
“Jadi begitu gaess…,” demikian Yai redaktur senior mengakhiri kalimat sebelum suguhan segelas Lechy-tea hangat disuguhkan untuk Yai, dan saya mendapatkan secangkir kopi susu.
Lalu kami nyruput bareng.
Setelah mundur dari rencana semula karena hujan dan lain hal, akhirnya saya ketemu dengan Yai redaktur senior. Pertemuan malam ini sangat hangat, di tengah udara Jogja yang lumayan dingin. Di sebuah kedai yang tak jauh dari rumah Yai dan rumah saya.
Malam ini harus saya akui senioritasnya. Bukan sekadar senioritasnya, tetapi lambaran kesucian jiwanya menyebabkan beliau ini menjadi seorang yang waskito. Ini istilah bahasa Jawa yang berarti weruh sakdurunge winarah. (Mengerti sebelum diberitahu).
Apa sebab?
Di tengah kegundahan hati saya tentang makna tadarus Al-Qur`an, si Yai ini tetiba berbicara tentang kegagalan manusia untuk memakai, memanfaatkan, dan memaknai Al-Qur`an untuk dipakai sebagai cermin hidup ataupun dipakai sebagai navigator.
“Ada tiga tingkatan dalam urusan membaca Al-Qur`an (qiroatul qur`an) ini gaess,” Yai redaktur memulai.
“Yang pertama adalah membunyikan huruf, kata ataupun kalimat dari mushaf Al-Qur`an.” Saya mangguk-mangguk sambil menanti apa terusnya. Tetapi hal yang dikatakan Yai tadi saya rekam kuat kuat.
“Yang kedua adalah membaca dan membunyikan ayat-ayat Al-Qur`an dengan lagu atau irama yang indah (seperti pada MTQ), tilawah namanya,” lanjut beliau.
Kali ini saya tidak mangguk, karena jelas saya tak masuk dalam golongan ini.
“Yang ketiga adalah…,” Yai terdiam sebentar dan sambil memikirkan memilih kosakata yang tepat. Walaupun Yai tidak bermaksud untuk menguliti seseorang atau ngrasani siapapun. Tapi saya sudah mbatin akan jawaban Yai redaktur ini.
”Yang ketiga adalah, membaca, menerjemahkan, menafsirkan sekaligus memaknai, kalimat per kalimat, ayat per ayat bahkan sampai ke huruf-hurufnya,” kata beliau.
“Pada taraf berikutnya, Al-Qur`an dipergunakan sebagai cermin dan sekaligus untuk pedoman hidup manusia,” lanjutnya.
Saya masih terdiam.
“Lha jangankan memakainya sebagai cermin, lha wong mencoba memaknai dan mentadabburi saja nggak pernah,” lanjutnya.
“Kok mentadabburi… lha wong ber-qiro`ah saja enggak pernah dilakukan.”
“Jangankan melagukan ayat-ayat Al-Qur`an, lha wong membunyikan huruf-hurufnya saja enggak jegos (nggak bisa),” kata Yai redaktur ini sambil menundukkan kepala dalam-dalam tanda keprihatinannya.
Saya tercekat, tak bisa mengomentari kata-kata Yai tadi. Maksud hati ingin bertanya sesuatu dan lain hal tentang tadarus, bagaimana memaknai dan melakukannya. Saya ingin bertanya apakah tadarus Al-Qur`an ini dilakukan dengan ‘nderes’ Al-Qur`an bareng di musholla, dengan sesama jamaah, sebagaimana waktu kecil dulu di langgarnya simbah kakung? Atau dilakukan dengan pelan-pelan, tartil, yang risikonya nggak bakal khatam 30 juz nanti di akhir Ramadlan.
Padahal biasanya di musholla-musholla, di masjid-masjid, mempunyai target setidaknya selesai membaca Al-Qur`an sebanyak 30 juz selama bulan Ramadlan. Demikian pula tadarus di kampung saya dulu dilakukan dengan nuansa ‘balapan’ ada kesan ‘kompetisi’ antara kelompok tadarus. Regu saya baru menyelesaikan juz ke 15 di Ramadlan ke 16, sementara regunya Dalijan sudah dapet 28 Juz. Inikah yang dimaksudkan dengan tadarus? Bahkan di zaman sekarang tinggal membuka televisi atau laptop, buka YouTube kita bisa tadarus bersama dengan para ustadz dengan program 1 hari 1 juz. Baik itu live streaming ataupun recorded streaming.
“Bahkan nanti di dalam menerjemahkan Al-Qur`an bisa berlapis-lapis maknanya,” tiba-tiba Yai berkata memecah lamunan saya tentang tadarus saya di waktu dulu.
Saya tambah tercekam. Buyar semua rencana pertanyaan saya ke Yai redaktur senior ini. Tak perlu menanyakannya pun, saya sudah mendapat jawabannya.
Saya mencoba mencari cari apa yang pernah Nabi sabdakan sehubungan dengan tadarus ini. Dari Ibnu Mas’ud R.A. berkata: “Adalah seorang dari kami jika telah mempelajari 10 ayat maka ia tidak menambahnya sampai ia mengetahui maknanya dan mengamalkannya.” Hadis ini shahih riwayatnya ada di tafsir At-Thabari. Dan juga di Qur`an:
أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ
Artinya: “Atau apakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kalian mempelajarinya?” (QS. Al-Qalam, 68: 37)
Rupanya pertemuan dengan redaktur senior malam ini menjadi sarana bagi saya mendapatkan jawaban sekaligus sinar kejernihan.
Lailatul Qodar!
R20





Comments are closed.