah di bidang studi tertentu,” kata Diana.

Tentang penyakit zoonosis

Hewan memberikan banyak manfaat bagi manusia. Banyak orang berinteraksi dengan hewan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di luar rumah. Hewan menyediakan makanan, serat, mata pencaharian, transportasi, olahraga, persahabatan, dan pendidikan bagi manusia di seluruh dunia.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyatakan hewan terkadang dapat membawa kuman berbahaya yang dapat menyebar ke manusia dan menyebabkan penyakit. Ini dikenal sebagai penyakit zoonosis atau zoonotik.

Penyakit zoonosis disebabkan oleh kuman berbahaya seperti virus, bakteri, parasit, dan jamur. Kuman-kuman ini dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit pada manusia dan hewan, mulai dari penyakit ringan hingga serius dan bahkan kematian. Hewan terkadang tampak sehat meskipun membawa kuman yang dapat membuat manusia sakit, tergantung pada penyakit zoonosisnya.

Penyakit zoonosis sangat umum terjadi, baik di Amerika Serikat maupun di seluruh dunia. Para ilmuwan memperkirakan bahwa lebih dari 6 dari setiap 10 penyakit menular yang diketahui pada manusia dapat menyebar dari hewan, dan 3 dari setiap 4 penyakit menular baru atau yang muncul pada manusia berasal dari hewan. Karena itu, CDC bekerja 24/7 untuk melindungi masyarakat dari penyakit zoonosis di Amerika Serikat dan di seluruh dunia.

Bagaimana kuman menyebar antara hewan dan manusia?

Karena hubungan yang erat antara manusia dan hewan, penting untuk menyadari cara-cara umum manusia dapat terinfeksi kuman yang dapat menyebabkan penyakit zoonosis. Cara-cara tersebut dapat meliputi:

Kontak langsung: Terjadi kontak dengan air liur, darah, urin, lendir, feses, atau cairan tubuh lainnya dari hewan yang terinfeksi. Contohnya termasuk mengelus atau menyentuh hewan, serta gigitan atau cakaran.

Kontak tidak langsung: Bersentuhan dengan area tempat hewan hidup dan berkeliaran, atau benda atau permukaan yang telah terkontaminasi kuman. Contohnya termasuk air akuarium, habitat hewan peliharaan, kandang ayam, lumbung, tanaman, dan tanah, serta makanan dan tempat minum hewan peliharaan.

Penularan melalui vektor: Digigit oleh kutu, atau serangga seperti nyamuk atau kutu loncat.

Penyakit bawaan makanan: Setiap tahun, 1 dari 6 warga Amerika jatuh sakit karena mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Mengonsumsi sesuatu yang tidak aman, seperti susu mentah (tidak dipasteurisasi), daging atau telur yang kurang matang, atau buah dan sayuran mentah yang terkontaminasi feses dari hewan yang terinfeksi. Makanan yang terkontaminasi dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan, termasuk hewan peliharaan.

Penularan melalui air: Minum atau bersentuhan dengan air yang terkontaminasi oleh feses dari hewan yang terinfeksi.

Siapa yang memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit serius akibat penyakit zoonosis?

Siapa pun dapat tertular penyakit zoonosis, termasuk orang sehat. Namun, beberapa orang lebih berisiko daripada yang lain dan harus mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri sendiri atau anggota keluarga. Orang-orang ini lebih mungkin daripada yang lain untuk sakit parah, dan bahkan meninggal, akibat infeksi penyakit tertentu. Kelompok orang ini meliputi:

-Anak-anak di bawah usia 5 tahun
-Orang dewasa berusia di atas 65 tahun
-Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah
-Wanita hamil

Apa yang dapat Anda lakukan untuk melindungi diri sendiri dan keluarga dari penyakit zoonosis?

Manusia dapat berinteraksi dengan hewan di banyak tempat. Ini termasuk di rumah dan di luar rumah, di tempat-tempat seperti kebun binatang mini, pameran, sekolah, toko, dan taman. Serangga, seperti nyamuk, kutu, dan caplak menggigit manusia dan hewan siang dan malam. Untungnya, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk melindungi diri sendiri dan keluarga Anda dari penyakit zoonosis.

-Jaga kebersihan tangan. Mencuci tangan segera setelah berada di dekat hewan, bahkan jika Anda tidak menyentuh hewan apa pun, adalah salah satu langkah terpenting yang dapat Anda lakukan untuk menghindari sakit dan menyebarkan kuman kepada orang lain.

-Selalu cuci tangan setelah berada di dekat hewan, meskipun Anda tidak menyentuh hewan tersebut.

-Banyak kuman menyebar karena tidak mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir.

-Jika sabun dan air tidak tersedia, Anda dapat menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol yang mengandung setidaknya 60% alkohol.

-Karena pembersih tangan tidak menghilangkan semua jenis kuman, penting untuk mencuci tangan dengan sabun dan air jika tersedia.

-Ketahui hal-hal sederhana yang dapat Anda lakukan untuk tetap aman di sekitar hewan peliharaan Anda.

-Cegah gigitan nyamuk, kutu, dan caplak.

-Pelajari lebih lanjut tentang cara menangani makanan dengan aman—baik untuk diri sendiri atau keluarga, hewan peliharaan, atau hewan lainnya.

-Waspadai penyakit zoonosis baik di rumah, di luar rumah (seperti di kebun binatang mini atau pameran hewan lainnya), di tempat penitipan anak atau sekolah, dan saat Anda bepergian.

-Hindari gigitan dan cakaran dari hewan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.