Hari Dokter Hewan Sedunia pada 25 April lalu menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran strategis dokter hewan dalam menjaga kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Di tengah meningkatnya ancaman zoonosis, tantangan ketahanan pangan, serta tekanan terhadap kelestarian satwa liar dan lingkungan, dokter hewan berperan dalam kesehatan hewan.
Dokter hewan juga menjadi bagian integral dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Melalui pendekatan One Health, sinergi antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan menjadi kunci dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, aman, dan berkelanjutan.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Widagdo Sri Nugroho, menegaskan dokter hewan memegang posisi strategis dalam menjaga keseimbangan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam kerangka One Health.
Peran ini tak terbatas pada aspek kesehatan hewan semata, tapi juga mencakup upaya pencegahan penyakit, penjaminan keamanan pangan, hingga perlindungan lingkungan secara berkelanjutan.
“Tidak bisa hanya fokus pada hewan saja, karena lingkungan juga menjadi perhatian dalam pengelolaannya,” ujarnya, Senin, 27 April 2026.
Menurutnya, ancaman zoonosis masih menjadi salah satu isu krusial yang memerlukan perhatian serius. Hal ini mengingat mengingat sebagian besar penyakit ini bersumber dari hewan dan memiliki potensi menular ke manusia.
Dari sisi teknis, kata dia, keterbatasan jumlah vaksin serta kesulitan menjangkau target vaksinasi di daerah endemik menjadi hambatan utama. Sementara itu, faktor sosial budaya masyarakat juga turut mempengaruhi. Misalnya, adanya kekhawatiran terhadap vaksinasi hingga kebiasaan mengonsumsi atau membagikan daging dari hewan yang sakit.
“Tidak hanya sekadar teknis kesehatan hewan, tetapi juga menyangkut pengetahuan dan latar belakang sosial budaya masyarakat,” jelasnya.
Sementara, dari sisi ketahanan pangan juga tidak luput dari perhatian dokter hewan. Ia menuturkan bahwa setiap dokter hewan juga memiliki tanggung jawab dalam memastikan keamanan produk hewani dari hulu hingga hilir.
Menurut dia, pengawasan dilakukan sejak proses budidaya hingga pasca panen untuk memastikan produk bebas dari residu bahan kimia dan cemaran mikroba yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Setelah proses pascapanen menjamin tidak ada cemaran mikroba sehingga produk yang dihasilkan itu tidak membawa agen penyakit untuk bisa menular ke manusia.
“Jangan sampai limbah yang dihasilkan dari proses produksi pangan asal hewan itu bisa menimbulkan gangguan lingkungan,” katanya tegas.
Sementara itu, lanjut dia, dalam upaya konservasi satwa liar, ia menilai peran dokter hewan saat ini sudah kian berkembang. Terkhusus dalam kegiatan penyelamatan dan rehabilitasi.
Tidak hanya itu, ia juga menuturkan bahwa bahwa upaya edukasi kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dalam mencegah praktik berisiko. Seperti konsumsi satwa liar yang berpotensi memicu munculnya penyakit zoonotik baru.
Namun demikian, kata dia, perlindungan habitat satwa liar masih menjadi tantangan yang memerlukan komitmen kuat dari berbagai pihak. Peraturan sebenarnya sudah banyak, tetapi konsistensi pelaksanaannya yang masih perlu diperkuat.
“Edukasi berbasis pendekatan One Health penting dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu, termasuk sosial dan budaya, guna mengubah perilaku masyarakat secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Ke depan, Widagdo berharap penguatan peran dokter hewan dapat didukung oleh political will yang kuat dari pemerintah. Dukungan itu perlu diwujudkan dalam program-program konkret, seperti vaksinasi, edukasi kepada masyarakat, penerapan praktik peternakan yang baik (good farming practices), serta kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi munculnya penyakit baru.
Ia menilai, upaya itu juga harus ditopang oleh dukungan penganggaran yang memadai agar implementasi di lapangan dapat berjalan optimal. Kuncinya ada pada political will pemerintah.
“Harus ada keberpihakan nyata yang diwujudkan dalam program-program seperti vaksinasi, edukasi, dan kesiapsiagaan terhadap penyakit baru,” tutur Widagdo.





Comments are closed.