Arina.id – Nilai tukar rupiah hari ini, Rabu 20 Mei 2026, kian terseok-seok melemah 37 poin atau 0,21 persen menjadi Rp17.743 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.706 per dolar AS. Bahkan diprediksi hari ini akan tembus Rp17.800 per dolar AS.
Seperti disampaikan Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede, Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,00 persen untuk menjaga stabilitas rupiah, mengingat kurs ini telah melemah sebesar 5,73 persen year to date per 19 Mei 2026.
“Hari ini, rupiah diperkirakan akan berada di kisaran Rp17.650–Rp17.800 per dolar AS,” kata Josua dalam analisisnya terkait melemahnya rupiah yang tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia berdiri ini, seperti dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan, saat ini sentimen lainnya ialah pasar menunggu Bank Indonesia (BI) mengumumkan kenaikan suku bunga BI untuk periode Mei 2026. Para ekonom sebelumnya juga menyampaikan pandangan berbeda mengenai arah BI-Rate antara tetap pada level 4,75 persen atau naik ke level 5 persen, menghadapi nilai masalah tukar rupiah ini.
Hari ini Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan kebijakan suku bunga dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode April 2026. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke level 5 persen layak untuk dilakukan bank sentral dalam kondisi saat ini.
Adapun soal penyebab pelemahan rupiah? Josua Pardede menjelaskan penyebabnya dipengaruhi ekspektasi terhadap sikap hawkish dari The Fed yang terus mendominasi pasar keuangan domestik. “Ekspektasi terhadap sikap hawkish dari The Fed terus mendominasi pasar keuangan domestik, menyebabkan rupiah melemah,” katanya.
Ekspektasi tersebut juga tercermin dari pasar obligasi AS dengan imbal hasil meningkat di semua tenor. Imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik 8 basis points (bps) menjadi 4,67 persen, sementara imbal hasil obligasi tenor yang lebih panjang mencapai level tertinggi sejak 2007.
Adanya ekspektasi tersebut menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menurun sebesar 3,46 persen juga dipengaruhi aksi jual investor pasca Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan penghapusan beberapa perusahaan dari indeks pada pekan lalu.





Comments are closed.