Thu,23 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Republik yang Berangkat dari Pesantren

Republik yang Berangkat dari Pesantren

republik-yang-berangkat-dari-pesantren
Republik yang Berangkat dari Pesantren
service

Sekilas, Berangkat dari Pesantren: Autobiografi KH. Saifuddin Zuhri (Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama bekerja sama dengan Yayasan Saifuddin Zuhri) merupakan kisah hidup seorang ulama, wartawan, aktivis Nahdlatul Ulama, pejuang Hizbullah, sekaligus Menteri Agama. Namun, buku ini sesungguhnya menawarkan sesuatu yang lebih luas daripada catatan perjalanan pribadi. KH. Saifuddin Zuhri tidak sekadar mengenang peristiwa-peristiwa yang pernah dilaluinya, tetapi juga menelusuri akar pembentukan kepemimpinan. Ia menunjukkan bagaimana seorang anak yang tumbuh di tengah langgar, madrasah, sawah, pasar, rumah kiai, dan keluarga ugahari dapat memasuki gelanggang republik tanpa kehilangan kompas batinnya.

Judul buku ini terasa tepat. Kata “berangkat” mengandung arti pergi, bergerak, dan mengambil jarak dari kampung halaman. Akan tetapi, keberangkatan bagi Zuhri bukanlah keterputusan. Ia meninggalkan desanya, tetapi tidak pernah meninggalkan alam pesantren yang telah membentuk watak, cara berpikir, dan cita-citanya. Di sinilah kekuatan utama buku ini terletak. Pesantren tidak dikenang sebagai dunia lama yang telah selesai, melainkan sebagai sumber nilai dan bekal intelektual untuk membaca perubahan zaman, menghadapi pergulatan politik, dan menjalani pengabdian publik.

Terdiri atas 21 bab, buku ini membawa pembaca menyusuri perjalanan hidup Zuhri secara bertahap: mulai dari keluarga dan masa kecilnya di Kauman, pengalaman belajar di pesantren dan bergulat dengan kitab kuning, keterlibatan dalam organisasi, masa pendudukan Jepang, proklamasi kemerdekaan, perang gerilya, hingga pengabdiannya dalam pemerintahan. Susunan tersebut menegaskan bahwa perjalanan Zuhri dari pesantren menuju pusat kekuasaan bukanlah sebuah lompatan yang tiba-tiba. Ia menempuh jalan panjang yang dibentuk oleh didikan orangtua dan para kiai, pengalaman berorganisasi, perang dan kekalahan, jabatan dan tanggung jawab, sakit, serta kehidupan keluarga. Semua pengalaman itu perlahan membentuk dirinya sebagai pemimpin yang tetap berpijak pada nilai-nilai yang dibawanya dari pesantren.

Pesantren sebagai Ekosistem

Zuhri menulis pesantren dengan cara yang jarang. Ia tidak membatasinya pada gedung atau kurikulum. Di masa kecilnya, pendidikan Islam tersebar di serambi masjid, langgar, madrasah, rumah kiai, dan rumah-rumah warga. Santri dari desa sendiri tinggal di rumah masing-masing. Santri dari luar daerah mondok di rumah kiai atau keluarga yang menampung mereka (Zuhri, 2020, hlm. xvii).

Lukisan ini penting untuk pembaca masa kiwari. Banyak orang membicarakan pendidikan karakter dengan bahasa proyek. Zuhri menunjukkan bentuk yang lebih konkret. Anak belajar mengaji, melihat orang tua bekerja, mengenal tetangga, mendengar nasihat ibu, menyaksikan kiai hidup sebagai petani kecil atau pedagang kecil, lalu perlahan menyerap ukuran baik dan buruk. Pendidikan terjadi sepanjang hari. Ruang kelas hanya satu bagian dari proses itu.

Pesantren dalam buku ini tidak tampil sebagai tempat yang steril dari kemiskinan. Anak-anak tetap membantu orangtua. Sebagian bekerja di sawah, pasar, pabrik sabun, perusahaan kecil, atau pabrik gula. Banyak yang akhirnya meninggalkan pengajian karena harus mencari uang (Zuhri, 2020, hlm. xviii-xix). Zuhri kecil melihat godaan itu dari dekat. Ia mengerti bahwa uang menyenangkan. Ia juga melihat risikonya. Waktu belajar dapat habis. Masa depan dapat menyempit sebelum anak sempat memilih.

Di titik itu, ia mengambil keputusan yang menentukan hidupnya: terus belajar. Ibunya memperkuat pilihan tersebut dengan nasihat semenjana. Serap seluruh ilmu dari kiai-kiai di desa selama masih sanggup. Jangan menuruti nafsu sesaat. Bagian masa depan tersedia di masa datang (Zuhri, 2020, hlm. xix). Nasihat ini terdengar biasa, tetapi memuat inti pendidikan. Anak perlu kemampuan menunda. Orang tua perlu menjaga iklim rumah. Guru perlu menjaga kesabaran. Lembaga perlu menjaga arah.

Kemiskinan yang Dicatat dengan Angka

Zuhri kuat tatkala menulis kemiskinan. Ia tidak mengasihani diri. Ia menaruh angka, benda, dan peristiwa kecil. Saat duduk di kelas 5 Sekolah Dasar Bumiputra, ia harus menebus sertifikat tamat sekolah sebesar 50 sen. Ayahnya memperoleh penghasilan sekitar 15 sen sehari. Sertifikat itu setara tiga sampai empat hari kerja ayahnya (Zuhri, 2020, hlm. 1-2).

Dari satu angka, pembaca melihat struktur sosial Hindia Belanda. Anak-anak Bumiputra belajar di sekolah kelas dua. Sekolah itu berdinding papan dan anyaman bambu. Di sisi lain, HIS memakai bahasa Belanda, gedungnya lebih baik, murid dan gurunya tampak rapi, dan mata pelajarannya lebih banyak. Anak sekolah Bumiputra menerima “sertifikat”. Anak HIS menerima “diploma” (Zuhri, 2020, hlm. 1).

Perbedaan istilah itu tampak kecil. Walakin kolonialisme sering bekerja melalui hal-hal kecil. Ia membagi martabat sejak meja sekolah. Ia memberi nama berbeda untuk kemampuan yang seharusnya sama-sama dihargai. Zuhri tidak perlu berpidato panjang tentang ketimpangan. Ia cukup menghadirkan sertifikat 50 sen, papan sekolah, dan penghasilan ayah. Pembaca dapat merasakan dinding sosial yang berdiri di depan anak-anak rakyat.

Bagian ini memberi pelajaran bagi pengambil kebijakan pendidikan hari ini. Biaya kecil bagi negara bisa menjadi beban besar bagi keluarga miskin. Seragam, ijazah, buku, transportasi, iuran kelas, dan kegiatan tambahan dapat menentukan apakah anak bertahan atau keluar. Zuhri menulis pengalaman lama. Masalahnya masih mudah dikenali.

Kitab, Guru, dan Disiplin Belajar

Berangkat dari Pesantren juga menyimpan pelajaran tentang cara belajar. Zuhri memperlihatkan bahwa tradisi pesantren dibangun oleh ritme. Ada madrasah, pengajian, kitab, guru, waktu, dan adab. Ia belajar kitab seperti Sullamut Taufiq dan Ta’limul Muta’allim kepada Kiai Ahmad Syatibi. Ia mengikuti pengajian bandungan setelah subuh. Kiai membaca kitab. Santri menyimak, menangkap makna, dan mengulang (Zuhri, 2020, hlm. 127).

Metode ini tampak sederhana. Namun kesederhanaannya menuntut disiplin. Santri harus hadir. Santri harus mendengar. Santri harus menahan diri dari keinginan cepat selesai. Dalam dunia pendidikan yang gemar mengganti istilah, bagian ini mengingatkan bahwa metode belajar paling dasar tetap sama: duduk bersama guru, membaca teks, mencatat, mengulang, dan menghubungkan ilmu dengan perilaku.

Zuhri tidak menulis pesantren sebagai museum. Ia bergerak dari kitab ke organisasi, dari langgar ke jurnalistik, dari madrasah ke politik. Ia memperlihatkan bahwa tradisi dapat menjadi modal untuk masuk ke dunia luas. Syaratnya, tradisi itu tidak diperlakukan sebagai kebanggaan kosong. Tradisi harus melatih orang membaca keadaan, mengambil keputusan, dan menjaga etika.

Dari Desa ke Gelanggang Politik

Buku ini menjadi hidup ketika Zuhri memasuki dunia organisasi. Ia tidak lahir sebagai pejabat. Ia tumbuh dari jaringan sosial yang bekerja melalui kiai, pemuda, pengajian, surat kabar, dan partai. Pengalaman ini membuatnya memahami politik sebagai kelanjutan dari pendidikan. Politik bukan sekadar perebutan kursi. Politik menjadi cara mengurus cita-cita bersama.

Kekuatan narasi Zuhri terletak pada detail. Ia menyebut tempat, nama, jabatan, suasana rapat, perpindahan kota, dan keputusan organisasi. Kadang detail itu terasa padat. Namun kepadatan itu memberi nilai arsip. Pembaca tidak memperoleh cerita nan licin. Pembaca memperoleh jejak sosial.

Sebagai autobiografi, buku ini tentu membawa sudut pandang penulis. Zuhri menulis dari dalam dunia NU dan pesantren. Ia menilai peristiwa melalui pengalaman dan keyakinannya sendiri. Di titik ini, pembaca perlu memakai dua sikap. Percaya pada kedekatan saksi. Tetap menjaga jarak kritis. Autobiografi memberi akses ke batin pelaku. Autobiografi juga memilih bagian yang ingin diterangkan dan bagian yang ingin dilewati.

Revolusi yang Berbau Tanah

Bagian revolusi memberi tenaga besar pada buku ini. Zuhri mencatat pembentukan Hizbullah dan keterlibatan kaum santri dalam perjuangan bersenjata. Ketika pecah Pertempuran Lima Hari di Semarang titimangsa 15 Oktober 1945, ia membawa satu kompi Hizbullah. Sepuluh kiai yang ahli gerakan rohani dan bekas pendekar pencak ikut mendampingi pasukan itu. Medan pertempuran meliputi Jatingaleh, Candi Lama, Candi Baru, Kota Semarang, dan Genuk (Zuhri, 2020, hlm. 317-318).

Catatan itu menahan sejarah agar tidak berubah menjadi slogan. Revolusi tidak hanya berisi pidato dan tanggal. Revolusi berisi tubuh, jalan, bukit, senjata yang tidak seimbang, rasa takut, dan keberanian yang harus diatur. Zuhri mencatat bahwa pihak Jepang kehilangan lebih dari 100 orang. Di sisi rakyat, sekitar 1.500 orang dari TKR dan kelaskaran gugur (Zuhri, 2020, hlm. 318).

Data itu penting. Ia membuat pembaca mengingat bahwa kemerdekaan tidak turun sebagai hadiah. Ia meminta biaya manusia. Namun Zuhri tidak memuja kekerasan. Ia juga mencatat munculnya pencoleng yang memanfaatkan keadaan untuk merampas harta. Ia mengecam tindakan itu karena perjuangan tidak boleh dikotori oleh perbuatan haram (Zuhri, 2020, hlm. 325).

Di sini pesantren kembali muncul sebagai ukuran moral. Bagi Zuhri, adanya musuh tidak otomatis membebaskan pejuang dari etika. Perang tidak memberi izin untuk mencuri. Kemenangan tidak memberi izin untuk demap. Pelajaran ini terasa dekat dengan kehidupan publik hari ini. Gerakan apa pun mudah kehilangan martabat ketika para pendukungnya merasa semua tindakan sah atas nama tujuan besar.

Menulis sebagai Kerja Perjuangan

Zuhri juga menarik karena ia tidak memisahkan perjuangan dari tulisan. Tahun 1947, ketika Republik menghadapi agresi Belanda dan organisasi bergerak dari satu kota ke kota lain, ia menulis Palestina dari Zaman ke Zaman. Buku itu terbit melalui PB Nahdlatul Ulama yang berpindah dari Surabaya ke Pasuruan, lalu ke Madiun (Zuhri, 2020, hlm. 422).

Fakta ini tampak kecil, tetapi tajam. Di tengah perang, Zuhri tetap menulis. Ia tidak menunggu keadaan tenang. Ia memahami bahwa tulisan dapat menyambungkan pengalaman lokal dengan dunia Islam yang lebih luas. Ia juga tahu bahwa perjuangan perlu dokumentasi. Tanpa catatan, pengalaman akan hilang. Tanpa tulisan, generasi berikutnya hanya mewarisi kabar samar.

Pelajaran praktisnya jelas. Aktivis, guru, dosen, pengelola pesantren, dan pejabat perlu membangun kebiasaan mencatat. Catatan harian, memo rapat, esai pendek, arsip foto, laporan kegiatan, dan testimoni peserta dapat menjadi bahan sejarah. Zuhri memperlihatkan bahwa menulis bukan pekerjaan sisa. Menulis bagian dari tanggung jawab publik.

Keluarga sebagai Mesin Sunyi

Bagian “Kalimat Tasyakkur” membuat buku ini terasa manusiawi. Zuhri mulai menulis naskah pada 24 Januari 1979. Ia berharap pekerjaan selesai dalam dua tahun. Rencana itu patah ketika ia terkena gangguan sirkulasi darah pada jantung titimangsa 6 Agustus 1980. Tiga bulan kemudian, istrinya mengalami kelumpuhan sebelah kiri pada 28 November 1980. Sampai 22 Juli 1983, ia lima kali menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Istrinya empat kali dirawat di rumah sakit yang sama (Zuhri, 2020, hlm. ix-x).

Naskah berhenti saat baru mencapai sekitar 90 halaman tik folio, atau sekitar 18 persen dari keseluruhan naskah (Zuhri, 2020, hlm. x). Ia baru mulai menulis lagi pada 4 Januari 1984 setelah anak-anaknya terus memberi dorongan batin (Zuhri, 2020, hlm. xiii). Di sini pembaca melihat sisi lain kerja intelektual. Buku besar tidak selalu lahir dari tubuh yang sehat, ruang kerja yang rapi, dan waktu yang lapang. Kadang ia lahir dari sakit, jeda panjang, dan keluarga yang menjaga.

Zuhri menulis bahwa ia biasa memakai sistem persklaar, sekali jadi di mesin tik. Setelah sakit, ia harus menulis konsep dengan tangan. Ia hanya sanggup menulis tiga sampai lima halaman sekali tulis, itu pun tidak setiap hari. Putrinya, Annie, mengetik seluruh naskah sampai rampung (Zuhri, 2020, hlm. xiii-xiv).

Bagian ini memberi koreksi pada bayangan kita tentang penulis besar. Di balik nama penulis, ada anak, istri, perawat, dokter, pembantu rumah, sopir, dan kerabat. Keluarga menjadi infrastruktur yang jarang tampak. Zuhri berani menyebut satu per satu. Ia tidak menutupi ketergantungan dirinya pada orang lain. Justru di situ martabatnya muncul.

Negara sebagai Ruang Kaderisasi

Sebagai Menteri Agama, Zuhri tidak berhenti pada pidato keagamaan. Ia memahami negara sebagai ruang kaderisasi. Sejak 1963, ia mengirim pemuda dan mahasiswa ke Kairo, terutama ke Universitas Al-Azhar. Jumlahnya rata-rata 20 orang setiap tahun. Peserta berasal dari dua kategori: lulusan pesantren atau madrasah dan lulusan SMA. Lulusan SMA ia siapkan untuk jurusan umum seperti kedokteran, ekonomi, pertanian, dan teknik. Di antara nama yang ia kirim terdapat Abdurrahman Wahid, Fatimah Alkaf, Muhibuddin Wali, Suryani Thahir, Zakiah Daradjat, Laili Mansur, dan Syathari Ahmad (Zuhri, 2020, hlm. 666-667).

Bagian ini relevan bagi lembaga pendidikan Islam hari ini. Kaderisasi tidak cukup dengan nasihat. Kaderisasi membutuhkan beasiswa, seleksi, jaringan, pengawalan, dan pandangan lintas bidang. Zuhri mengerti bahwa umat memerlukan ahli agama. Ia juga melihat kebutuhan akan dokter, ekonom, insinyur, ahli pertanian, dan tenaga profesional.

Ia menerapkan logika pesantren dalam skala negara. Anak muda harus dibina sejak dini. Keluarga, masyarakat, dan negara harus terlibat (Zuhri, 2020, hlm. 667). Kalimat itu masih dapat dipakai sebagai prinsip kebijakan. Pendidikan tidak boleh berhenti pada penerimaan siswa. Ia harus memikirkan jalur lanjut, mentor, jejaring, dan medan pengabdian setelah lulus.

Perempuan yang Belum Jadi Pusat

Buku ini masih menempatkan laki-laki sebagai pusat cerita. Itu wajar untuk autobiografi seorang tokoh laki-laki dari generasi awal republik. Namun bagian tentang perempuan tetap penting. Istri Zuhri aktif sebagai Ketua Dua PB Muslimat bidang pendidikan dan Ketua Pengurus Rumah Bersalin Muslimat (Zuhri, 2020, hlm. xi). Di bagian lain, rumah di Jalan Hang Tuah terkait dengan Rumah Bersalin Muslimat NU, yang dikelola tokoh-tokoh perempuan seperti Ibu Wahid Hasyim, Ibu Suparman, Ibu Rahmat Mulyomiseno, Ibu Ilyas, dan istri Zuhri sendiri. Rumah bersalin itu memiliki dokter ahli kandungan dan dokter ahli anak (Zuhri, 2020, hlm. 711).

Data ini membuka ruang kritik. Sejarah pesantren dan NU sering ditulis melalui kiai, rapat, partai, perang, dan kementerian. Padahal kerja sosial perempuan bergerak melalui pendidikan, kesehatan ibu, organisasi, rumah bersalin, dan pengelolaan keluarga. Zuhri memberi bahan, tetapi belum selalu memberi panggung yang cukup. Pembaca sekarang dapat meneruskan pekerjaan itu dengan menulis sejarah perempuan pesantren secara lebih berkanjang.

Kritik terhadap Buku

Berangkat dari Pesantren kuat sebagai kesaksian. Walakin kekuatan itu sekaligus membatasi buku ini. Zuhri menulis dari posisi pelaku. Ia dekat dengan tokoh-tokoh yang ia ceritakan. Ia membawa kesetiaan organisasi. Ia menulis dengan niat pertanggungjawaban moral kepada keluarga, kawan seperjuangan, dan masyarakat (Zuhri, 2020, hlm. xv). Oleh karena itu, beberapa bagian terasa membela. Konflik politik tidak selalu ia uraikan dengan jarak analitis yang dingin.

Buku ini juga kadang terlalu rinci dalam menyebut nama dan hubungan keluarga. Bagi pembaca umum, bagian itu dapat memperlambat tempo. Walakin bagi pembaca sejarah, rincian itu bernilai. Nama, tempat, jabatan, dan hubungan sosial dapat menjadi bahan untuk membaca jaringan ulama, aktivis, dan pejabat pada abad ke-20.

Kritik liyan menyangkut bobot suara. Suara Zuhri sangat dominan. Suara santri lain, perempuan, lawan politik, kelompok non-NU, dan warga biasa muncul melalui sudut pandangnya. Ini bukan cacat fatal. Autobiografi memang bergerak dari “aku”. Tetapi pembaca perlu melengkapi buku ini dengan arsip lain, terutama bila ingin memahami peta politik Islam Indonesia secara lebih lengkap.

Warisan yang Dapat Dipakai

Arkian, nilai utama buku ini terletak pada kegunaannya. Ia dapat dibaca sebagai bahan sejarah, pendidikan karakter, manajemen organisasi, kepemimpinan publik, dan etika menulis. Dari pesantren, Zuhri belajar disiplin dan adab. Dari kemiskinan, ia belajar membaca ketimpangan. Dari organisasi, ia belajar menyusun jaringan. Dari revolusi, ia belajar keberanian dan batas moral. Dari keluarga, ia belajar menerima bantuan. Dari negara, ia belajar pentingnya kaderisasi.

Beberapa pelajaran dapat langsung diterapkan. Pertama, pendidikan perlu ekosistem. Sekolah, keluarga, guru agama, tetangga, dan organisasi harus bekerja bersama. Kedua, anak muda perlu belajar menunda kesenangan. Waktu belajar harus dijaga dari godaan yang menghabiskan perhatian. Ketiga, gerakan sosial perlu arsip dan tulisan. Pengalaman yang tidak dicatat akan hilang. Keempat, kemenangan politik harus dijaga oleh etika. Tujuan baik tidak membenarkan tindakan buruk. Kelima, kaderisasi perlu rencana panjang, beasiswa, mentor, dan jaringan.

Zuhri menutup hidupnya dalam buku ini dengan kesadaran bahwa jabatan bukan alasan untuk membesarkan diri. Ia menyebut dirinya pemimpin kecil. Ia tahu kepemimpinan dekat dengan tanggung jawab. Ia juga tahu bahwa pemimpin dapat tergelincir bila kehilangan kejujuran (Zuhri, 2020, hlm. 753).

Berangkat dari Pesantren pantas dibaca ulang karena ia memberi jawaban yang jarang diberikan buku kepemimpinan modern. Seorang pemimpin tidak selesai dibentuk oleh pelatihan singkat. Ia dibentuk oleh rumah, guru, kitab, kerja, kemiskinan, organisasi, konflik, tulisan, keluarga, dan keberanian mengoreksi diri. Saifuddin Zuhri berangkat dari pesantren. Dalam buku ini, ia mengajak pembaca melihat bahwa asal yang sederhana dapat menjadi bekal untuk mengurus urusan besar, asal orang tidak memutus tali dengan nilai yang membentuknya.


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.