Wed,29 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Perangi Hepatitis Perlu Lebih Banyak Tindakan untuk Mencapai Target

Perangi Hepatitis Perlu Lebih Banyak Tindakan untuk Mencapai Target

service

Upaya global untuk memerangi hepatitis virus membuahkan kemajuan yang terukur dalam mengurangi infeksi dan kematian. Tapi penyakit ini tetap menjadi tantangan kesehatan global utama. Demikian laporan baru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Konferensi Tingkat Tinggi Hepatitis Dunia, Rabu, 28 April 2026.

Data terbaru menyatakan hepatitis virus B dan C adalah dua infeksi yang bertanggung jawab atas 95% kematian terkait hepatitis di seluruh dunia. Hepatitis ini merenggut 1,34 juta nyawa pada tahun 2024, menurut data terbaru. Pada saat yang sama, penularan terus berlanjut, dengan lebih dari 4.900 infeksi baru setiap hari, atau 1,8 juta setiap tahun.

Laporan Hepatitis Global 2026 mendokumentasikan kemajuan signifikan yang telah dicapai sejak tahun 2015. Jumlah infeksi hepatitis B baru setiap tahunnya turun sebesar 32% dan kematian terkait hepatitis C telah turun sebesar 12% secara global.

Prevalensi hepatitis B di kalangan anak-anak di bawah usia lima tahun juga menurun menjadi 0,6%, dengan 85 negara mencapai atau melampaui target tahun 2030 sebesar 0,1%.

Pencapaian ini mencerminkan dampak tindakan global dan nasional yang berkelanjutan dan terkoordinasi setelah diadopsinya target eliminasi hepatitis virus WHO oleh negara anggota pada Majelis Kesehatan Dunia tahun 2016.

Namun, laporan ini memperingatkan laju kemajuan saat ini tidak cukup untuk memenuhi semua target eliminasi tahun 2030. Ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk mempercepat upaya pencegahan, pengujian, dan pengobatan di seluruh dunia.

“Di seluruh dunia, berbagai negara menunjukkan bahwa pemberantasan hepatitis bukanlah khayalan belaka, melainkan sesuatu yang mungkin dilakukan dengan komitmen politik yang berkelanjutan, didukung oleh pendanaan domestik yang andal,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

Ia mengatakan pada saat yang sama, laporan ini menunjukkan bahwa kemajuannya terlalu lambat dan tidak merata. Banyak orang tetap tidak terdiagnosis dan tidak diobati karena stigma, sistem kesehatan yang lemah, dan akses perawatan yang tidak merata.

“Meskipun kita memiliki alat untuk memberantas hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat, peningkatan pencegahan, diagnosis, dan pengobatan yang mendesak diperlukan jika dunia ingin mencapai target tahun 2030.”

Beban global dan kesenjangan dalam respons

Estimasi terbaru WHO menunjukkan bahwa 287 juta orang hidup dengan infeksi hepatitis B atau C kronis pada tahun 2024.

Pada tahun itu, 0,9 juta orang terinfeksi hepatitis B untuk pertama kalinya. Wilayah Afrika WHO menyumbang 68% dari infeksi hepatitis B baru, namun hanya 17% bayi baru lahir di wilayah tersebut yang menerima vaksinasi hepatitis B dosis lahir.

Sebanyak 0,9 juta infeksi hepatitis C tambahan tercatat pada tahun 2024. Orang yang menggunakan narkoba suntik menyumbang 44% dari infeksi baru tersebut, yang menyoroti kebutuhan mendesak akan layanan pengurangan dampak buruk yang lebih kuat dan praktik penyuntikan yang aman.

Dari 240 juta orang yang menderita hepatitis B kronis pada tahun 2024, kurang dari 5% yang menerima pengobatan. Hanya 20% orang yang menderita hepatitis C yang telah diobati sejak tahun 2015, ketika pengobatan baru selama 12 minggu dengan tingkat kesembuhan sekitar 95% tersedia.

Akibat terbatasnya akses terhadap pencegahan dan perawatan, pada tahun 2024 diperkirakan 1,1 juta orang meninggal karena hepatitis B dan 240.000 orang meninggal karena hepatitis C. Sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler merupakan penyebab utama kematian terkait hepatitis. Sebagian besar kematian terkait hepatitis B terjadi di wilayah Afrika dan Pasifik Barat.

Sepuluh negara – Bangladesh, Cina, Ethiopia, Ghana, India, india, Nigeria, Filipina, Afrika Selatan, dan Vietnam – menyumbang 69% dari kematian terkait hepatitis B di seluruh dunia pada tahun 2024. Kematian terkait hepatitis C lebih tersebar secara geografis.

Pada tahun 2024, sepuluh negara menyumbang 58% dari total global: Cina, India, india, Jepang, Nigeria, Pakistan, Federasi Rusia, Afrika Selatan, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Solusi yang terbukti

Terlepas dari tantangan-tantangan ini, kemajuan di negara-negara seperti Mesir, Georgia, Rwanda, dan Inggris menunjukkan bahwa pemberantasan hepatitis sebagai masalah kesehatan masyarakat dapat dicapai dengan komitmen dan investasi yang berkelanjutan.

Alat-alat yang sangat efektif sudah tersedia:

-Vaksin hepatitis B melindungi lebih dari 95% orang yang divaksinasi terhadap infeksi akut dan kronis;
-Pengobatan antivirus jangka panjang untuk hepatitis B dapat membantu mengelola infeksi kronis secara efektif dan mencegah penyakit hati yang parah; dan
-Terapi kuratif jangka pendek hepatitis C yang berlangsung selama 8-12 minggu dapat menyembuhkan lebih dari 95% infeksi.

“Data menunjukkan bahwa kemajuan dimungkinkan tetapi juga mengungkapkan di mana kita masih kurang. Setiap diagnosis yang terlewat dan infeksi yang tidak diobati akibat hepatitis virus kronis merupakan kematian yang dapat dicegah,” kata Dr. Tereza Kasaeva, Direktur Departemen HIV, TB, Hepatitis, dan Infeksi Menular Seksual WHO.

“Negara-negara harus bergerak lebih cepat untuk mengintegrasikan layanan hepatitis bagi penderita hepatitis B dan C ke dalam perawatan primer, dan untuk menjangkau komunitas yang paling terdampak.”

Laporan ini mengidentifikasi tindakan prioritas untuk mempercepat eliminasi hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat. Tindakan-tindakan ini meliputi peningkatan pengobatan untuk infeksi hepatitis B kronis, khususnya di wilayah Afrika dan Pasifik Barat WHO, serta perluasan akses terhadap pengobatan hepatitis C di wilayah Mediterania Timur WHO.

Laporan ini juga menyerukan komitmen politik dan pendanaan yang lebih kuat, peningkatan cakupan vaksinasi hepatitis B dosis lahir, dan perluasan profilaksis antivirus. Keseriusan ini untuk mencegah penularan infeksi HBV dari ibu ke anak, khususnya di Wilayah Afrika WHO.

Selain itu, laporan ini menekankan perlunya peningkatan keamanan penggunaan narkoba suntik baik di lingkungan perawatan kesehatan maupun praktik masyarakat. Termasuk melalui penguatan layanan pengurangan dampak buruk bagi orang yang menggunakan narkoba suntik.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.