Kucing rumahan dan kucing liar menjadi ancaman besar bagi satwa liar, bukan hanya dengan memangsa tetapi juga menyebarkan penyakit, memicu perubahan perilaku, dan bahkan mengganggu kemurnian genetik lewat kawin silang. Di Australia, kucing diperkirakan membunuh lebih dari satu miliar mamalia, ratusan juta burung, dan ratusan juta reptil setiap tahun. Contoh lain datang dari Selandia Baru dengan burung kakapo, dari Hawaii dengan burung nene, hingga Florida dengan kasus woodrat dan macan kumbang yang terkena virus dari kucing rumahan. Upaya pengendalian dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari program sterilisasi hingga teknologi drone dan pagar anti-kucing. Namun peran pemilik kucing rumahan sangat penting, karena keputusan membiarkan kucing bebas berkeliaran bisa berdampak langsung pada satwa liar di sekitar. Kucing rumahan dan kucing liar (feral) adalah hewan yang dekat dengan manusia, tetapi sekaligus menjadi ancaman besar bagi satwa liar. Sejak ribuan tahun lalu kucing mengikuti peradaban manusia dan menyebar ke berbagai belahan dunia, dari daratan luas hingga pulau-pulau kecil yang sebelumnya bebas predator. Dengan kemampuan berburu yang tinggi, kucing beradaptasi cepat dan mengisi celah ekologi yang tidak pernah ada sebelumnya di tempat-tempat baru. Saat ini, populasi kucing dunia diperkirakan mencapai ratusan juta ekor, dan jutaan di antaranya hidup bebas di luar rumah atau sepenuhnya liar. Banyak pemilik yang membiarkan kucing keluar masuk sesuka hati, tanpa menyadari dampaknya bagi satwa di sekitar. Hasilnya, burung, mamalia kecil, reptil, bahkan amfibi menjadi korban setiap hari. Kajian ekologi global menyebutkan kucing adalah salah satu spesies invasif paling merusak di dunia, sejajar dengan tikus dan anjing liar. Kucing feral yang…This article was originally published on Mongabay
Puluhan Spesies Hewan Terancam Punah Gara-gara Kucing
Puluhan Spesies Hewan Terancam Punah Gara-gara Kucing





Comments are closed.