Pada Hari Anak Nasional, hari ini, kita merayakan hak setiap anak untuk tumbuh dalam keadaan aman, dihormati, dan didukung. Tahun ini, UNICEF menyambut baik Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) yang diinisiasi pemerintah Indonesia.
Suatu inisiatif penting yang mengakui bahwa melindungi anak dari kekerasan tidak hanya memerlukan undang-undang dan layanan yang kuat. Tapi juga lingkungan yang mendukung di tempat anak tinggal, belajar, bermain, dan berinteraksi secara daring.
Maniza Zaman, Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, menyatakan Indonesia telah menunjukkan komitmen dan kepemimpinan yang kuat dalam memajukan hak serta kesejahteraan anak. Kemajuan yang signifikan telah dicapai dalam memperkuat undang-undang dan kebijakan perlindungan anak, memperluas layanan bagi anak dan keluarga, serta menempatkan perlindungan anak sebagai prioritas tinggi dalam agenda nasional.
“Upaya-upaya ini menjadi landasan yang kuat untuk memastikan setiap anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal,” kata Maniza.
Pada saat yang sama, kata dia, tantangan masih tetap ada. Berdasarkan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, lebih dari separuh anak Indonesia berusia 13 hingga 17 tahun pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan dalam hidup mereka.
Menurut dia, banyak di antara mereka mengalami kekerasan di tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman. Termasuk di rumah, di sekolah, dan semakin sering di ruang digital.
Ketika UNICEF menanyakan kepada anak-anak dan kaum muda tentang makna ruang aman bagi mereka, jawaban yang diberikan sangat kuat dan jelas. “Mereka terutama menyampaikan dua hal yang sangat penting bagi mereka: merasa aman dari kekerasan dan bahaya, serta merasa diterima, didengarkan, dan dipercaya,” tutur Maniza.
Maniza menegaskan, inilah alasan mengapa ruang aman sangat penting. Mewujudkan dunia yang lebih aman bagi anak-anak memerlukan lebih dari sekadar sistem dan layanan. Hal tersebut juga memerlukan hubungan yang saling mendukung dan lingkungan tempat anak-anak merasa aman, dihargai, dan didengarkan.
“Orang tua, pengasuh, guru, tenaga kesehatan, pemimpin agama, anggota masyarakat, anak-anak, dan kaum muda semuanya memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang membuat setiap anak merasa didukung dan dihormati,” kata Maniza berpesan.






Comments are closed.