Tue,11 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Pesan Ketua PWNU Aceh untuk Warga Hadapi Kemarau dan Ancaman El Nino

Pesan Ketua PWNU Aceh untuk Warga Hadapi Kemarau dan Ancaman El Nino

pesan-ketua-pwnu-aceh-untuk-warga-hadapi-kemarau-dan-ancaman-el-nino
Pesan Ketua PWNU Aceh untuk Warga Hadapi Kemarau dan Ancaman El Nino
service

Banda Aceh, NU Online

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh, Tgk. H. Faisal Ali atau yang akrab disapa Abu Sibreh, mengimbau masyarakat Aceh untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang mulai melanda sebagian besar wilayah Aceh. Imbauan tersebut disampaikan menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa fenomena El Nino diperkirakan menguat hingga awal 2027 dan berpotensi berdampak terhadap kondisi cuaca di Aceh.

Menurut Abu Sibreh, perubahan iklim yang menyebabkan berkurangnya curah hujan harus disikapi dengan kesiapsiagaan bersama. Selain berpotensi memicu kekeringan lahan pertanian, musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta krisis ketersediaan air bersih di sejumlah daerah.

“Kita mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Jangan melakukan pembakaran lahan atau sampah secara sembarangan karena kondisi cuaca yang kering sangat rentan memicu kebakaran. Menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan dan kemanusiaan,” ujar Abu Sibreh, Sabtu (18/7/2026).

Ia mengatakan, Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga keseimbangan alam dan tidak melakukan kerusakan di muka bumi. Karena itu, menghadapi musim kemarau tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

Abu Sibreh juga mengingatkan para petani agar mulai mengantisipasi kemungkinan berkurangnya pasokan air untuk lahan pertanian. Menurutnya, koordinasi antara pemerintah daerah, dinas terkait, dan masyarakat perlu diperkuat agar dampak kekeringan terhadap sektor pertanian dapat diminimalkan.

“Kita berharap pemerintah memperkuat langkah mitigasi, terutama di daerah sentra pertanian yang mulai mengalami kekeringan. Irigasi, embung, dan sumber air yang ada harus dimanfaatkan secara optimal agar hasil pertanian masyarakat tetap terjaga,” katanya.

Selain sektor pertanian, Abu Sibreh juga mengingatkan masyarakat agar menjaga kesehatan selama musim kemarau dengan memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari pada siang hari, serta memperhatikan kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.

Ia mengapresiasi langkah BMKG yang terus memberikan informasi cuaca secara berkala sebagai bentuk mitigasi bencana hidrometeorologi. Menurutnya, informasi tersebut harus menjadi pedoman bagi masyarakat dalam mengambil langkah antisipatif.

“Informasi dari BMKG harus kita jadikan rujukan agar masyarakat lebih siap menghadapi perubahan cuaca. Jangan menganggap remeh musim kemarau karena dampaknya bisa sangat luas apabila tidak diantisipasi sejak dini,” ujarnya.

Abu Sibreh juga mengajak masyarakat memperbanyak doa dan istigasah memohon kepada Allah SWT agar diberikan hujan yang membawa keberkahan serta dijauhkan dari bencana kekeringan, kebakaran hutan, maupun musibah lainnya.

“Kita ikhtiar melalui langkah-langkah ilmiah dan kebijakan pemerintah, namun sebagai umat beriman kita juga harus memperbanyak doa kepada Allah SWT agar Aceh senantiasa diberi rahmat, hujan yang bermanfaat, serta dijauhkan dari segala bentuk bencana,” katanya.

Perlu diketahui, BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda Banda Aceh memprakirakan sebagian besar wilayah Aceh telah memasuki musim kemarau. BMKG juga memprediksi fenomena El Nino akan mencapai level kuat hingga Januari 2027. Pada 17 Juli 2026, BMKG mendeteksi 19 titik panas di Aceh dengan tingkat kepercayaan sedang yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan apabila tidak diantisipasi.

​​​​​​​PWNU Aceh berharap seluruh warga Nahdliyin dan masyarakat luas dapat menjadikan momentum musim kemarau ini sebagai penguat kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, mempererat semangat gotong royong, serta meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana akibat perubahan iklim.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.