Ada fenomena menarik dalam kehidupan kebudayaan Indonesia beberapa tahun terakhir. Di tengah masyarakat yang semakin religius, puisi-puisi Sapardi Djoko Damono justru semakin banyak dibaca. Potongan bait “Aku Ingin” beredar di media sosial. “Hujan Bulan Juni” terus dikutip lintas generasi. Orang menghadiahkan buku puisinya saat menikah, membacanya ketika berduka, atau sekadar mencari jeda dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.
Pertanyaannya, mengapa?
Padahal, Sapardi hampir tidak pernah berkhotbah tentang agama. Puisinya tidak sibuk memperdebatkan surga dan neraka, tidak mengajarkan benar dan salah, juga tidak menawarkan tafsir teologis tertentu. Tapi, banyak orang justru merasakan pengalaman spiritual ketika membacanya.
Barangkali, fenomena ini mengajak kita melihat kembali makna religiositas dalam kehidupan masyarakat Indonesia hari ini.
Selama beberapa dekade terakhir, agama semakin hadir dalam ruang publik. Rumah ibadah bertambah, kajian keagamaan berkembang, literatur keagamaan mudah diakses, dan teknologi digital membuat berbagai ceramah dapat dinikmati kapan saja. Ini adalah perkembangan yang wajar dalam masyarakat yang menghargai kebebasan beragama.
Tapi, di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan sosial yang tidak sederhana. Polarisasi politik pernah menyisakan luka sosial. Ujaran kebencian mudah beredar di ruang digital. Krisis ekologis semakin nyata. Kekerasan terhadap kelompok rentan masih terjadi. Korupsi dan berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan belum sepenuhnya hilang dari kehidupan publik.
Situasi ini menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah religiositas hanya berkaitan dengan ritual dan identitas, atau juga menyangkut cara manusia memandang sesama dan alam di sekitarnya?
Keseimbangan Hidup
Dalam antropologi, agama tidak hanya dipahami sebagai seperangkat doktrin. Antropolog Amerika, Clifford Geertz, melihat agama sebagai sistem makna yang membantu manusia memahami kehidupannya. Sementara dalam banyak tradisi Nusantara, pengalaman spiritual sering hadir melalui hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya.
Sawah bukan sekadar lahan produksi. Laut bukan sekadar ruang ekonomi. Gunung bukan sekadar sumber tambang. Hutan bukan sekadar kawasan yang dapat dieksploitasi. Alam adalah ruang tempat manusia belajar tentang keseimbangan hidup.
Mungkin karena itulah puisi-puisi Sapardi terasa akrab bagi masyarakat Indonesia. Puisinya dipenuhi hujan, daun, pohon, angin, bunga, kayu, akar, sungai, dan langit. Alam dalam puisi Sapardi bukan dekorasi. Ia adalah bagian dari percakapan manusia dengan kehidupan.
Dalam “Hujan Bulan Juni”, misalnya, hujan tidak datang untuk menguasai pohon berbunga. Ia hanya hadir, memberi kehidupan, lalu membiarkan yang dicintainya tumbuh dengan caranya sendiri. Ada spiritualitas yang bekerja secara diam-diam di sana. Spiritualitas yang tidak lahir dari hasrat menguasai, tetapi dari kesediaan merawat.
Dalam tradisi Nusantara, sikap semacam ini sesungguhnya tidak asing. Berbagai masyarakat adat mengenal tata hubungan antara manusia dan alam yang dibangun di atas penghormatan dan keseimbangan. Tradisi sasi di Maluku, subak di Bali, atau berbagai kearifan lokal masyarakat pesisir dan pegunungan menunjukkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Kehidupan adalah jejaring yang saling bergantung.
Sapardi tidak sedang menjelaskan tradisi-tradisi itu. Tapi, puisinya memiliki kepekaan yang serupa. Dengannya, barangkali, yang sedang dipertahankan Sapardi bukanlah sebuah ajaran agama tertentu, melainkan kemampuan untuk mengagumi kehidupan.
Kemampuan ini terasa semakin penting di tengah kehidupan kontemporer. Teknologi membuat manusia semakin terhubung, tetapi tidak selalu semakin dekat. Informasi semakin melimpah, tetapi perhatian semakin pendek.
Media sosial memberi ruang bagi setiap orang untuk berbicara, tetapi sering kali membuat kemampuan mendengar menjadi semakin langka. Kita hidup di zaman ketika segala sesuatu mudah diperdebatkan. Tetapi tidak semua hal mudah dirasakan.
Sapardi seolah mengingatkan bahwa religiositas mungkin tidak selalu dimulai dari perdebatan tentang kebenaran. Ia bisa dimulai dari kesediaan memperhatikan hujan, mendengar angin, menyaksikan pohon berbunga, atau memahami kesedihan orang lain.
Ruang Resonansi
Filsuf Jerman, Hartmut Rosa, menggunakan istilah resonansi untuk menggambarkan hubungan manusia dengan dunia di sekitarnya. Menurutnya, krisis masyarakat modern bukan hanya soal ekonomi atau politik, tetapi juga hilangnya kemampuan manusia menjalin hubungan yang bermakna dengan sesama, alam, dan dirinya sendiri.
Jika memakai perspektif itu, puisi-puisi Sapardi menghadirkan ruang resonansi. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar tentang menguasai, melainkan juga tentang mendengar. Bukan sekadar memiliki, tetapi merawat. Bukan sekadar berbicara, tetapi memahami.
Di sinilah sastra menemukan relevansinya dalam politik kebudayaan Indonesia. Selama ini, kebudayaan sering diukur melalui jumlah festival, pertunjukan, atau berbagai pencapaian yang dapat dihitung. Semua itu penting. Namun, kebudayaan juga memiliki tugas yang lebih halus. Ia menjaga kualitas batin sebuah masyarakat.
Sastra membantu manusia melatih empati. Puisi membantu manusia belajar melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Keduanya mengingatkan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, kecanggihan teknologi, atau tingginya gedung-gedung yang dibangun. Kemajuan juga diukur dari kemampuan masyarakatnya menjaga kemanusiaan.
Mungkin, itulah sebabnya Sapardi tetap terasa dekat dengan Indonesia hari ini. Bukan karena ia menawarkan jawaban atas berbagai persoalan bangsa. Bukan pula karena ia sedang mengajarkan teologi tertentu. Ia hanya mengingatkan sesuatu yang sering terlupakan di tengah kehidupan modern: bahwa religiositas tidak selalu lahir dari kemampuan manusia berbicara tentang Tuhan, tetapi juga dari kemampuannya menghormati kehidupan.
Dan barangkali, di tengah Indonesia yang semakin ramai oleh berbagai perdebatan identitas, pelajaran paling sunyi dari puisi-puisi Sapardi justru ini: bahwa jalan menuju Yang Ilahi tidak selalu ditempuh dengan suara yang paling keras, tetapi kadang dimulai dari kemampuan mengasihi manusia, merawat alam, dan mengagumi hujan yang turun dengan sederhana.




Comments are closed.